- Ratusan Kades Hadiri Pelantikan SMSI Lahat
- Tekankan Objektivitas dalam Sidang Pankar Pamen dan Pama Triwulan I Tahun 2026
- Satu Warga Tewas, Puluhan Pasien Rumah Sakit di Manado Dievakuasi akibat Gempa dan Tsunami
- Pastikan Aset Negara di Bawah TNI AD Tertib Administrasi dan Punya Kepastian Hukum
- Jembatan SP 4 Plakat Tinggi Ambrol, Kondisi Jalan Mendesak Diperbaiki
Megaproyek KEK Tanjung Api-Api Mangkrak
PALEMBANG-Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Api Api yang sementara ini masih dalam tahap pembangunan, direncanakan akan menjadi pusat hilirisasi industri Sumatera Selatan khususnya sektor pertanian. Hal tersebut disampaikan Kepala Bappeda Provinsi Sumatera Selatan, Ekowati Ratnaningsih Setianingrum dalam acara seminar nasional 2016 Dies Natalis ke-53 Fakultas Pertanian Unsri di Ruang Serbaguna Pasca sarjana Universita Sriwijaya.
Rencana ini, sejalan dengan dibangunnya Pelabuhan Tanjung Api Api dan pelabuhan Laut Dalam Tanjung Carat. Hanya saja menurut Ekowati, sampai saat ini belum ada investor yang melirik lokasi Tanjung Carat yang menyebabkan proses pembangunannya belum bisa terealisasi. Dengan kata lain, megaproyek KEK Tanjung Api-Api boleh dibilang mangkrak.
“Kawasan Khusus Tanjung Api Api diproyeksikan untuk menjadi kawasan hilirisasi produk-produk pertanian Sumsel. Karena ditahun 2017 itu ada program percepatan dan perluasan hilirisasi industri yang berbasir lokal dimana sektor pertanian dan energi menjadi hal yang diprioritaskan,” terangnya.
Hal tersebut ditargetkan tercapai di tahun 2017 karena sesuai dengan arah 14 kebijakan Pemprov Sumsel di tahun tersebut. Dan khusus untuk kawasan Tanjung Api Api, kegiatan ekspor dan impor Sumsel akan di fokuskan ditersebut.
Selanjutnya Ekowati juga menyampaikan harapan pemprov sumsel agar para civitas akademi bisa membantu pemerintah sehingga pada Tahun 2017 kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan berdasarkan hasil-hasil research unggulan.
Di sisi lain, Gubernur Sumsel, Alex Noerdin tahun 2015 lalu telah merancang berbagai proyek wilayah Tanjung Api Api dengan total menghabiskan dana sekitar Rp1,193 triliun. Pertama yakni membangun dermaga penyeberangan kapal cepat di Tanjung Api Api. DED sudah disiapkan dan diperkirakan menghabiskan dana hingga Rp10 miliar menggunakan dana APBD Sumsel tahun 2015. Kedua, penyelesaian pelabuhan peti kemas untuk sisi laut dan sisi darat dengan perkiraan dana Rp. 200 miliar. Ketiga, pengembangan lapangan parkir di pelabuhan penyeberangan Tanjung Api Api seluas 12.810 meter persegi dengan dana Rp180 miliar.
Saat ini, ada pemandangan yang berbeda di sekitar wilayah Pelabuhan penyeberangan Tanjung Api-api. Berjarak 2 km sebelum pintu masuk pelabuhan penyeberangan, sejumlah pekerja sedang sibuk mengerjakan konstruksi tiang pancang gudang petikemas sebagai salah satu fasilitas pelabuhan. Satu alat berat crane digunakan untuk menancapkan puluhan paku bumi di dalam tanah. Satu alat berat lainnya difungsikan meratakan jalan akses proyek.
Wartawan surat kabar Simtra harus menempuh waktu sekitar 2,5 jam dari Palembang untuk sampai ke lokasi proyek, Senin sore (29/08). Jalan masuk proyek masih berupa tanah liat merah yang dilapisi dengan batuan koral. Diketahui dari informasi papan proyek yang tertera di dinding pos pengawas, proyek gudang petikemas itu bersumber dari dana APBN Tahun Anggaran 2016 dengan biaya Rp17 Miliar. Pengerjaan proyek selama 180 hari (6 bulan) dan telah dimulai sejak 2 Mei lalu.
Secara kasat mata, pengerjaan proyek masih tahap pengerjaan pondasi. Dengan waktu yang tersisa banyak pihak yang mengkhawatirkan proyek itu tidak selesai tepat waktu. Mengingat kondisi di lapangan masih banyak tahapan yang belum selesai dilakukan. Bahkan, ditambah dengan intensitas cuaca yang cenderung turun hujan membuat kondisi lapangan menjadi licin dan berlumpur. “Proyek itu mustahil jadi tepat waktu. Sekarang saja masih tahap pasang tiang pancang, sedangkan waktu pengerjaan tersisa dua bulan lagi,” ujar salah seorang praktisi pelabuhan yang tidak mau disebutkan namanya kepada Simtra.
Selain itu, ungkapnya, dirinya menilai membangun gudang petikemas di wilayah tersebut tidak efisien dan hanya menghabiskan anggaran saja. Pasalnya, alur jalan di wilayah perairan itu dangkal sehingga kalaupun proyek itu jadi hanya kapal berukuran kecil saja yang dapat bersandar di dermaga itu. “Seharusnya pemerintah melakukan kajian terlebih dahulu untuk membangun gudang petikemas sehingga tidak terkesan menghamburkan uang negara. Proyek boleh asal jadi, tetapi kalau tidak berfungsi bagaimana?” tegasnya.
Kondisi lain di lapangan, di depan gerbang proyek terdapat dua warung yang menjajakan makanan kecil dan minuman ringan. “Kami berjualan di sini sejak proyek dimulai. Para pekerja biasa makan di warung kami,” ujar salah seorang penjual. Selain pekerja, ungkapnya, pegawai kapal juga sering mampir untuk makan di warung. Sebab di ujung pintu masuk proyek tersebut terdapat satu dermaga berbentuk huruf T untuk berlabuh kapal penyeberangan.
“Dermaga itu ramainya hari sabtu dan minggu, pak. Soalnya banyak orang yang mancing di dermaga itu,” jelasnya. Pintu masuk dermaga masih ditutup dengan pintu yang terbuat dari seng. Jalan masuknya pun masih semak belukar. Sesampai di dermaga, terdapat satu perahu jukung yang sedang bersandar di bibir dermaga. Dua orang nelayan sibuk memperbaiki jala jaring untuk menangkap udang dari atas kapal jukung.
Menariknya, dari perbincangan Simtra dengan Pendi, salah satu nelayan asal Jawa itu terungkap kalau populasi ikan di daerah itu sudah sedikit jumlahnya. Hal ini dikarenakan ikan-ikan di wilayah perairan itu banyak mati disebabkan oleh limbah industri pabrik yang ada di daerah tersebut. “Ikan-ikan banyak mati, mas. Airnya juga dangkal kalau di sini. Kalau air pasang saja, kapal penyeberangan bisa berlabuh di dermaga ini,” ungkap nelayan yang berdomisili di Pangkalan Balai itu.
Sebenarnya, lanjut Pendi, kapal penyeberangan tidak diperbolehkan berlabuh di dermaga itu dikarenakan pengerjaan proyek gudang petikemas masih belum selesai. Namun, fakta di lapangan dermaga yang menjadi ikon baru di wilayah itu sering digunakan pekerja kapal untuk menyandarkan kapalnya untuk mencari makan. Selain itu, di bibir dermaga itu juga kerap kali digunakan sebagian masyarakat sebagai lokasi memancing ikan.
Sebelumnya, staf ahli gubernur bidang pembangunan, Yohanes H Toruan mengatakan pihaknya sedang fokus menarik para investor untuk membangun pelabuhan Tanjung Api-api. “Untuk TAA, pokoknya kita masih mengusahakan bagaimana itu dipercepat pembangunannya khususnya dengan dana investor. Kalau tentang pelabuhan peti kemas di TAA silahkan tanyakan langsung orang Tanjung Api-Api. Disanakan ada Mou-nya, tetapi yang jelas dampak ekonomi untuk masyarakat disana pasti akan bagus,” ungkapnya.
Hal senada pun dikatakan Gubernur Sumsel, Alex Noerdin, kalau soal pelabuhan Tanjung Api-api dirinya terkesan sedang tidak ambil pusing.“Coba kamu tanya sama PU,” ujarnya saat dikonfirmasi wartawan Simtra seusai acara Kuliah Umum Peran Perguruan Tinggi Mewujudkan Revolusi Mental di auditorium UIN Raden Fatah, Selasa (13/09). Sedangkan terkait pembangunan gudang peti kemas di TAA, Alex menyatakan proyek peti kemas selesai tepat waktu sambil mengangguk menjawab pertanyaan Simtra. “Mangrak? Nggak lah,” bantahnya dengan ekspresi terkejut.(mrf/mch)



