Dorong Ekspor Ikan Hias Kembali Bergairah

Komoditas dan nilai ekspor ikan hias di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) semakin lesu dan tidak bergairah. Sementara, Indonesia ditargetkan menjadi negara eksportir ikan hias nomor satu di dunia. Karena itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia melalui Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (SKIPM) Palembang turun langsung ke daerah. Upaya tersebut dilakukan sebagai bukti kehadiran negara untuk mendorong pelaku usaha dan industri perikanan dalam meningkatkan produksi dan kualitas ekspor ikan hias, khususnya di Bumi Sriwijaya.

 

 

 

PALEMBANG, SIMBUR – Hampir tiga bulan media ini mengungkap tabir industri dan mutu ikan hias di Sumsel. Selama masa pandemi, kondisi ekspor ikan hias di provinsi ini makin terpuruk dan memprihatinkan. Komoditas ekspor ikan hias di Sumsel seakan hidup segan mati tak mau. Meski demikian, Sumsel menjadi “kolam susu” dan “lahan basah” bagi investor sekaligus pemain ikan hias dari berbagai daerah lainnya di Indonesia. Hal itu dikarenakan minat dan permintaan masyarakat Sumsel sendiri terhadap ikan hias masih tinggi. Salah satu penyebab lesunya ekspor, dikarenakan budidaya di Sumsel masih terbatas, sedangkan hasil tangkapan nelayan pun menurun akibat ketersediaan ikan hias di alam semakin berkurang.

SimburSumatera.com mencoba menelusuri kebenaran informasi tersebut serta melakukan cek dan ricek fakta di lapangan. Media ini telah mengunjungi dan melakukan konfirmasi terhadap nelayan, penangkar, penjual, dan pemain lokal di pasar ikan yang tersebar di sejumlah wilayah Sumsel.

Sebut saja Bunga, pedagang ikan hias di pasar ikan kawasan 16 Ilir Palembang. Dia mengatakan bahwa ikan hias jualannya diperoleh dari nelayan. “Langsung dari nelayan. Harganya sudah tinggi dari sana karena susah menangkap ikannya,” ungkap Bunga (bukan nama sebenarnya) kepada SimburSumatera.com belum lama ini.

Mendapat informasi tersebut, media ini menemui dan melakukan konfirmasi kepada Edi (50 tahun), nelayan pengelola bagan tancap di perairan Muara Sungsang dan Selat Bangka. Dia mengaku menangkap ikan juga untung-untungan. “Kami bekerja menangkap ikan di bagan. Di sini apa rezeki yang masuk diambil. Kalau lagi kosong ya kosong. Kalau lagi ada (ikan) yang besar atau kecil pokoknya kami ambil. Termasuk ikan hias. Tergantung musim dan rezeki. Kalau lagi ada rezeki, bisa masuk omzet Rp30-40 juta per bulan,” ungkap Edi medio Juli lalu.

Menurut Edi, ikan yang didapat hasil tangkapan, mereka jual ke kapal-kapal di Muara Sungsang. “Banyak hasil tangkapan bagan dijual ke pemborong ikan. Omzet mereka (pemborong) bisa miliaran. Kalau semua ikan masuk, per hari saja keuntungan pemborong ikan bisa mencapai ratusan juta. Apalagi kalau kapalnya banyak,” ujar Edi.

Muhammad Agung Fajrin (20), penangkar sekaligus pemain ikan channa (gabus hias) yang bekerja di kios ikan dan akuarium di kawasan Kebun Bunga Kecamatan Sukarami, Kota Palembang juga mengatakan, harga ikan selama ini mengikuti zaman. Dari penjualan melambung saat sebelum pandemi, kini harga ikan hias turun.

“Harga ikan hias akuarium itu biasa, ada yang tinggi dan rendah. Sekarang lebih banyak yang hobi  aquascape daripada ikan hias akuarium dan predator,” ungkap Agung yang berstatus mahasiswa diploma tiga (D3) Program Studi Manajemen Informatika Fakultas Ilmu Komputer Universitas Sriwijaya.

Pantauan di sejumlah toko dan lapak akuatik di kota Palembang, harga ikan hias jenis mas koki jenis oranda, black moor, mutiara dengan kisaran Rp10 ribu-Rp100 ribu per ekor bahkan ada yang mencapai Rp1juta per ekor. Ikan komet Rp3ribu-Rp5ribu per ekor. Harga ikan cupang kisaran Rp15 ribu per ekor. Ikan koi ukuran sedang dominan jenis ochiba dan taisho dijual dengan kisaran harga Rp15-Rp30 per ekor. Harga ikan guppy jenis mozaik dan blue moscow antara Rp10ribu-Rp70 ribu per ekor. Ikan palty, moly, dan swordtail dengan harga rata-rata Rp2 ribu-Rp5ribu per ekor. Kemudian, ikan blackghost seharga Rp15 ribu-Rp20 ribu per ekor. Hanya ikan discus dengan harga minimal Rp80 ribu-Rp250 ribu per ekor.

Selanjutnya, harga ikan hias aquascape seperti neon tetra, redfin, danio zebra, corydoras, glolfish, glassfish, alamandae kisaran Rp2  ribu-Rp10 ribu per ekor. Sementara, harga ikan predator  seperti arwana silver brasil kisaran Rp125 ribu, arwana super red tembus di atas Rp8 juta, louhan Rp25 ribu-Rp350 ribu, oscar Rp40ribu-Rp150 ribu, aligator gar Rp45 ribu, parrot Rp60 ribu, piranha Rp100 ribu lebih, peacock bass (Pbass), TSN catfish, RTC catfish, leopard catfish, gengis khan (hiu air tawar) kisaran Rp45 ribu-Rp150 ribu, belida Rp40 ribu-Rp200 ribu, palmas Rp30 ribu-Rp75 ribu, green terror Rp40 ribu-Rp90 ribu. Branding ikan gabus hias, channa mampu menembus pasar Rp45 ribu-Rp30 juta.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sumsel, Widada Sukrisna SPi MSi telah berapa kali dihubungi seakan belum berkenan memberikan informasi terkait kelesuan budidaya dan hasil tangkapan nelayan sebagai komoditas ekspor ikan hias di Sumsel. “Saya di Jakarta. Masih di jalan,” ujar Widada memutus sambungan telepon selulernya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Stasiun Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (SKIPM) Palembang, Sugeng Prayogo SP MSi mengatakan, upaya untuk menggairahkan kembali ekspor ikan hias di Sumsel, pihaknya selalu mendorong pelaku usaha untuk meningkatkan produksi ataupun mendorong UMKM untuk bisa melakukan ekspor produk perikanan ke luar negeri.

“Sudah beberapa kali dilakukan. Cuma memang kendalanya saat ini  produksinya. Karena masih tangkapan dari alam sehingga ada pengaruh dari hasil tangkapan atau ketersediaan ikan tersebut di alam yang mulai menurun,” ungkap Sugeng Prayogo, ditemui di kantornya, jalan akses Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Kamis (21/10).

Menurut Sugeng Prayogo, ekspor ikan hias di Sumsel saat ini hanya ada beberapa jenis. Yang pasti dari alam. Ada jenis ikan arwana brazil, black lancer, botia, flying fox, gurame, serandang, tiger Fish, dan tilan. Berdasarkan data Januari-Oktober 2021, lanjut dia, jumlah ekspor ikan hias Sumsel baru 154.975 ekor. Adapun nilai ekspornya hanya Rp225.089.550 dengan tujuan negara Singapura.  Dirincikannya, ekspor ikan arwana brazil 2.590 ekor senilai Rp34.965.000, black lancer 50 ekor senilai Rp54.000, botia 118.747 ekor senilai Rp160.308.450. Selanjutnya, ekspor ikan flying fox 650 ekor senilai Rp702.000, gurame hias 2.440 ekor senilai Rp1.647.000, serandang 30 ekor senilai Rp32.400, tiger fish 268 ekor senilai Rp361.800, dan tilan  30.200 ekor senilai Rp27.018.900.

Dikatakannya pula, ada cukup banyak jenis ikan yang bisa diekspor. Akan tetapi, menurut dia, memang saat pandemi rutinitas atau lalu lintas ekspornya mulai menurun. “Menurunnya (ekspor ikan hias) terkait dengan penerbangan internasional dari (Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II) Palembang yang sementara ini masih ditutup sehingga untuk ekspor harus melalui pelabuhan transit di  (Bandara) Soekarno-Hatta (Jakarta). Ini memakan waktu yang cukup lama. Ini mengakibatkan lalu lintas ekspor di Sumsel, salah satunya ikan hias ini, ada penurunan,” jelasnya seraya menambahkan, untuk ekspor ikan hias dari Sumsel ditarget ke dua negara tujuan, yakni Malaysia dan Singapura.

Masih kata dia, minat masyarakat cukup tinggi. Karena itu, pedagang kerap memasukkan ikan hias dari luar Sumsel. “Kalau setiap hari pasti ada ikan masuk. Di Sumsel untuk budidaya ikan hias kan masih terbatas. Kebutuhan ikan hias di pasar ikan kemungkinan masih banyak peminatnya sehingga mereka memasukkan ikan dari daerah lain,” terang Sugeng Prayogo.

Banyaknya ikan hias masuk ke Sumsel, tambah Sugeng, diperlukan upaya mengatasi hama dan penyakit ikan karantina (HPIK). Pihaknya pun memiliki kegiatan. Namanya Pemantauan Penyakit Ikan Karantina. Kegiatan tersebut rutin dilakukan  setiap tahun di dua periode untuk musim penghujan dan musim kemarau.

“Kegiatannya kami turun ke kabupaten/kota khususnya ke pembudidaya ikan termasuk di Kota Palembang. Kemungkinan masuknya penyakit ikan karantina dari tempat lain bisa diminimalkan. Karena mereka memasukkan ikan dari tempat lain ke Palembang pasti di tempat asal sudah ada tindakan karantina dan pengecekan kesehatan ikan,” paparnya.

Disebutkannya pula, hasil penelitian tahun 2020, penyakit ikan di Sumsel di antaranya ditemukan di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) berupa TSV dan WSSV, sedangkan di Kabupaten Banyuasin ditemukan TSV, WSSV, TiLV, HPM-EHP, dan IMNV.  Bukan hanya itu, ada pula daerah yang disurvei namun tidak ditemukan penyakit ikan, yakni Ogan Ilir, OKU Timur, Lubuklinggau, Musi Rawas dan Pali.

Sugeng Prayogo menambahkan, inovasi yang dilakukan pihaknya sekarang untuk mendorong pelaku usaha. SKIPM Palembang memberikan kemudahan perizinan. Di kantornya, kata dia, SKIP Palembang bekerjasama dengan Asperindo. Ada gerai pelayan dari salah satu  anggotanya.

“Jika ada teman yang mengirim ikan dalam jumlah kecil seperti cupang dan louhan, setelah mendapat pelayanan dari kami mereka langsung bisa mengirim melalui gerai yang tersedia. Cukup membantu karena selama ini setelah dapat pelayanan kami, mereka harus kirim ke luar. Saat pelaku usaha memiliki ikan yang terkena wabah penyakit dapat langsung berkonsultasi dengan tim kami yang ada di kantor ini,” terangnya.

Ditanya market place jual-beli ikan hias melalui e-commerce yang menjamur, pihaknya tak dapat membendung. Kata dia, untuk jual beli online  belum ada. Itu masuk ke aplikasi berbasis android yang akan dikembangkan. “Ikan yang dilalulintaskan karena sistem informasinya sudah terpusat. Saat melakukan registrasi di tempat asal dengan tujuan ke Palembang kami selalu dapat informasi. Nomor sertifikasinya sudah ada. Jenisnya apa, jumlahnya berapa, masuk tanggal berapa. Artinya, terdeteksi. Kecuali jika mereka tidak mengurus dokumen di tempat asal atau ilegal, itu tidak yang terdeteksi,” umbarnya.

Dirinya berharap SKIPM Palembang dapat melakukan ekspor perdana ikan hias di Sumsel. “Kami belum ada ekspor perdana. Komoditasnya juga belum ada,” jelasnya sambil mengakui, SKIPM Palembang tahun lalu belum masuk 10 besar penilaian internal jajaran KKP. “Masih harus banyak belajar dengan stasiun di daerah lain,” ujarnya.(maz)