Gubernur Harus Tahu dan Jelaskan kepada Presiden

# Sumsel Salah Satu Provinsi Penyebab Angka Kematian di Indonesia Lebih Tinggi dari Dunia

JAKARTA, SIMBUR – Sumatera Selatan menjadi salah satu dari empat provinsi di Indonesia, selain Bengkulu, Jawa Tengah, dan Jawa Timur dengan tingkat kematian di atas 6 persen. Karena itu, keempat provinsi tersebut dianggap sebagai penyebab angka kematian akibat Covid-19 di Indonesia yang melebihi rata-rata kematian dunia. Hal itu disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat memberikan pengantar pada Rapat Terbatas (Ratas) membahas Laporan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional secara daring dari Istana Merdeka, Provinsi DKI Jakarta, Senin (14/9).

Pakar virus asal Sumatera Selatan, Prof Yuwono MBiomed mengatakan, cara membaca data kematian tidak seperti itu. “Mestinya Kepala Dinas Kesehatan Sumsel memberi tahu Gubernur. Gubernur Sumsel harus menyampaikan penjelasan kepada Presiden,” saran Prof Yuwono, dikonfirmasi Simbur, Senin (14/9).

Menurut Yuwono, tingkat kematian (mortalitas) itu diukur dari persentase. Persentase dalam ilmu matematika disebut relatif. Dalam bahasa mudahnya tergantung dari mana orang memandang. “Kalau dilihat dari persentase per provinsi, benar empat provinsi itu besar persentasenya. Tapi apalah artinya Bengkulu. Berapa jumlah kasus di Bengkulu bila dibandingkan Jakarta,” ungkapnya.

Yuwono menambahkan, masyarakat Sumsel tidak perlu pesimis dengan data tersebut. “Kita (Sumsel) jangan merasa tersudutkan. Bukan berarti pola penanganan kita amburadul. Kita tetap kondisinya naik sangat tinggi tidak, turun sangat rendah juga tidak,” ujarnya.

Diketahui, per 14 September 2020, jumlah pasien sembuh di Sumsel bertambah 99 sehingga menjadi 3.748 kasus. Konfirmasi positif bertambah 27 sehingga menjadi 5.078 kasus. Pasien meninggal bertambah 5 sehingga menjadi 305 kasus.

“Makanya, itu sangat bagus. Kalau begitu, pasien yang dirawat tinggal 200-an. Yang suspect sedikit juga. Kalau angka meninggal boleh dikatakan kira-kira hanya 1 persen orang dalam keadaan kritis. Potensi pertambahan kematian sekitar 3, 5, 2 kasus per hari di Sumsel,” ujarnya.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, pemerintah bekerja keras untuk menurunkan angka kematian. Rata-rata kematian terus menurun dari 4,49 persen pada bulan (Agustus) lalu menjadi 3,99 persen. Angka ini lebih tinggi dari rata-rata kematian dunia 3,18 persen. Angka ini menurun dari angka kematian seminggu lalu 4,02 persen.

“Kalau kita melihat lebih detail, tingkat kematian tertinggi (di Indonesia) disebabkan karena ada empat provinsi yang memiliki tingkat kematian di atas enam persen. Perlu data seperti ini detail. Informasikan kepada provinsi tersebut. Pemerintah pusat memberikan dukungan ke sana sehingga bisa menurunkan angka kematian, yakni Bengkulu, Sumatera Selatan, Jawa Tengah, dan Jawa Timur,” ungkap Presiden.

Presiden mengingatkan kembali penerapan strategi intervensi berbasis lokal dan keputusan-keputusan dalam merespons penambahan kasus. “Keputusan-keputusan dalam merespons penambahan kasus di provinsi, kabupaten maupun kota, saya minta semuanya selalu melihat data sebaran,” ujar Presiden.

Demikian diungkap Menteri Kesehatan (Menkes), Terawan Agus Putranto. Menkes menjelaskan, pemerintah terus bekerja keras untuk meningkatkan angka kesembuhan dan per 13 September 2020 rata-rata kasus aktif di Indonesia 25,02 persen atau sedikit lebih tinggi dari rata-rata kasus aktif dunia yang mencapai 24,78 persen.

“Untuk jumlah kasus sembuh sebanyak 155.010 kasus, dengan recovery rate atau angka kesembuhan 71 persen. Rata-rata kesembuhan di Indonesia yang 71 persen ini sedikit lebih rendah dari rata-rata kesembuhan dunia yang 72 persen,” ungkap Menkes.

Pemerintah, menurut Menkes, juga bekerja keras untuk menurunkan angka kematian yang rata-rata kematian di Indonesia menurun dari 4,49 persen menjadi, per 13 September kemarin, 3,99 persen.

Meski masih sedikit lebih tinggi, lanjut Menkes, dari rata-rata kematian dunia yang mencapai 3,18 persen, angka kematian sebesar 3,99 persen mengalami penurunan dibandingkan angka kematian seminggu sebelumnya yang 4,2 persen.

Sementara itu, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Reisa Broto Asmoro, menyampaikan bahwa dari perkembangan penanganan pandemi Covid-19 di dalam negeri, rata-rata kasus aktif di berbagai daerah cenderung mengalami penurunan.  Per hari ini, 14 September 2020, Reisa menyebut jumlah kasus aktif sebanyak 54.277 kasus, menurun dibandingkan hari sebelumnya sebanyak 54.649 kasus. “Jika melihat kasus aktifnya, terjadi penurunan di beberapa tempat,” papar Reisa.

Ia merincikan sebaran kasus aktif per provinsi, tertinggi berada di DKI Jakarta dengan 11.436 kasus aktif, mengalami penurunan dari hari sebelumnya sebanyak 12.078 kasus. Menurut Reisa, tertinggi kedua berada di Jawa Barat dengan 6.443 kasus dan jumlah ini mengalami kenaikan dari hari sebelumnya sebanyak 6.404 kasus.

Tertinggi ketiga, lanjut Reisa, di Jawa Tengah sebanyak 5.439 kasus mengalami penurunan dari hari sebelumnya sebanyak 5.518 kasus. “Memang jumlah kasus aktif fluktuatif, tetapi dari data hari ini dapat dikatakan rata-rata jumlah kasus aktif di Indonesia banyak mengalami penurunan,” lanjut Reisa.

Pada tingkat kesembuhan hari ini terdapat tambahan 3.395 kasus dan kesembuhan total menjadi sebanyak 158.405 kasus dengan recovery rate (tingkat kesembuhan) di angka 71 persen. “Angka ini (kesembuhan) cukup tinggi ya, artinya 7 di antaranya 10 orang yang terkena Covid-19 sudah sembuh,” jelasnya.

Sedangkan penambahan kasus positif baru hari ini, menurut Reisa, sebanyak 3.141 kasus dan kumulatifnya 221.523 kasus. Ia juga menginformasikan dari data Kementerian Kesehatan, bed occupancy ratio (BOR) atau ketersedian tempat tidur dalam kondisi aman. Kondisi ini katanya dapat mengantisipasi lonjakan jika terjadi lonjakan 20 persen sesuai ketentuan World Health Organization (WHO). “Tetapi tentu kita tidak harapkan itu akan terisi ya,” ujar Reisa.(red/setkab)