Bandung Lautan Cahaya, Gudang Selatan Jangan Dilupakan

# Menelusuri Tempat Hiburan Malam di Kota Kembang

 

 

Dunia gemerlap di Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat kembali bergairah setelah pelonggaran aturan diberlakukan. Pertumbuhan ekonomi mulai dirasakan warga sekitar tempat-tempat hiburan malam. Simbur coba mengamati lebih dekat suasana kehidupan malam di Kota Kembang pascapandemi. Berikut laporan selengkapnya.

 

BANDUNG, SIMBUR РMalam menunjuk pukul 23.00 WIB. Lalu lalang berbagai mobil mewah berseliweran di jalan kota. Minibus warna putih melaju perlahan, menyusuri Jalan Gudang Selatan, Merdeka, Kecamatan Sumur Bandung, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat, Rabu (1/6) dini hari.

Masuk ke sebuah gang dalam kawasan militer, dijumpai sejumlah bangunan. Terlihat juru parkir kewalahan mengatur derasnya kendaraan pengunjung. Sekuriti berambut cepak siaga tanpa terjaga. Ladies court (LC) berjajar menunggu cuan. Ada tiga night club di area bekas gudang senjata zaman kolonial. Di antaranya Waiting Room, Roots, dan Warehouse. Maraknya kembali tempat hiburan malam menambah Kota Bandung semakin bercahaya.

“Tempat dugem di sini banyak. Setahu saya kawasan ini dulunya bekas gudang senjata zaman kolonial. Banyak juga orang luar (warga negara asing) yang datang. Jangan sampai dilupakan,” ungkap salah satu pengunjung yang tak mau namanya disebut.

Media ini beranjak masuk ke dalam hall. Saat tengah malam jumlah pengunjung pun makin ramai. Berbagai jenis minuman impor dengan harga familiar berbaris menghias meja para clubbers. Semua pengunjung tampak menikmati suasana malam. Bermandikan cahaya warna-warni dengan sentuhan laser berbias efek asap tipis-tipis yang disemburkan gun smokes. Mereka dimanjakan lantunan house music yang dipandu seorang disk jockey (DJ).

Diungkap salah satu DJ kepada Simbur. Menurut sumber yang tak ingin namanya diungkap bahwa tempat tersebut cukup banyak dikunjungi warga negara asing. Di samping, masyarakat lokal yang tergolong elite. Belum lagi warga dari Jakarta dan sekitarnya yang biasa menghabiskan waktu liburan ke Bandung saat akhir pekan (weekend).

“Ada tiga tempat di sini. Selama pembatasan sejak dua tahun lalu, tetap buka seperti biasa,” ungkapnya seraya menambahkan, sebenarnya hari itu dia sedang off (libur). “Karena ada teman-teman dari Palembang makanya saya beri perjamuan di sini,” jelas dia.

Akan halnya Isaa, warga negara India yang datang sendirian berbaur dengan pengunjung lainnya, memenuhi lounge. Mengenakan jaket kerudung dan topi, pemuda berjanggut lebat itu maju ke depan sambil bergoyang. Musik semakin keras hingga menungundang pengunjung lainnya meninggalkan meja, mendekati stage untuk berdisko. “Saya baru 1,5 tahun di Indonesia. Saya kerja di Bandung,” ungkap Isaa kepada Simbur.

Menurut Isaa, dirinya sangat menikmati suasana hiburan malam di kota Bandung. Meski belum lama tinggal di Paris van Java, Isaa cukup fasih berbahasa Indonesia, khususnya dialek Sunda. “Saya sangat menikmati hiburan malam di Kota ini,” jelasnya.

Dikonfirmasi terpisah, Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung, Nuzrul Irwan Irawan mengatakan baru tahu mengenai hal ini. “Saya baru tahu. Intinya begini. Turis (yang datang ke Bandung) juga mau lihat apa dulu (hiburan malam atau kegiatan seni),” ungkap Irwan kepada Simbur.

Irwan menambahkan, warga negara asing yang datang ke tempat hiburan malam biasanya bukan sekadar berwisata. Ada juga yang bekerja dan menetap di kota ini. “Biasanya kalau warga India, bekerja di tekstil. Memang pabrik tekstil masih banyak di kabupaten. Pasti yang terdekat Kota Bandung. Kami berharap banyak turis yang datang ke Kota Bandung,” ungkapnya.

Terlepas dari maraknya hiburan malam, lanjut Irwan, di Kota Bandung setiap hari sudah ada kegiatan seni. “Kalau dari kami (Disbudpar Kota Bandung), program seni sudah ada (untuk wisatawan). Di hotel-hotel juga sudah diinformasikan tentang kegiatan seni tradisional, bahkan ada Tourism Information Center. Kami tidak bisa membatasi turis (memilih hiburan malam atau kegiatan seni),” tandasnya.(red)