Suarakan Perdamaian, Kejayaan Masa Lalu Relevan untuk Masa Depan

# Simbur Gelar Ekspedisi Mitra Pasamayan

 

 

SEMARANG, SIMBUR – Redaksi SimburSumatera.com (media Simbur) melaksanakan reportase khusus ke Pulau Jawa. Peliputan untuk menyusun laporan jurnalistik Simbur kali ini dikemas dalam rangkaian Ekspedisi Mitra Pasamayan 2023. Kegiatan digelar dalam rangka Hari Perdamaian Internasional pada 21 September 2023. Dalam pelaksanaannya, Ekspedisi Mitra Pasamayan 2023 dilakukan di dua daerah, yakni Semarang, Jawa Tengah pada 1-2 September 2023 dan Bandung, Jawa Barat pada 25-26 September 2023.

Muhammad Azhari, pemimpin umum sekaligus pemimpin redaksi Simbur mengatakan, Ekspedisi Mitra Pasamayan 2023 ini mencakup kegiatan eksplorasi dan susur sejarah, wisata, dan budaya persaudaraan dan perdamaian yang telah digagas tiga kerajaan di Nusantara, yakni Sriwijaya, Sunda Galuh, dan Kalingga. “Misi dan pesan damai di Indonesia telah digaungkan sejak zaman kerajaan pada abad ke-6. Penting untuk memaknai nilai-nilai budaya masa lalu sebagai bekal investasi generasi penerus di masa depan,” ungkapnya.

Azhari menambahkan, persaudaraan dan perdamaian itu indah. Mencegah serta menghindari konflik dan perpecahan tentu menjadi tugas semua elemen bangsa. Terutama memasuki tahun politik. “Kami akan menyuarakan pesan perdamaian dalam laporan jurnalistik hasil Ekspedisi Mitra Pasamayan 2023,” ungkapnya.

Mitra Pasamayan, lanjut Azhari, merupakan perjanjian antara Kerajaan Sriwijaya dan Sunda yang ditulis pada sebuah prasasti dalam bahasa Melayu dan Sunda. Isinya tentang kesepakatan dua kerajaan tidak saling menyerang. Akan tetapi, harus saling membantu dan maju bersama. Kesepakatan itu ditawarkan juga oleh Raja Sriwijaya Dapunta Hyang Sri Jayanasa namun ditolak penguasa Kerajaan Kalingga, Ratu Shima. Ketika Sriwijaya akan menyerang Kalingga, Raja Sunda, Terussbawa berhasil mendamaikan dua kerajaan yang bertikai karena masih memiliki hubungan kekerabatan dan persaudaraan.

Ekspedisi dimulai dari Jawa Tengah, lanjut dia, sekaligus menelusuri jejak sejarah budaya Ratu Shima yang merupakan putri pendeta di Kerajaan Melayu Sribuja di Sumatera yang mampu membawa Kalingga mencapai masa kejayaan hingga menjadi moyang raja-raja di Tanah Jawa. “Ekspedisi jurnalistik kami lebih cenderung mengungkap nilai-nilai persaudaraan dan perdamaian sebagaimana telah dituangkan dalam Mitra Pasamayan. Masalah mengapa Mitra Pasamayan selama ini kurang begitu digaungkan, khususnya di Palembang Sumatera Selatan yang telah mengklaim sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya, nanti akan terjawab sendiri secara ilmiah dan alamiah melalui reportase ini,” ujarnya.

Azhari menambahkan, ekspedisi Mitra Pasamayan sekaligus mengeksplorasi wisata dan sejarah budaya yang diimplementasikan melalui produk pers dan kehumasan. Bagaimana wartawan dan humas menyuarakan pesan dan misi perdamaian demi kemajuan bangsa dan negara.

Dikatakannya, Hari Perdamaian Internasional 2023 mengangkat tema “aksi untuk perdamaian: ambisi untuk tujuan global”. Tema itu relevan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SGDs) dengan 17 indikator.

Tujuh belas indikator SGDs terdiri dari tujuan pembangunan tanpa kemiskinan, nihil kelaparan, kesehatan dan Kehidupan Baik, serta pendidikan berkualitas. Selain itu, adanya kesetaraan gender, ketersediasn air bersih dan sanitasi, energi terjangkau, pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi.

Selanjutnya, industri, inovasi dan infrastruktur, mengurangi ketimpangan dalam dan antarnegara, keseimbangan kota dan komunitas, tanggung jawab konsumsi dan produksi. Kemudian, adanya aksi untuk iklim, kehidupan bawah air, kehidupan di daratan, perdamaian, Keadilan dan kekuatan lembaga, serta kemitraan mencapai tujuan.

Semua tujuan tersebut telah tersirat dalam Mitra Pasamayan. Salah satunya kesetaraan gender. “Ratu Shima merupakan manifestasi dan cerminan kesetaraan gender di Nusantara. Perempuan Sumatera mampu dan berhasil menjadi penguasa di Tanah Jawa,” tandasnya.

Dikonfirmasi terpisah, Ketua Umum Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas), Boy Kelana Soebroto mengatakan, misi dan perdamaian dapat diterapkan dalam bidang kehumasan. “Konteks perdamaian keselarasan, kolaborasi itu semua hal baik. Harus didorong. Dengan adanya kolaborasi dan narasi positif akan membuat reputasi Indonesia semakin baik,” ungkap Boy Kelana di sela Konvensi Humas Indonesia, Sabtu (2/9) di Patra Hotel and Conventions Semarang.

Menurut Boy, bukan hanya di Indonesia, sejarah dan budaya masa lalu dapat digali agar dapat bermanfaat di masa depan. “Tidak hanya di Indonesia. Apa yang terkait sejarah masa lalu yang kira-kira ke depan bisa relevan akan kami lakukan,” jelasnya.

Boy menambahkan, implementasi dalam kehumasan, dapat dilakukan dengan meningkatkan kompetensi humas. Tujuannya agar dapat menyuarakan narasi positif, dalam hal ini perdamaian kepada masyarakat. “Kami akan mendorong humas Indonesia meningkatkan kompetensi dan kapasitasnya. Harus bisa menyampaikan narasi positif dengan Indonesia bicara¬† baik sehingga masyarakat bisa menggaungkan hal tersebut,” ungkapnya.

 

Masa Peradaban yang Terpenggal pada Koleksi Museum

Mengunjungi Museum Ranggawarsita di Kota Semarang, Provinsi Jawa Tengah menjadi rangkaian ekspedisi Simbur kali ini. Bukan hanya menelusuri data dan informasi terkait Kerajaan Kalingga di bawah kepemimpinan Ratu Shima, media ini juga mengapresiasi semua koleksi museum milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah itu.

Tiket masuk seharga Rp6 ribu per orang tak menyurutkan jumlah pengunjung. Terutama saat hari Minggu ketika salah satu gedung serbaguna kawasan museum tersebut disewakan untuk acara resepsi pernikahan. Banyak anak-anak mengunjungi museum yang berlokasi di kawasan Kalibanteng Kota Semarang.

Berbagai koleksi benda purbakala, masa perjuangan, hingga era pembangunan ada di sana. Miniatur candi dan replika arca, ruang audiovisual, patung manusia dan hewan purba hingga kehidupan masyarakat prasejarah, lukisan tiga dimensi, senjata tradisional seperti keris dan kapak batu, termasuk peralatan dan produk kebudayaan seperti keramik, batik, wayang, dan aneka kriya masyarakat Jawa lainnya ada di sana.

Tim telah mengunjungi dan mendokumentasikan semua koleksi museum dengan dua lantai tersebut. Meski demikian, tidak ditemukan informasi detail mengenai sejarah Kerajaan Kalingga yang dipimpin Ratu Shima pada abad ke-6 (sekitar tahun 648 – 674 M). Justru keturunan Kalingga pada Dinasti Sanjaya abad ke-8 yang lebih mendiminasi koleksi museum tersebut. Tim mencoba mengkaji sejumlah referensi, apa mungkin karena Ratu Shima bukan perempuan asli Jawa sehingga tidak begitu dieksplorasi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

Diketahui, Ratu Shima adalah ratu penguasa Kerajaan Kalingga yang terletak di pantai utara Jawa Tengah sekitar tahun 674 M. Ratu Sima dikabarkan lahir tahun 611 M di Melayu Sribuja sekitar Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Ratu Shima merupakan istri Raja Kartikeyasinga yang menjadi Raja Kalingga (648 – 674) M. Ketika suaminya, Raja Kartikeyasinga meninggal, Ratu naik takhta Kerajaan Kalingga dengan gelar Sri Maharani Mahissasuramardini Satyaputikeswara.

Ratu Sima atau Shima putri Hyang Syailendra putra Santanu adalah istri Raja Kalingga Kartikeyasinga. Ayah Kartikeyasinga adalah Raja Kalingga (632-648) M. Sementara, ibu Kartikeyasinga berasal dari Kerajaan Melayu Sribuja yang beribu kota di Palembang. Kerajaan Melayu Sribuja. Kerajaan Melayu Sribuja dikalahkan Sriwijaya tahun 683 M. Raja Melayu Sribuja adalah kakak dari ibu Prabu Kartikeyasinga. Ratu Shima tinggal di daerah yang dikenal sebagai wilayah Adi Hyang (Leluhur Agung), sekarang bernama Dieng. Perkawinan Kartikeyasingha dengan Sima melahirkan dua orang anak, yaitu Parwati dan Narayana (Iswara).

Peninggalan Ratu Shima dan Kerajaan Kalingga abad ke-6 dapat ditelusuri melalui peninggalan sejarah berupa prasasti dan candi di sejumlah daerah di Jawa Tengah. Prasasti Tukmas ditemukan di lereng barat Gunung Merapi tepatnya di Dusun Dakawu, Desa Lebak, Kecamatan Grabag, Magelang di Jawa Tengah. Selain itu, Prasasti Sojomerto ditemukan di Desa Sojomerto yang terletak di Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Kemudian, Prasasti Rahtawun ditemukan di sekitar puncak Situs Puncak Sanga Likur di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Selanjutnya, Candi Angin terletak di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Jepara, Jawa Tengah. Kemudian, Candi Bubrah ditemukan di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Jepara, Jawa Tengah.

Referensi tersebut minim ditemukan di museum milik provinsi Jawa Tengah itu. Masyarakat Kota Semarang dan sekitarnya sendiri tidak banyak yang mengetahui sejarah Kerajaan Kalingga dan Ratu Shima. Seperti ada masa peradaban yang terpenggal pada koleksi museum tersebut.

“Nanti ke sini lagi saja. Hari (Minggu) libur pegawai dan pemandunya libur. Setahu saya, di museum ini tidak ada data khusus tentang Ratu Shima dan Kerajaan Kalingga. Semua koleksi dipajang terpisah. Ada juga yang lagi dipinjam pemerintah daerah untuk pameran keliling,” ungkap petugas museum yang meminta namanya tidak ditulis.

Media ini mencoba menghubungi Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Tengah dan Dinas Kebudayaan Kota Semarang namun belum berhasil mendapatkan konfirmasi sejarawan dan budayawan lokal di daerah itu. Hari, dari Disbudpar Kota Semarang ketika dikonfirmasi belum bisa menjelaskan lebih rinci mengenai Kerajaan Kalingga dan Ratu Shima. “Sedang kami dalami dengan melibatkan para sejarawan, arkeologi, arsitektur, akademisi, budayawan dan seterusnya,” ungkapnya melalui pesan WhatsApp.

Selain Semarang, media ini mencoba menelusuri jejak sejarah budaya dari Kabupaten Wonosobo. Melintasi daerah Pekalongan, hingga Jepara. Seorang biro wisata swasta di kawasan Dieng, Pundi menjelaskan bahwa yang lebih dikenal saat ini peninggalan Dinasti Sanjaya abad ke-8 sebagai cikal bakal kerajaan besar di Pulau Jawa. “Ratu Shima dan Kalingga kan abad ke-6 Dinasti Syailendra. Peninggalan keturunannya pada abad ke-8 masa Dinasti Sanjaya yang banyak ditemukan di kawasan Dieng,” ujarnya.(red)