Potensi Penularan Masih Ada saat Puasa dan Lebaran, Varian Baru Covid-19 Tak Perlu Ditakuti Berlebihan

JAKARTA, SIMBUR – Varian baru Covid-19 kembali muncul dengan sebutan Omicron XE. Thailand menjadi negara pertama yang telah mengonfirmasi adanya temuan tersebut. Sementara, potensi penularan Covid-19 masih terus terjadi di Indonesia akibat meningkatnya aktivitas masyarakat saat Ramadan hingga Idulfitri 1443 Hijriah.

Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito mengatakan, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa Omicron XE merupakan gabungan/rekombinan dari 2 varian Omicron yang sudah ada, yaitu BA.1 dan BA.2. Meski demikian, Wiku mengimbau masyarakat tidak perlu takut berlebihan.

“Rekombinasi virus bukan merupakan hal baru dan sudah banyak terjadi. Termasuk pada virus selain Covid. Terlebih lagi, ketakutan yang berlebihan pun akan berpengaruh pada imunitas tubuh menghadapi berbagai ancaman penularan penyakit,” ungkap Wiku saat menjawab pertanyaan media pada keterangan pers di Graha BNPB, Selasa (5/4) yang disiarkan secara offline dan online.

Merujuk data awal penelitian, kata Wiku, mendapati kemampuan penularan Omicron XE sekitar 10% lebih tinggi dari Omicron BA.2. Akan tetapi, WHO sendiri menekankan perlunya penelitian lebih lanjut terkait temuan awal ini. Sejauh ini, menurut Kementerian Kesehatan, varian yang pertama kali ditemukan di Inggris ini belum ditemukan di Indonesia. “Pemerintah selalu memantau dan menggunakan data terkini dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam berbagai penyesuaian kebijakan,” ujar Wiku.

Menurut dia, pengaturan terkini perjalanan di wilayah Indonesia perlu diterapkan saat puasa Ramadan dan hari raya Idulfitri 1443 Hijriah. “Hal ini menjadi penting untuk diketahui dan diimplementasikan demi menjamin tren perjalanan yang diprediksi akan meningkat serta  dapat terlaksana aman tanpa menimbulkan lonjakan kasus baru,” jelasnya.

Wiku menerangkan, perlu menjadi perhatian bahwa setelah divaksin imunitas tidak bisa serta merta terbentuk secara instan. Para argimuniologi sepakat bahwa proses pembentukan antibodi dalam tubuh rata-rata memakan waktu 1 atau 2 minggu setelah penyuntikan. Pada prinsipnya secara patalogis masing-masing tubuh manusia memiliki kemampuan respons yang berbeda dalam membentuk kekebalan atau antibodi.

“Diimbau kepada masyarakat untuk segera memenuhi dosis vaksinasi lengkap maupun booster sekurang-kurangnya 2 minggu, khususnya sebelum menjalankan kegiatan sosial berskala besar seperti mudik,” tegasnya.

Bukan hanya itu, pemerintah kembali menetapkan perpanjangan PPKM leveling di wilayah Jawa-Bali yang akan dievaluasi kembali 2 minggu kedepan. “Setelah beberapa relaksasi aktivitas masyarakat nampak bahwa data maupun masyarakat masih tetap dapat mempertahankan kondisi kasus yang terkendali,” serunya.

Pemerintah juga akan menambah pintu masuk negara (entry point) untuk pelaku perjalan internasional meliputi jalur udara dan laut. Pintu kedatangan ini untuk memfasilitasi aktivitas masyarakat yang aman Covid-19. Diantaranya melalui bandara Kualanamu (Sumatera Utara), Sultan Hasanuddin (Sulawesi Selatan), Yogyakarta (DIY), dan Sultan Syarif Kasim II (Riau). Sementara Pelabuhan Laut di Tanjung Balai Karimun (Kepulauan Riau) dan Dumai (Riau).

Diketahui, perkembangan penanganan pandemi Covid-19 per 5 April 2022 secara nasional, angka kesembuhan harian bertambah 7.241 orang. Terdiri 7.096 transmisi lokal dan 145 Pelaku Perjalanan Luar Negeri (PPLN). Angka kumulatifnya terus meningkat melebihi 5,7 juta orang sembuh atau tepatnya 5.783.299 orang (96 persen).

Kasus aktif atau pasien positif yang membutuhkan perawatan medis, berkurang 5.031 kasus sehingga kumulatifnya menurun hingga 85.204 kasus (1,4 persen). Lalu, pasien terkonfirmasi positif (RT-PCR/TCM dan rapid antigen), hari ini bertambah 2.282 kasus terdiri 2.217 transmisi lokal dan 165 PPLN. Angka kumulatifnya atau jumlah pasien terkonfirmasi positif yang tercatat sejak kasus pertama hingga hari ini mencapai 6.023.924 kasus.

Sementara, pasien meninggal bertambah 72 kasus transmisi lokal dengan kumulatifnya mencapai 155.421 kasus (2,6 persen). Selain itu, dari hasil uji laboratorium per hari, spesimen selesai diperiksa (RT-PCR/TCM dan rapid test antigen) per hari sebanyak 152.422 spesimen dengan jumlah suspek sebanyak 5.755 kasus.

Perkembangan program vaksinasi, penerima vaksin ke-1 bertambah 39 dengan totalnya melebihi 196 juta atau 196.880.155 orang. Sedangkan penerima vaksinasi ke-2 bertambah 101 orang dengan totalnya melebihi 160 juta atau tepatnya 160.107.212 orang. Serta vaksinasi ke-3 bertambah 529 dengan totalnya melebihi 24 juta atau 24.046.339 orang. Sementara target sasaran vaksinasi berada di angka 208.265.720 orang.

Lebih lanjut, perkembangan per provinsi, angka kesembuhan harian bertambah dari 32 provinsi. Terdapat 5 provinsi dengan angka harian tertinggi diantaranya, Jawa Barat 2.154 orang terdiri 2.142 transmisi lokal dan 12 PPLN dengan kumulatifnya 1.063.645 orang, diikuti Jawa Tengah 1.219 orang dengan kumulatifnya 578.450 orang, DKI Jakarta 571 orang terdiri 485 transmisi lokal dan 86 PPLN dengan kumulatifnya 1.220.241 orang, Banten 665 orang terdiri 643 transmisi lokal dan 22 PPLN dengan kumulatifnya 284.816 orang, serta Kalimantan Utara 421 orang dengan kumulatifnya 43.192 orang.

Pada kasus terkonfirmasi positif harian bertambah dari 34 provinsi. Terdapat 5 provinsi dengan angka tertinggi. Diantaranya DKI Jakarta 568 kasus terdiri 478 transmisi lokal dan 90 PPLN dengan kumulatifnya 1.240.678 kasus, diikuti Jawa Barat 405 kasus terdiri 403 transmisi lokal dan 2 PPLN dengan kumulatifnya 1.100.917 kasus, Jawa Tengah 288 kasus transmisi lokal dengan kumulatifnya 624.903 kasus, Banten 280 kasus terdiri 227 transmisi lokal dan 53 PPLN dengan kumulatifnya 290.309 kasus, serta Jawa Timur 165 kasus terdiri 163 transmisi lokal dan 2 PPLN dengan kumulatifnya 573.991 kasus.

Terdapat 21 provinsi menambahkan kematian dari kasus transmisi lokal. Meski demikian, terdapat 5 provinsi dengan angka tertinggi harian diantaranya, Jawa Timur 16 kasus dengan kumulatifnya 31.460 kasus, diikuti Jawa Barat 6 kasus dengan kumulatifnya 15.654 kasus, Sumatera Utara 6 kasus dengan kumulatifnya 3.235 kasus, Jawa Tengah 5 kasus dengan kumulatifnya 32.860 kasus, serta DKI Jakarta 10 kasus dengan kumulatifnya 15.194 kasus.

Hasil uji per hari jejaring laboratorium berbagai wilayah, jumlah kumulatif spesimen selesai diperiksa mencapai 92.541.687 spesimen. Terdiri dari spesimen positif (kumulatif) sebanyak 11.531.999 spesimen dan spesimen negatif (kumulatif) sebanyak 79.329.467 spesimen. Positivity rate spesimen (NAAT dan Antigen) harian di angka 3,01 persen dan positivity rate spesimen mingguan (27 Maret – 2 April 2022) di angka 5,02 persen. Sementara spesimen invalid dan inkonklusiv (per hari) berjumlah 20 spesimen.(wms08/red)