- Jaksa Sita Truk dan Alat Berat Perusahaan Terkait Korupsi Distribusi Semen
- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
- Diduga Menghalangi Penyidikan Kasus Korupsi, Staf Ahli Bupati Muba dan Oknum Pengacara Jadi Tersangka
- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
Presiden Ke-3 Pembuat Pesawat Indonesia “Terbang” Selamanya Menghadap Sang Pencipta
PALEMBANG – Presiden ke-3 Republik Indonesia, Baharuddin Jusuf Habibie terkenal atas kejeniusannya membuat pesawat, di antaranya N250 dan R80. Dalam mencintai Indonesia,
BJ Habibie telah memberikan segala yang terbaik miliknya. Kini BJ Habibie sudah menyusul istri tercintanya, terbang menghadap Sang Pencipta pada usia 83 tahun.
Kabar duka tersebut diperoleh dari Thareq Kemal Habibi, putra Habibie-Ainun. Dengan sangat berat Thareq Kemal mengucapkan bahwa ayahnya telah meninggal dunia pukul 18.05 WIB di RSPAD Gatot Subroto Jakarta. “Innalillahiwainnailsihirajiun. Alasan mengapa meninggal karena sudah menua. Seperti kemarin saya sebutkan, gagal jantung yang karena penuaan itu, organ-organ degenerasi, melemah dan pukul 08.05 jantungnya dengan sendiri melemah. Sampai detik terakhir saya masih ada di situ. Pada hari tanggal 11 September 2019 pukul 18.05 Presiden RI ke-3 Bacharudin Jusuf Habibie, telah meninggal,” ungkapnya kepada pers, Rabu (11/9).
Mendengar kabar duka tersebut, Presiden Jokowi melalui Menteri Sekretaris Negara langsung menetapkan hari berkabung nasional dan pengibaran bendera negara selama 3 hari berturut-turut. Keputusan yag tertuang dalam surat nomor B-1010/M.Sesneg/Set/TU/00/09/2019 tersebut menghimbau kepada seluruh apratur negara untuk memberikan penghargaan setinggi-tingginya untuk mantan presiden RI ke-3 yang juga merupakan bapak teknologi dan demokrasi itu.
Sebelumnya, pada tahun 2018 lalu, kondisi Habibie juga sempat menurun karena kelelahan setelah melakukan kegiatan di berbagai kota di Indonesia. Pada tahun yang sama, ia juga pernah dirawat di Jerman karena mengalami kebocoran klep jantung. Akibat kebocoran tersebut, terjadi penumpukan air di paru-parunya hingga 1.5 liter, sehingga Habibie kesulitan untuk bernapas.
Saat itu, tekanan darah nya juga meningkat sampai 180 ke atas. Presiden Joko Widodo mengutus tim dokter kepresidenan ke Jerman guna memantau kesehatan Habibie. Dua tahun sebelumnya, yakni pada tahun 2016, Habibie juga sempat dirawat di rumah sakit RSPAD Gatot Subroto. Saat ini, Habibie didiagnosis terkena infeksi bakteri yang berakibat suhu tubuh Habibie sempat mengalami demam selama beberapa hari.
Diketahui, BJ Habibie adalah salah satu dari orang di dunia yang memiliki tingkat kecerdasan yang sangat tinggi. Ia pernah menuntut ilmu di Sekolah Menengah Atas Kristen Dago, kemudian belajar tentang keilmuan teknik mesin di Fakultas Teknik Universitas Indonesia Bandung (sekarang Institut Teknologi Bandung) pada tahun 1954.
Pada 1955–1965, Habibie melanjutkan studi teknik penerbangan, spesialisasi konstruksi pesawat terbang, di RWTH Aachen, Jerman Barat, menerima gelar diplom ingenieur pada 1960 dan gelar doktor ingenieur pada 1965 dengan predikat summa cum laude.
Habibie pernah bekerja di Messerschmitt-Bolkow-Blohm, sebuah perusahaan penerbangan yang berpusat di Hamburg, Jerman. Pada tahun 1973, ia kembali ke Indonesia atas permintaan mantan presiden Soeharto yang menjadikannya sebagai Menteri Negara Riset dan Teknologi sejak tahun 1978 sampai Maret 1998.
Gebrakan BJ Habibie saat menjabat Menristek diawalinya dengan keinginannya untuk mengimplementasikan “Visi Indonesia” yang bertumpu pada riset dan teknologi, khususnya pula dalam industri strategis yang dikelola oleh PT IPTN, PINDAD, dan PT PAL. Targetnya, Indonesia sebagai negara agraris dapat melompat langsung menjadi negara Industri dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Puncak karir Habibie terjadi pada tahun 1998, dimana saat itu ia diangkat sebagai Presiden Republik Indonesia (21 Mei 1998 – 20 Oktober 1999), setelah sebelumnya menjabat sebagai Wakil Presiden ke-7 dalam Kabinet Pembangunan VII di bawah Presiden Soeharto. (red)



