Aktor Karhutla Merajalela

PALEMBANG, SIMBUR SUMATERA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) memang selalu menjadi momok menakutkan bukan hanya masyarakat Indonesia, melainkan akan berdampak pada dunia internasional. Dari pengakuan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Doni Monardo dipastikan manusia menjadi faktor utama terjadinya karhutla. Ironisnya, kebanyakan kasus karhutla disebabkan oleh ulah oknum yang secara sengaja dibayar untuk melakukan kerusakan sistemik itu.

“Penyebab utamanya adalah manusia. Kami sudah memetakan bahwa hanya satu persen karena faktor alam, 99 persen itu karena faktor manusia. Faktor manusia itu ada yang disengaja dan tidak disengaja. Tidak disengaja itu sangat kecil dan yang disengaja paling besar,” ujarnya usai apel gerakan pencegahan kebakaran hutan dan lahan tahun 2019 di Griya Agung, Selasa (9/7).

Dilanjutkan, faktor kesengajaan itupun masih terbagi menjadi dua jenis yaitu karena trasisi turun temurun masyarakat, dan adanya oknum tidak bertanggung jawab yang membayar orang lain untuk melakukan kerusakan. “Disengaja itu pun masih terbagi dua yaitu faktor tradisi seperti membuka lahan dengan membakar, dan yang paling penting dan paling besar adalah karena dibayar,” ujarnya.

Apalagi, lanjut Doni, berdasarkan data dari BMKG bahwa mulai Juli sudah masuk musim kemarau yang puncaknya sekitar Agustus sampai Oktober. Oleh karena itu pihaknya mempersiapkan diri lebih awal untuk pencegahan dengan melibatkan 1.512 personil komponen gabungan.

“Kami harapkan semua akan menyisir daerah-daerah yang rawan kebakaran. Pendekatannya adalah kesejahteraan dengan melakukan berbagai macam edukasi ke masyarakat, pendekatan ekosistem dengan mangajak masyarakat untuk bisa melakukan program-program yang berdampak peningkatan ekonomi yang juga memiliki fungsi ekologis,” ungkapnya seraya menegaskan jika langkah terakhir adalah langkah-langkah hukum, jika dua pendekatan tersebut tidak berhasil.

Dilanjutkan, upaya pencegahan kali ini akan maksimal dilakukan karena berdasarkan pengalaman sebelumnya, setelah kebakaran akan sangat sulit memadamkan api terutama di lahan gambut yang kedalamannya ada yang mencapai 20 sampai 36 meter. “Ketika pencegahan maksimal, maka semua komponen tidak kesulitan untuk terlibat dalam pemadaman. Karena kalau terbakar, dampak yang ditimbulkan adalah gangguan kesehatan, keselamatan dalam penerbangan, dan tentunya aktivitas masyarakat akan terganggu,” lanjutnya dan mengatakan jika menurut BMKG Elnino tahun ini akan sedikit lebih panjang, tetapi tidak separah tahun 2015.

Sementara, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, Iriansyah sangat yakin bahwa tidak mungkin titik api akan muncul tanpa adanya tangan-tangan jahil oknum yang tidak bertanggung jawab. Hal tersebut disampaikan saat ditemui Simbur di stadion Bumi Sriwijaya, Jumat (28/6).

“Tidak ada kata lain, kebakaran itu disebabkan oleh manusia. Tidak ada api yang muncul tiba-tiba dengan sendirinya tanpa ada yang memicu. Nah, kejadian itu disebabkan oleh faktor yang mana. Sekarang ini kita tidak tahu, karena banyak manusia dimana. Kalau terjadi di sana kan, bisa saja ada masyarakat di sana atau dari luar,” katanya memastikan.

Dilanjutkan, saat ini sudah memasuki musim kemarau, jadi sedikit saja sumber api akan cepat membesar. Ditambah lagi dengan angin kencang dan cuaca yang terik itu menyebabkan mudahnya terbakar di lahan-lahan.

Oleh sebab itu, lanjut Iriansyah, perlu pemberdayaan masyarakat. Bupati, camat, dan Kades harus diminta bantuan dan dukungannya untuk mencegah jangan sampai orang-orang yang tidak bertanggung jawab dengan secara iseng membakar atau membuang puntung rokok di daerah-daerah yang mudah terbakar.

“Kami mengajak masyarakat, pemerintah daerah (pemda), kecamatan, desa-desa. Karena terjadinya karhutla itu di desa-desa, di kebun, dan di kecamatan yang rawan. Oleh karena itu diperlukan peran serta masyarakat untuk menjaga jangan sampai daerahnya terbakar. Kami tidak bisa menjamin, hanya bisa mengupayakan dan mencegah. Tetapi kami yakin bisa mencegahnya,” ujarnya.

Kemungkinan munculnya api karena faktor selain dari manusia, Iriansyah tidak terlalu yakin akan hal itu. Karena baginya 95 persen penyebab karhutla disebabkan ulah manusia. “Tidak, secara ini (ilmiah) pasti ada penyebabnya, (dan) itu 95 persen karena ulah manusia. Itulah kami perlu terus melakukan sosialisasi. Sebenarnya masyarakatnya sendiri yang ini (harus peduli). Disamping itu, peran pemda juga di daerahnya yang harus memiliki kesadaran penuh,” lanjutnya seraya menambahkan jika pada prinsipnya masyarakat sudah sadar, hanya saja mungkin ada oknum yang tidak sadar.

Terkait potensi karhutla di musim kemarau, BPBD Sumsel sudah memperoleh informasi dari BMKG jika musim pancaroba sudah berlalu dan memasuki musim kemarau, yang puncaknya akan diprediksi terjadi di bulan Agustus mendatang. “Sekarang sudah masuk potensi kekeringan (atau) sudah mulai kering, yang ditandai dengan curah hujan yang mulai menurun. Oleh sebab itu kami, berdasarkan surat Gubernur Sumsel yaitu status siaga darurat, kami sudah meyiagakan atau status siaga darurat untuk karhutla,” ungkapnya.

Dengan status itu, lanjut Iriansyah, sudah dibentuk satuan tugas yang dikomandoi Danrem 044/Gapo. Hal itu adalah upaya untuk melakukan pencegahan karhutla. Mulai dari kesiapsiagaan personil, peralatan di semua titik yang dikordinasikan di semua sektor mulai dari BPBD, Manggala Agni, TNI, Polri, masyarakat kuliah api, regu pemadam kebakaran baik di perusahaan maupun di perkebunan.

“Dalam waktu dekat ini, BPBD melalui Mabes TNI akan membantu pasukan sebanyak 1.500 yang terdiri dari 100 anggota TNI, 200 anggota Polri, 300 dari masyarakat setempat di wilayah rawan, untuk mencegah dan antisipasi jangan sampai ada titik api di desa-desa tersebut,” kata Iriansyah.

Iriansyah memastikan jika BPBD Sumsel bersama-sama dan berkoordinasi dengan semua pihak dan sektor. Tidak mungkin dilakukan sendiri tetapi harus bersama-sama dan komprehensif. “Karhutla itu kan adalah tanggung jawab semua sektor. Jadi BPBD mengoordinasikan semua itu dengan bersama-sama. Mari menjaga lingkungan masing-masing. Jangan sampai ada titik api di daerahnya. Jangan sampai membuka lahan dengan cara membakar. Peduli dan jangan sampai merusak lingkungan, kita menjaga alam dan alam menjaga kita,” harapnya.

Terkait hal itu, masyarakat Sumsel harus berhati-hati karena puncak kekeringan akan terjadi di bulan Agustus nanti. Hal itu disampaikan Kasi Observasi dan Informasi Stasiun Metereologi SMB II Palembang, Bambang Benni Setiaji saat dikonfirmasi Simbur, Kamis (27/6). “Kalau yang terjadi beberapa hari ini tidak terlalu (besar), walaupun ada titik kebakaran (tapi) tidak terlalu signifikan. Tapi memang menjelang bulan Juli – Agustus kekeringan sudah mulai. Warga juga sudah mulai main-main bakar, tapi kami harapkan jangan lah, jawabnya seraya memastikan jika saat ini sudah masuk musim kemarau.

Dikatakan, jika puncak kekeringan di Sumsel diperkirakan akan terjadi di bulan Agustus nanti. “Puncak musim kemarau di bulan Agustus. Saat itu paling kering, dan yang namanya karhutla itu memang rutin (terjadi) dan memang dijaga sistem tersebut (pencegahannya),” ujarnya.

Bambang juga memastikan jika BMKG Palembang sudah berkoordinasi dengan seluruh stakeholder terkait. “Kami sudah koordinasi dengan pihak karhutla (BPBD). Kalau untuk pertanian, kita harus langsung ke klimatologi di Kenten. Kalau untuk perkiraan musim, kami selalu koordinasi dengan stakeholder (Dinas Pertanian dan Perkebunan),” ungkapnya. (dfn)

 

(Baca berita selengkapnya di surat kabar Simbur Sumatera Nomor XXXI Edisi 15 Juli-16 Agustus 2019)