Festival Sriwijaya Jangan Dilombakan

# Misteri Surat Keputusan Juri pada Festival Sriwijaya XXIX—2021

 

 

Festival Sriwijaya XXIX digelar selama sepekan di Graha Budaya Jakabaring, Palembang, 22-28 Oktober 2021. Meski telah selesai dilaksanakan, kegiatan yang dipayungi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan (Disbudpar Sumsel) itu masih meneteskan rintik kekecewaan beberapa tim kesenian daerah yang terlibat sebagai peserta. Terlebih surat keputusan (SK) juri dalam menetapkan pemenang tidak dibacakan saat pengumuman pada closing ceremony Festival Sriwijaya XXIX, Kamis (28/10) lalu.

 

 

PALEMBANG, SIMBUR  –  Sejumlah tim kesenian dari beberapa daerah di Sumsel yang dinobatkan menjadi juara dalam beberapa kategori nyaris luput memerhatikan SK juri. Baik SK juri dari panitia maupun SK juri untuk menetapkan pemenang. Tersiar kabar, SK juri dalam menetapkan pemenang tidak dibacakan saat pengumuman. Informasi yang diterima, beberapa delegasi utusan daerah bahkan ada yang kurang berkenan menerima hadiah atas kemenangan yang keabsahannya tidak jelas, terutama dalam proses penjurian festival yang digadang-gadang menjadi event internasional.

Media ini mencoba menelusuri kebenaran semua informasi tersebut. Dari video closing Festival Sriwijaya XXIX—2021 yang di-posting di akun Youtube, jelas bahwa pembawa acara dan/atau panitia tidak membacakan SK juri saat mengumumkan pemenang lomba pagelaran budaya.

Cua Nugraha, ketua Dewan Kesenian Empat Lawang mengatakan, saat pengumuman pemenang Festival Sriwijaya XXIX—2021, memang tidak dibacakan SK juri yang disampaikan pembawa acara. Dia mengaku, hingga kini pihaknya belum menerima salinan SK sebagai pertanggungjawaban juri terhadap para pemenang.

“Tidak ada kayaknya SK juri (yang dibacakan). Saat pengumuman tidak membahas SK juri. Penyampaian dari pihak MC bahwa keputusan juri adalah mutlak, tidak dapat diganggu gugat. Kalau tidak ada SK juri, berarti (pemenang) masih bisa diganggu gugat. Seharusnya, juri dapat menjelaskan dan mempertanggungjawabkan keputusan hasil penilaian terhadap pemenang,” ungkap Cua, Senin (1/11).

Dirinya juga berharap agar pagelaran budaya Festival Sriwijaya tidak lagi dilombakan. “Tolong Festival Sriwijaya dijadikan sebagai pagelaran biasa tanpa diperlombakan. Setiap kesenian masing-masing daerah kabupaten/kota di Sumsel berbeda. Belum ada orang yang bisa menilai secara umum,” ujarnya.

Demikian diungkap Khairul Kaswan, Ketua Dewan Kesenian Ogan Ilir. Menurut dia, sebatas pelaku seni/seniman, mereka merasa puas dengan pelaksanaan Festival Sriwijaya kali ini. “Alangkah lebih indah setelah habis festival dan habis pengumuman, ada bedah pendapat antara peserta dan dewan juri,” ujar Khairul.

Kalau memang mau go international, lanjutnya, dia mengaku setuju saja. “Perlu juga dievaluasi. Duduk bersama, bergandengan tangan, curhat. Lebih bagus seperti itu,” imbaunya.

Terkait SK juri dalam menetapkan pemenang, Kaswan mempertegas bahwa memang tidak dibacakan tapi langsung disebutkan nama-nama pemenang. “Kalau tidak salah, tidak dibacakan. Tidak ada SK. Langsung diumumkan nama-nama pemenang. Harusnya ada, dewan juri yang membacakan (SK) lalu menandatanganinya,” paparnya.

Dari berbagai lomba, penjurian banyak juga yang komplain. ”Kalau kami lihat, juklak dan juknis kayaknya tidak dipakai,” ujarnya.

Khairul menambahkan, dirinya selalu siap kalau ada undangan dari Disbudpar Provinsi Sumsel untuk hadir saat pertemuan antara peserta dan juri. “Kami juga dapat menambah pengalaman. Kami dari daerah perlu menimba ilmu. Menimba ilmu dewan juri. Siapa tahu kami di daerah bisa menerapkan sama seperti yang diharapkan dewan juri,” harapnya.

Kalaupun mau dibawa ke level yang lebih besar, sambungnya, bagaimana peserta di daerah. Kalau mau diadakan festival tingkat internasional, dikatakannya, akan lebih repot lagi. Dulu pernah beberapa kabupaten, waktu itu Festival Sriwijaya mereka memberikan masukan kepada Disbudpar Sumsel.

“Alangkah indahnya jika Festival Sriwijaya ini tidak dilombakan. Kami ubah cukup pergelaran tapi tetap diberi uang pembinaan. Sempat berapa kali jalan dan tidak ada gejolak. Kalaupun mau dilombakan, untuk juri, alangkah lebih indah kalau mengambil dari luar seperti Jawa, Bangka, Jambi, Sumbar,” ujarnya seraya menambahkan, saat daerahnya tampil, (juri tersebut) dia tidak menilai. “Itu mungkin lebih objektif,” ujarnya.

Terpisah, Rusli Priyadi, Ketua Dewan Kesenian Kota Prabumulih mengatakan, kalau Festival Sriwijaya dibawa ke internasional, dia juga menyarankan untuk duduk bersama antara para seniman, para pelaku seni yang bertahun-tahun ikut Festival Sriwijaya.

“Kalau memang dibuat tampil internasional, mari berbenah. Jangan sampai memalukan. Entah itu mengumpulkan pelaku seni. Kalau bisa, tidak usah ada lomba, pagelaran saja agar tidak ada standarnya,” terangnya sembari menyarankan untuk melakukan introspeksi, apakah memang sudah layak atau sudah siap.

Ditanya Prabumulih yang biasanya jadi juara umum namun tidak tampil pada festival kali ini, Pri sapannya menjawab, karena penghargaan teater tidak ada. Menurut dia, andalan yang paling wah itu teater. “Tari dan lagu ada juara 1,2, dan 3. Kok teater tidak ada. Sebuah naskah jika tidak digarap oleh sutradara yang baik, tidak bisa tampil,” terangnya.

Menurut dia, sebenarnya event terbesar di Sumsel itu dari Festival Sriwijaya. “Jangan digarap secara asal-asalan. Kami juga pernah ada ganjalan. Pernah tidak jadi juara umum. Saat itu yang jadi juara umum tidak ada satu pun juara pertama. Karena banyak dapat trofi, bisa jadi juara umum. Itu ada keanehan,” sergahnya.

Salah seorang juri yang berhasil dikonfirmasi, Hasan MSn menegaskan, SK juri sudah ada dari Disbudpar Sumsel. “Iya. Ada dari Disbudpar Sumsel. Ada SK-nya. Oh, (SK juri menetapkan pemenang) tidak dibacakan ya. Saya ada jadwal bersamaan, jadi tidak bisa hadir saat pengumuman,” ungkap Hasan.

Karena pemberitaan sudah berkembang, lanjut Hasan, artinya juri bertangggung jawab penuh untuk mengantisipasi itu. Dijelaskannya, dari penjurian, penetapan juri, ya karena ada enam juri, ditambah juri tamu. Itu memang penempatannya sudah sesuai dengan porsinya masing-masing. Dia memastikan, tidak ada unsur intervensi dari pihak mana pun.

“Kami juri berusaha netral menilai. Itu karena ada beberapa pertanyaan juga dari peserta. Salah satunya dari Empat Lawang. Itu sudah dikonfirmasi. Mereka menerima apa yang kami sampaikan. Kami dewan juri mau difasilitasi Disbudpar Sumsel untuk bertemu dengan peserta yang komplain. Ingin secepatnya  biar tidak berlarut-larut,” harap dosen salah satu perguruan tinggi di Palembang itu.

Hasan menambahkan, juri bekerja semaksimal mungkin dan seobjektif mungkin. “Tidak ada intervensi dari pihak mana pun. Sesuai kapasitas masing-masing. Dalam penilaian pasti dada pandangan lain, perdebatan, tapi dikorelasikan lagi, akhirnya ketemu,” terangnya.

Ditanya lagi soal SK juri, Hasan kembali menegaskan bahwa sudah diberikan sebelum pelaksanaan Festival Sriwijaya. “SK-nya sudah. SK fisiknya belum ada di tangan. Baru bentuk pdf. Dikirim sebelum pembukaan Festival Sriwijaya. Mudah-mudahan nanti Disbudpar Sumsel memfasilitasi kawan-kawan yang komplain menemukan persoalannya di mana,” kata dia.

Lanjut Hasan, sebenarnya sejak ada festival pasti ada komplain. “Barangkali ketidaksiapan mengikuti lomba secara keseluruhan. Setiap Festival Sriwijaya, pasti ada,” ujarnya.

Mengenai Festival Sriwijaya tidak dilombakan, Hasan menyambut baik. “Namanya budaya. Di setiap event budaya di daerah mana pun tidak dilombakan tapi bentuknya pagelaran saja. Nanti ada duit pembinaan, diskusi, sharing tentang kebudayaan masing-masing,” terangnya.

Disinggung Festival Sriwijaya akan dibawa ke level internasional, Hasan sangat mendukung. “Berharap Festival Sriwijaya sudah cukup umurnya menjadi suatu event kebudayaan yang dapat diangkat ke level internasional. Upayanya cukup baik, perlu di-support bersama,” tegasnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sumatera Selatan, Aufa Syahrizal SP MSc menanggapi dingin kisruh antara peserta dan juri pascaperhelatan Festival Sriwijaya XXIX—2021. “Kami sudah berupaya maksimal berbuat yang terbaik dengan para juri yang profesional. Setiap kompetisi pasti ada yang terbaik dari yang baik. Bagi yang belum berhasil, pasti akan menunjukkan reaksi ketidakpuasan. Hal itu normatif. Di dunia ini  tidak ada yang sempurna, kecuali malaikat  atau hal yang bersifat exacta, seperti 2 x 2 = 4,” jelas Aufa kepada Simbur.

Aufa berharap permasalahan tersebut tidak perlu dibesar-besarkan. “Masalah ketidakpuasan salah satu di antara peserta, saya rasa tidak perlu dibesar-besarkan. Kami malahan berterima kasih dengan para dewan juri yang sudah bekerja maksimal dan profesional sesuai kemampuan mereka masing-masing,” tegasnya.

Ditanya Festival Sriwijaya yang akan dibawa ke level internasional, Aufa memastikan dinas yang digawanginya mempersiapkan perencanaan lebih matang. “Event Festival Sriwijaya akan diangkat ke level internasional seperti yang diharapkan oleh Menteri Parekraf RI Sandiaga Uno. Hal itu tentunya menjadi tantangan bagi kami.  Kami harus mempersiapkannya lebih awal dengan perencanaan yang lebih matang dan lebih mantap,” tandasnya.

Diketahui, pemenang Festival Sriwijaya XXIX – 2021 terdiri dari penyanyi terbaik I diraih Lahat, penyanyi terbaik II Pagaralam, penyanyi terbaik III Lubuklinggau. Kemudian, aransemen terbaik I OKU Timur, aransemen terbaik II Empat Lawang, dan aransemen terbaik III Banyuasin.

Selanjutnya, penampilan tari terbaik I dari OKU Timur, penampilan tari terbaik II Muara Enim, dan penampilan tari terbaik III Banyuasin.  Penata tari terbaik I dari OKU Timur, penampilan tari terbaik II Muara Enim, dan penata tari terbaik III Banyuasin. Selain itu, penulis naskah terbaik dari Musi Rawas, penata musik terbaik Ogan Ilir, penata artistik terbaik Banyuasin, dan pemain terbaik Lahat.

Tampil sebagai juara umum yakni OKU Timur. Sementara, Palembang, Musi Banyuasin, OKI, dan OKU Selatan belum berhasil membawa pulang trofi dari kategori apa pun. Untuk Prabumulih, OKU, Pali, Muratara tidak mengikuti festival tersebut. (maz)