- Jaksa Sita Truk dan Alat Berat Perusahaan Terkait Korupsi Distribusi Semen
- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
- Diduga Menghalangi Penyidikan Kasus Korupsi, Staf Ahli Bupati Muba dan Oknum Pengacara Jadi Tersangka
- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
Gubernur Minta Humas Pemprov Sumsel Tanggap Berita Kabut Asap
PALEMBANG, SIMBUR – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sudah mulai masuk kota. Aroma sesak semakin mengancam pernapasan masyarakat. Titik api (hotspot) di Sumatera Selatan (Sumsel) semakin hari semakin meningkat. Bukan hanya itu, pemberitaan tentang kabut asap pun semakin mewarnai headline berbagai media massa, baik lokal, nasional maupun internasional.
Gubernur Herman Deru menegaskan agar Humas Setda Pemprov Sumsel harus tanggap dan meningkatkan respons pemberitaan kabut asap di media massa. “Perlu ditingkatkan. Jadi imbauanlah. Artinya perlu mencegah jangan sampai meluas. Itukan berkutat di kabupaten-kabupaten itulah. Kedua, jika itu sudah berdampak luas, jangan sampai menjangkiti (menjadi) penyakit sperti ISPA. Isu (berita asap) sudah internasional, sudah antarnegara ini. Sumsel kebetulan mempunyai daerah yang mempunyai 1,4 juta lahan rawa juga tentu tidak bisa dibandingkan dengan provinsi yang tidak ada lahan rawanya,” tegasnya di Griya Agung, Kamis (12/9).
Ditambahkan, masyarakat itu juga harus tahu bahwa pemerintah bukan kurang upaya untuk memadamkan api. “Jangankan masyarakat, saya juga terganggu dengan asap itu. Artinya, semakin giat kalau semakin banyak luas yang dipatroli setiap hari. Memang keterbatasan alat. Itulah makanya upaya pencegahan itu. Sejumlah 1.450 lebih petugas di bawah Dansatgas terkadang tidak mampu khususnya di daerah potensi karhutla yang banyak lahan gambutnya. Rencana kami akan minta (bantuan) helikopter lagi. Kemarin dikasih tujuh ternyata masih kurang,” lanjutnya seraya menambahkan, Pemprov Sumsel akan mengantisipasi dengan pangalokasian dana yang proporsional.
Sementara itu, jumlah penderita ISPA akibat kabut asap, terus meningkat. Gubernur justru belum mengetahui data pastinya dan akan mengecek terlebih dulu. “Saya akan cek dulu datanya di Dinas Kesehatan. Kalau memang nanti laporannya benar, saya akan memerintahkan tim medis untuk memberikan pelayanan khusus. Juga kepada para orang tua agar menjaga bayinya. Jangan diajak ke pasar kalau tahu asap banyak (tebal),” ujarnya.
Penderita ISPA Meningkat
Dikonfirmasi, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palembang, dr Hj Letizia Mkes memastikan jika ada peningkatan penderita ISPA di Kota Palembang dalam beberapa hari ini. “Kalau ISPA itu memang penyakit yang selalu terbanyak di Kota Palembang. Cuma jika ada peningkatan itu sedikit, belum begitu banyak karena baru beberapa hari ini kabut asap mulai tebal. Tidak begitu banyak sih, paling lima persen,” ungkapnya.
Dinkes Palembang juga tengah berupaya melakukan tindakan antisipasi dengan mengeluarkan surat ederan yang disebar di berbagai tempat. “Saya sudah membuat surat edaran dan sudah kami bagi-bagikan ke kantor Camat, Puskesmas dan tempat lainnya. Isinya adalah bila masyarakat yang ingin beraktifitas di luar (rumah) agar menggunakan masker. Tapi kalau memang tidak terlalu penting, kurangilah aktifitas di luar. Kemudian perbanyak meminum air putih, makan sayur dan buah. Jika ingin keluar rumah agar memakai kacamata biar mata tidak perih,” jelasnya.
Kabid Tanggap Darurat BPBD Sumsel, Anshori memastikan strategi yang diterapkan di lapangan akan lebih diefektifkan lagi, guna mencegah kebakaran semakin meluas. “Kalau pemadaman itu mungkin fokusnya memadamkan, artinya berjibaku mendekati sasaran. Tetapi sekarang mungkin yang diperlukan bagaimana supaya api tidak menyebar. Dengan kondisi asap yang semakin tebal tentu akan berdampak pada kesehatan. Masyarakat jangan membakar karena dampaknya akan sangat buruk bagi anak-anak di masa depan. Artinya, kesehatan anak-anak atau bayi yang terpapar asap akan berdempak bagi kesehatannya di masa depan nanti,” imbaunya.
Dirinya juga berharap agar kepala daerah di kabupaten/kota yang berpotensi terjadi karhutla agar lebih fokus dan mengerahkan semua sumber daya yang dimiliki. “Ini adalah tanggung jawab bersama. Harapannya, kepala daerah di masing-masing wilayah sebagai penguasa agar dapat lebih berperan, karena yang terbakar adalah wilayah tanggung jawabnya,” ujarnya.
Belum Berpengaruh pada Pelayaran dan Penerbangan
Walaupun kabut asap menutupi Palembang, Humas Pelindo II (IPC) Palembang, Heru memastikan jika belum ada gangguan dalam aktifitas di alur pelayaran Pelindo II. “Sejauh ini tidak ada gangguan sih, artinya tidak ada isu. Memang pada jam-jam tertentu biasanya alur (pelayaran) kami ada yang tertutup kabut, tetapi masih dalam status aman. Saya juga berkomunikasi dengan teman-teman yang dioperasional tidak ada hambatan yang berarti sih, tetapi memang lebih waspada,” ungkapnya kepada Simbur.
Dijelaskan juga, dalam pelayaran dimana sebelum kapal berlayar itu yang memberi izin berlayar adalah Syahbandar (KSOP). Namun, dari sisi operasional pelabuhan dengan adanya kabut asap, belum ada gangguan sama sekali dan masih berjalan seperti biasa. “Sejauh ini, kami belum terima peringatan khusus dari Syahbandar, artinya pelayaran masih aman untuk dilakukan. KSOP sudah cukup informatif kepada kami, mungkin hanya perlu ditingkatkan lagi. Ketika mengetahui jika ada potensi bahaya, kami bisa mengantisipasi lebih awal,” harapnya.
Sama halnya dengan aktivitas penerbangan di Bandara Internasional SMB II, Executive GM PT Angkasa Pura Bandara SMB II, Fahroji memastikan jika penerbangan masih aman dan lancar. “Tidak ada masalah, penerbangan masih lancar. Saya berharap seperti ini terus (penerbangan lancar),” singkatnya.
Di tempat terpisah, Danrem 044/Gapo Kolonel Arh Sonny Septiono menyampaikan ucapan terima kasih kepada personel TNI, Polri serta semua dinas terkait yang sudah bekerja dengan maksimal. “Semakin hari kita lihat semakin banyak hotspot dan asap sudah masuk ke kota. Ini tantangan bagi semuanya. Kita harus evaluasi masing-masing bagian apa yang harus kita kerjakan lagi supaya bisa meminimalisir semuanya ini,” ungkap Danrem saat Rapat Koordinasi dan Evaluasi Pengendalian Kebakaran Hutan Kebun dan Lahan digelar di Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumsel, Kamis (12/9).
Danrem berharap semua pihak dapat berupaya agar bisa mengurangi hotspot serta asap dengan semua kekuatan peralatan yang ada. “Termasuk potensi wilayah dari perusahaan perkebunan agar semuanya ini digerakan untuk mengurangi hotspot dan asap ini,” ujar Danrem.
Danrem menambahkan, saat ini Dansatgas hanya punya 7 unit helikopter Water Boombing tetapi yang operasional hanya 5 unit. “Dengan kondisi seperti ini kita tidak bisa berharap banyak. Akan tetapi kita memaksimalkan operasional upaya ini. Kita juga mengaktifkan kembali satgas doa agar yang Maha Kuasa mendengarkan doa kita dan menurunkan hujan untuk membasahi hotspot yang ada,” tutupnya. (dfn)



