- Jaksa Sita Truk dan Alat Berat Perusahaan Terkait Korupsi Distribusi Semen
- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
- Diduga Menghalangi Penyidikan Kasus Korupsi, Staf Ahli Bupati Muba dan Oknum Pengacara Jadi Tersangka
- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
Jelajah Jalur Pansela, Menatap Mata Pencaharian Rakyat untuk Bertahan Hidup Puluhan Tahun
Restoran di Cilegon Pasang Portal, Hak Penumpang Bus sebagai Konsumen Dijegal

Dari ratusan restoran yang pernah dikunjungi, rumah makan Darma Jaya yang terletak di Jl Raya Merak, Merak, Mekarsari, Kecamatan Pulomerak, Kota Cilegon, Banten perlu ditindaklanjuti. Pasalnya, lokasi rumah makan di kawasan Pelabuhan Merak itu terselubung di balik gedung lain dengan area tertutup nekat memasang portal di rumah makan yang idealnya menjadi ruang publik.
Parahnya lagi, sekuriti di rumah makan itu telah melarang penumpang bus yang transit makan di sana keluar dari pekarangannya tanpa izin sopir bus masing-masing. Meski demikian, penumpang tersebut tetap menerobos keluar untuk mengambil uang di gerai ATM terdekat.
“Izin sopir dulu kalau mau keluar (area rumah makan). Kalau tidak ada penumpang yang makan (di restoran tersebut) biasa langsung jalan. Penumpang bisa ditinggal bus,” kelit sekuriti yang tidak mau menyebut namanya.
Diketahui, rumah makan tersebut dikelola istri sekuriti. Anaknya yang menjadi kasir. Media ini lalu mengonfirmasi sopir bus, Pantis terkait sekuriti yang melarang penumpang bus keluar area rumah mereka. “Benar (sopir yang bilang), agar tidak ada penumpang yang tertinggal,” kelit sopir tersebut.
Dari kejadian itu, sekuriti dan pengelola rumah makan, termasuk sopir yang diduga kongkalikong tidak menyadari bahwa tindakan tersebut telah menjegal hak penumpang bus sebagai konsumen rumah makan. “Ada undang-undang yang melindungi konsumen. Masa tidak boleh penumpang bus cari rumah makan lain karena harga di restoran itu mahal. Saya makan nasi ikan sarden di situ harganya Rp30 ribu. Biasanya cuma Rp10 ribu di tempat lain,” ujar Ibnu, warga Lampung yang bekerja di Jakarta, salah satu penumpang bus tersebut.(red)



