- Ratusan Kades Hadiri Pelantikan SMSI Lahat
- Tekankan Objektivitas dalam Sidang Pankar Pamen dan Pama Triwulan I Tahun 2026
- Satu Warga Tewas, Puluhan Pasien Rumah Sakit di Manado Dievakuasi akibat Gempa dan Tsunami
- Pastikan Aset Negara di Bawah TNI AD Tertib Administrasi dan Punya Kepastian Hukum
- Jembatan SP 4 Plakat Tinggi Ambrol, Kondisi Jalan Mendesak Diperbaiki
Jejak Melayu Jambi di Nganjuk, Hidup Damai Seribu Tahun
Prasasti Anjuk Ladang merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Medang atau Kerajaan Mataram Kuno periode Jawa Timur. Dikeluarkan Empu Sindok, pendiri Dinasti Isyana yang memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno dari Jawa Tengah ke Jawa Timur. Berdasarkan informasi, saat ini Prasasti Anjuk Ladang menjadi salah satu koleksi Museum Nasional Republik Indonesia di Jakarta.
Prasasti Anjuk Ladang mencatat kemenangan Raja Empu Sindok selaku Raja Mataram Kuno atas serangan pasukan Melayu Jambi. Saat itu penduduk lokal Anjuk Ladang mampu mempertahankan wilayahnya dan berhasil memukul mundur pasukan Melayu Jambi.
Nama Anjuk Ladang sendiri berasal dari kata “anjuk” yang berarti “kemenangan” dan “ladang” yang berarti “tanah.” Istilah tersebut bersumber dari Prasasti Anjuk Ladang yang ditemukan di Desa Candirejo, Kecamatan Loceret, Nganjuk. Prasasti ini diperkirakan ditulis pada abad ke-10, tepatnya tahun 937 Masehi.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Nganjuk, Amin Fuadi membenarkan, nama Nganjuk berasal dari kata Anjuk Ladang. Menurut Amin, sesuai catatan yang tertera pada Prasasti Anjuk Ladang, ada nama tokoh yang memimpin masyarakat setempat dalam upaya membantu Empu Sindok.
“Terutama saat menghalau atau mengalahkan pasukan dari Melayu (Jambi) yang mengejar Empu Sindok dan pasukannya. Kondisi Kerajaan Mataram Kuno saat itu di Jawa Tengah sedang porak-poranda oleh serangan pasukan Melayu. Sebenarnya juga akan dilakukan pemindahan Kerajaan ke Jawa Timur karena adanya bencana yang bertubi-tubi sehingga kondisinya melemah,” ungkap Amin Fuadi, dikonfirmasi Simbur, Rabu (24/12).
Dari sejumlah literatur, Prasasti Anjuk Ladang mendokumentasikan peran penting masyarakat setempat dalam mendukung raja melawan serbuan pasukan Melayu Jambi. Menghargai jasa masyarakat, Raja Empu Sindok lantas mendirikan sebuah monumen untuk memperingati kemenangan. “Anjuk Ladang” atau dikenal juga dengan Jayastamba menjadi simbol kebanggaan, keberanian dan kehormatan bagi masyarakat Nganjuk, Provinsi Jawa Timur.



