- Ratusan Pasis Sesko TNI Dibekali Strategi Penguatan Posko Komando Bencana di Tanah Air
- Meracik Fondasi PFII, Regulasi, Modal Asing, dan Peran Bank Daerah
- Pangdam II/Sriwijaya Siap Pacu Pembangunan Koperasi Desa Kelurahan Merah Putih hingga Pelosok Desa
- Konferkab PWI OKU Selatan Ricuh, Peserta Walk Out Massal
- Konflik Organisasi Pusat Memanas, BEM Kampus Guru di Palembang malah Segel Rektorat
Jelajah Jalur Pansela, Menatap Mata Pencaharian Rakyat untuk Bertahan Hidup Puluhan Tahun
Dulu Punya Puluhan Becak, Kini Tinggal Satu yang Mangkal

Ngalor-ngidul dilakoni awak media ini selama berapa hari di Kota Bandung. Terlebih jarak antara penginapan dan lokasi Kongres Wartawan tidak jauh dan dapat ditempuh dengan berjalan kaki.
Siang itu suhu di Kota Kembang cukup terik dan menyengat. Hampir mencapai 32 derajat Celcius. Awak media ini mencoba order taksi online melalui aplikasi di smartphone. Tiba-tiba terlihat satu becak di perempatan Jl Lembong. Tampak seorang pengemudinya duduk di dalam becak. Media ini pun mengurungkan niat order taksi online lalu memilih untuk naik becak.
Pria paruh baya itu bernama Diman (59). Dia mengaku menarik becak hanya untuk bertahan hidup dan menafkahi keluarganya. “Sudah 30 tahun saya narik becak. Dulu becak saya puluhan. Sekarang tinggal satu ini buat cari makan,” ungkapnya.
Ditanya soal becak yang beroperasi di Bandung, kata dia, masih ada tapi tidak banyak. “Saya sendiri yang mangkal di sini,” katanya.
Berbekal badan gempal, Diman kerap dipanggil orang untuk menggunakan jasa pijat dan urut. “Banyak orang yang menghubungi minta diurut oleh saya. Hanya sampingan. Menarik becak tetap jadi pekerjaan utama saya,” pungkasnya.



