Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026

PALEMBANG, SIMBUR – Menyamakan persepsi serta penguatan langkah pencegahan dini sangat penting. Terutama dalam menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan pada 2026. Hal tersebut disampaikan Gubernur Sumatera Selatan, Dr. H. Herman Deru saat membuka Rapat Koordinasi Pengendalian Karhutbunla di Auditorium Pemprov Sumsel, Jumat (24/4) siang.

Gubernur menekankan bahwa informasi dari BMKG bukan untuk menakut-nakuti, melainkan sebagai pijakan penting dalam upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla. Menurutnya, berbagai upaya telah dilakukan, namun masih diperlukan penyatuan persepsi antar pemangku kepentingan agar langkah yang diambil lebih efektif dan terarah.

Ia mengingatkan bahwa karhutla bukan persoalan biasa karena berdampak besar, terutama terhadap kesehatan masyarakat. Sumsel, katanya, pernah mengalami kondisi Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di atas ambang batas dalam waktu yang cukup lama. Karena itu, pemerintah perlu mengambil langkah ekstra, termasuk menyediakan informasi kualitas udara agar masyarakat mengetahui kapan harus menggunakan masker. “Karhutla ini kita hadapi setiap tahun. Konsepnya bisa berbeda, tetapi tujuannya sama. Yang perlu kita lakukan adalah menyatukan persepsi dan memperkuat langkah pencegahan,” tegasnya.

Herman Deru juga mengapresiasi kerja keras Satgas Karhutla, Forkopimda, pemerintah kabupaten/kota, hingga pihak perusahaan yang dinilai memiliki kepedulian tinggi. Ia menegaskan bahwa potensi kemarau kering yang diprediksi terjadi mulai Mei hingga mencapai puncaknya pada Agustus harus menjadi dasar dalam memetakan wilayah rawan serta meningkatkan kesiapsiagaan sejak dini. Ia berharap upaya pencegahan karhutla dapat menjadi kesadaran kolektif dan budaya masyarakat, mengingat dampak yang ditimbulkan sangat besar dan membutuhkan biaya tinggi.

Sementara itu, Koordinator BMKG Provinsi Sumsel, Dr. Wandayantolis, S.Si., M.M., memaparkan bahwa musim kemarau tahun ini tidak hanya datang lebih awal, tetapi juga berpotensi memberikan dampak yang lebih signifikan. “Mulai Mei kita sudah memasuki musim kemarau. Puncaknya akan sangat kering dengan curah hujan di bawah normal,” ujarnya.

Kondisi tersebut, lanjutnya, diperparah oleh fenomena Indian Ocean Dipole (IOD) pada semester kedua, yang menyebabkan massa uap air atau hujan tertarik ke arah Samudera Hindia dan Afrika, sehingga wilayah Indonesia cenderung mengalami kondisi kering. “Saat ini, April masih merupakan puncak musim hujan, sehingga dalam sepekan terakhir curah hujan cukup tinggi. Namun, pada Mei hingga Juni kita mulai memasuki musim kemarau dengan peningkatan suhu udara,” jelasnya.

Wandayantolis menambahkan, puncak musim kemarau diprediksi berlangsung sangat kering, bahkan hingga September curah hujan masih berada pada kategori rendah.

Pangdam II/Sriwijaya Pastikan Kesiapan Babinsa

Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Ujang Darwis, M.D.A., menghadiri Rapat Koordinasi (Rakor) Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) wilayah Provinsi Sumatera Selatan tahun 2026.

Kehadiran Pangdam II/Sriwijaya dalam rakor ini menegaskan komitmen TNI dalam mendukung penuh pemerintah daerah menjaga kelestarian lingkungan dan kesehatan masyarakat dari ancaman asap. Turut dalam mendampingi Pangdam II/Swj dalam kegiatan ini antara lain Danrem 044/Gapo Brigjen TNI Khabib Mahfud, S.I.P., M.M., beserta jajaran Asisten Kasdam II/Swj dan para Dandim jajaran Kodam II/Swj.

Sinergi lintas sektoral ini menjadi kunci utama agar penanganan Karhutla di lapangan dapat berjalan efektif, cepat, dan terukur. Kodam II/Sriwijaya memastikan seluruh jajaran Babinsa di tingkat bawah siap bersiaga bersama Polri dan BPBD untuk melakukan pemantauan rutin demi mewujudkan Sumsel bebas asap di tahun 2026.

Sementara itu, Danrem 044/Gapo selaku Danops Karhutbunla Wilayah Sumsel, Brigjen TNI Khabib Mahfud, S.I.P., M.M., menjelaskan bahwa wilayah rawan karhutla tersebar di sejumlah kabupaten. Ia menyinggung peningkatan hotspot signifikan yang pernah terjadi pada 2023 akibat fenomena El Nino yang menyebabkan kekeringan panjang. Saat ini, status siaga darurat telah ditetapkan melalui Keputusan Gubernur Sumsel tertanggal 22 April 2026.

Dalam kesempatan tersebut, ia memaparkan strategi penanganan karhutla yang dilakukan dalam tiga tahap, yakni mitigasi, penindakan, dan pemulihan. Tahap mitigasi dilakukan melalui patroli terpadu, sosialisasi, serta pengaktifan posko di desa-desa rawan. Tahap penindakan mencakup kesiapsiagaan pemadaman darat dan udara, termasuk pengecekan peralatan serta dukungan water bombing. Sementara itu, tahap pemulihan difokuskan pada rehabilitasi lahan dan pengembalian fungsi ekosistem agar kembali produktif.

Melalui rapat koordinasi ini, ia berharap seluruh pihak dapat menyampaikan potensi permasalahan di wilayah masing-masing serta merumuskan langkah konkret dalam pencegahan karhutla secara terpadu dan berkelanjutan

Lahan 10 Hektare di Ogan Ilir Ludes Terbakar

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pertama kali terjadi pada 2026 di Kabupaten Ogan Ilir, Provinsi Sumatera Selatan, pada Selasa (7/4) lalu. Tepatnya di Desa Palemraya, Kecamatan Indralaya Utara. Hal itu diungkap Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Ph.D.

Menurut Muhari, api membakar lahan seluas 10 hektare. BPBD Kabupaten Ogan Ilir dan tim gabungan melakukan pemadaman. “Api berhasil dipadamkan pada Rabu (8/4),” ungkap Muhari.

Mitigasi kebakaran hutan dan lahan juga menjadi perhatian, yaitu dengan menyiapkan personel dan peralatan di wilayah rawan. “Tidak membuka lahan dengan cara dibakar dan tidak membakar sampah di lahan kering,” ujarnya.

Pastikan Kesiapan Kunjungan Menko Polkam ke Kampung Nelayan Sungsang

Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Selatan, Dr. Drs. H. Edward Candra, M.H., memastikan kesiapan pemerintah daerah dalam menyambut rencana kunjungan Menteri Koordinator Politik dan Keamanan (Menko Polkam) Djamari Chaniago ke Kampung Nelayan Desa Sungsang, Kabupaten Banyuasin. Hal ini terungkap dalam rapat lanjutan antara Asisten Deputi Menko Polkam dan Sekda Sumsel yang digelar di Ruang Command Center Pemerintah Provinsi Sumsel, Jumat (24/4).

Asisten Deputi Menko Polkam, Eddi T, menjelaskan bahwa kunjungan Menko Polkam ke Kampung Nelayan Sungsang dijadwalkan setelah Apel Kesiapsiagaan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) 2026 yang akan digelar pada 6 Mei mendatang. Apel siaga tersebut rencananya akan diikuti sekitar 1.600 personel dari TNI, Polri, BPBD, serta berbagai elemen masyarakat lainnya.

Sekda Sumsel, Edward Candra, mengatakan bahwa pada prinsipnya Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan telah menyiapkan seluruh perangkat yang dibutuhkan guna menyukseskan pelaksanaan apel kesiapsiagaan tersebut. “Apel pada 6 Mei, dilanjutkan keesokan harinya, 7 Mei. Jika hanya berlangsung satu hari, maka kita akan menyesuaikan,” ujarnya.

Sesuai jadwal tentatif, sejumlah menteri dijadwalkan turut hadir, di antaranya Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Menteri Lingkungan Hidup, Menteri Kehutanan, serta Kepala Staf Kepresidenan.

Apel kesiapsiagaan ini menjadi langkah strategis pemerintah dalam mengantisipasi musim kemarau yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan.

Edward Candra juga menekankan pentingnya memperhitungkan jarak tempuh menuju Kampung Nelayan Sungsang agar tidak mengganggu agenda kegiatan berikutnya.

Selain mengunjungi Kampung Nelayan, Menko Polkam juga dijadwalkan meninjau Koperasi Merah Putih. Kunjungan tersebut bertujuan memastikan bahwa program prioritas Presiden berjalan efektif hingga ke tingkat masyarakat bawah.(kbs/red)