Butuh 34 Dokter Spesialis Selamatkan Nyawa 1 Bayi

# Mengenal Teknologi Medis Ligasure yang Mampu Memotong Pembuluh Darah hingga Diameter 2,7 Milimeter

 

Menyelamatkan nyawa bukan selalu berorientasi mendapatkan keuntungan finansial tapi juga gerakan kemanusiaan. Apalagi, menyelamatkan bayi kembar siam dimana segala kemungkinan bisa terjadi bahkan sampai yang terburuk. Salah satunya, kasus bayi kembar siam yang berhasil dipisahkan. Meski demikian, orang tuanya harus rela kehilangan satu dari dua bayi mungil itu.

 

IRFAN – PALEMBANG

 

SUASANA tegang di bilik operasi Rumah Sakit Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang. Kali ini operasi dianggap memiliki banyak tantangan dan terbilang sulit. Hampir mustahil untuk menyelamatkan dua bayi kembar dempet atau siam. Itu karena salah satu bayi diketahui tidak memiliki organ vital yang lengkap.

Menyelamatkan satu dari dua bayi tersebut membutuhkan 34 dokter spesialis, terdiri dari 30 orang dari tim dokter RSMH Palembang dan empat dokter dari RS Dr Sutomo Surabaya. Tim sebanyak 34 orang, 20 orang di antaranya merupakan dokter bedah plastik, ortopedi, cardiopasculer, dokter anak, dan spesialis anastesi.

Proses operasi berlangsung Selasa (27/8), dimulai sejak pukul 01.00 dini hari sampai pukul 16.00 sore. Kurang lebih 15 jam tim dokter berjuang bahu-membahu mencoba untuk menyelamatkan nyawa, minimal satu bayi. Apalagi, kondisinya diketahui semakin memburuk.

Dimulai pukul jam 01.00 dini hari bayi mulai dipuasakan, lalu pukul 06.00 pagi bayi dikirim ke kamar operasi. Pukul 06.30 sampai 08.30 tim dokter menemui kesulitan untuk memasang alat-alat operasi pada bayi dengan ukuran sekecil itu, bahkan dengan menggunakan kaca pembesar pun juga masih menemui kesulitan. Setelah terpasang maka tim dokter baru bisa memulai operasi. Bayi akhirnya bisa dipisahkan pada pukul 12.27 WIB. Namun sayang, proses operasi secara keseluruhan baru bisa diselesaikan pukul 16.16 WIB.

Ketua Tim Dokter RSMH, dr Ria Nova SpAK menjelaskan, kondisi bayi kembar siam yang mereka namakan bayi satu yang memiliki peluang hidup lebih besar. Sementara, bayi dua diprediksi hampir tidak mungkin melihat keindahan alam semesta karena organ vital yang tidak lengkap serta memiliki beberapa kelainan pada jantung.

“Bayi kedua memiliki kelainan yaitu pada jantungnya berupa Tricuspid Atresia dan VSD Perimembran Outlet Besar. Kemudian ada mikro sefalinhipoplasia paru. Ada juga kelainan micro labio gnato palato schizi. Jadi kelainan bayi dua lebih kompleks. Kelainan bawaannya lebih banyak. Dengan kelainan seperti itu, tentu menjadi beban untuk bayi satu. Jadi kalau dibiarkan, sekali waktu pasti akan ada yang meninggal. Kalau operasi dilakukan saat kondisi semakin buruk, mungkin akan berdampak pada bayi satu yang mendukung bayi dua,” ungkapnya usai merilis hasil operasi bedah di RSMH, Selasa (27/8).

Selain itu, dr Ria juga memastikan jika mau tidak mau operasi harsu dilakukan dengan tujuan untuk menyelamatkan nyawa bayi satu yang semakin-lama semakin tidak kuat menopang hidup bayi dua. “Saat melakukan operasi, kami memang menyelamatkan bayi satu. Bayi dua tidak mungkin karena organ vitalnya tidak lengkap. Penebalan jantung pada bayi satu diakibatkan karena selama ini karena untuk menopang hidup bayi dua, sehingga jantungnya bekerja lebih keras dan menjadi tebal. Karena paru-paru bayi dua tidak berkembang dan juga terdapat kelainan pada jantungnya, begitu dipisahkan langsung (meninggal). Memang tujuan kami bukan untuk menyelamatkan keduanya karena tidak mungkin, jadi memang harus satu (selamat). Kalau kami tidak melakukan pemisahannya, maka ada kemungkinan keduanya bisa tidak terselamatkan,” ujarnya dengan sangat menyesal seraya menambahkan tim dokter menyadari jika pekerjaan masih panjang, dan saat ini masih menunggu dan memantau kondisi bayi dari masa krisis selama tujuh hari kedepan.

Ditambahkan, dokter spesialis bedah, dr Sindu Saksono Sp BA bahwa bayi kembar siam tidak bisa langsung dipisahkan, karena harus menunggu sampai pemeriksaan lengkap. Mendapat kenyataan jika semakin hari kondisi bayi semakin memburuk, diketahui bayi dua tidak mempunyai paru-paru yang bagus dan tidak berkembang, juga tidak mempunyai saluran pernapasan. “Artinya bayi dua diasuh oleh bayi satu. Bayi satu juga sudah mulai kewalahan mengasuh dengan dibuktikan jantungnya yang sudah menebal dan membengkak. Disepakati, suatu saat saluran itu akan menutup karena tidak kuat. Jika menutup, maka tim dokter harus kewalahan karena dalam hitungan menit harus terpisah. Maka setelah melakukan koordinasi, disepakati bahwa tim dokter harus segera memisahkan bayi kembar siam tersebut dan menyelamatkan (bayi satu). Tim dokter memang berhasil melakukan operasi, tetapi dengan sangat menyesal bayi dua memang tidak bisa diselamatkan karena kekurangan organ vital,” ujarnya lirih.

Satu hal yang ditakutkan saat itu, jika pada bayi dua ada aliran darah arteri yang tidak terpantau. Bahkan, hampir sampai di meja operasi, tim dokter mengaku masih membahas soal itu. sampai pada akhirnya saat di meja operasi, salah satu tim dokter mengatakan jangan-jangan ada aliran yang disebut Fetal circulation. “Ternyata betul, saat terakhir setelah memisahkan bagian yang melengket, ada bagian yang coba dipijat. Ternyata saat dilakukan itu, bayi satu menjadi lebih bagus dan bayi dua membiru, begitupun sebaliknya. Maka, diputuskan jika bayi dua mendapatkan asupan darah segarnya dari bayi satu. Ibaratnya, bayi satu mengandung adiknya sendiri. Tapi sampai berapa lama bayi satu menghidupi bayi dua, maka diputuskan bersama-sama dengan berat hati untuk menutup saluran asupan tersebut. pada pukul 10.20 WIB bayi kedua sudah tidak mendapatkan asupan darah segar lagi dari bayi satu,” lanjutnya.

Tetapi anehnya, lanjut dr Sindu, setelah saluran asupan itu di tutup, ada beberapa jaringan dari tulang rusuk atau otot-otot dan kulit bayi dua masih tetap merah segar. Artinya, bayi dua sudah menyiapkan itu untuk bayi satu. “Itulah yang bisa menutup celah (bekas operasi) yang lebar. Itulah keajaiban dari Tuhan dan kita semua tidak bisa mengetahui itu,” ucapnya takjub.

Terkait penerapan teknologi, alat yang digunakan untuk memotong pembuluh darah adalah ligasure yang mampu memotong sampai pembuluh darah berdiameter 2,7 milimeter. Tetapi, lanjut dr Sindu, yang tidak kalah penting adalah pengetahuan, jam tebang, pengalaman para dokter yang terlibat dan doa dari semua pihak. “Waktu operasi bisa lebih cepat dari target waktu yang ditetapkan, karena sehari sebelum melakukan operasi tim terlebih dulu melakukan simulasi dengan menggunakan dua boneka yang didempetkan sesuai dengan kondisi pasien. Sehingga, pada waktu melakukan simulasi sudah dibuatkan semacam skenario. Itulah salah satu faktor yang menyebabkan proses pemisahan bisa lebih cepat dari yang diprediksikan,” ungkapnya.

Di tempat yang sama, Afit Bahirul Anwar yang merupakan ayah bayi kembar siam tersebut mengatakan jika sudah memberikan nama untuk kedua bayi mungil mereka. “Kami sudah memberi nama untuk keduanya, yang pertama Aisyah Zahra, dan kedua Alisya Zahra. Namun, Alisya meninggal dunia dan akan dikebumikan di Pedamaran Timur, OKI,” ujarnya seraya menambahkan jika bayi mereka lahir prematur dengan berat keduanya 2,34 kilogram.

Sang ibu, Olin Safitri mengaku sangat sedih saat pertama kali mengetahui jika salah satu anaknya tidak mungkin diselamatkan lagi.

“Pasti sedih sekali. Sebenarnya ingin keduanya selamat tetapi bagaimana lagi. Harapan saya Aisyah dalam keadaan sehat. Pertama kali disampaikan bahwa kemungkinan besar hanya satu yang bisa selamat, perasaan kami sangat sedih dan hanya bisa pasrah,” ujarnya sambil menyeka kedua matanya.

Sebagai orang tua yang baru pertama kali diberi amanat untuk memiliki anak, dia dan suaminya mengaku ikhlas menerima kenyataan walau perih. “Namanya juga amanat, kalau itu ingin diambil lagi oleh sang pencipta, yah kami harus iklas. Tetapi kami tetap percaya kepada tim dokter untuk memberikan yang terbaik untuk anak kami,” katanya berusaha tegar.

Sementara, Direktur Utama (Dirut) RSMH, Mohammad Syahril mengatakan, operasi bedah kembar siam adalah tugas kemanusiaan, sehingga kedua orang tua bayi tersebut tidak perlu lagi memikirkan biaya operasinya. “Hal itu juga menjadi sejarah baru di RSMH bahwa para dokter mampu melakukan tugas kemanusiaannya. Kenapa disebut tugas kemanusiaan, karena kami tidak lagi berpikir tentang berapa besar biaya operasinya, dari mana dananya, tetapi kami berpikir untuk menyelamatkan nyawa. Jadi kepada orang tua bayi tidak usah berfikir tentang berapa besar biayanya, karena ini adalah tugas kemanusiaan,” yakinnya.

Dikatakan, semua yang terjadi dalam proses operasi bedah kembar siam, juga merupakan campur tangan dan kekuasaan Tuhan. Tuhan menunjukkan kekuasaannya melalui ibu Olin yang melahirkan bayi kembar siam. Hari ini juga, Tuhan menunjukkan kekuasaannya bahwa melalui tim dokter bedah kembar siam RSMH yang dibantu tim dokter RS dr Soetomo bahwa dokter di Indonesia mampu melakukan hal yang sangat sulit.

“Keberhasilan ini juga sangat mendukung RSMH sebagai rumah sakit rujukan nasional untuk wilayah Sumatera bagian selatan. Artinya, RSMH mampu melakukan upaya sesulit apapun. Saat ini masih dibantu oleh tim dari RS Soetomo, mungkin nanti sudah bisa dilepas. Komitmen kami untuk tetap memantau kondisi bayi, melakukan evaluasi, progress dan sebagainya. Diharapkan kedua orangtua tetap bersabar. Kita berdoa bersama bayu tersebut sehat dan tumbuh menjadi anak yang baik,” tutupnya. (*)

Share This: