- Jaksa Sita Truk dan Alat Berat Perusahaan Terkait Korupsi Distribusi Semen
- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
- Diduga Menghalangi Penyidikan Kasus Korupsi, Staf Ahli Bupati Muba dan Oknum Pengacara Jadi Tersangka
- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
Provinsi Tanpa Pusat Rehabilitasi
PALEMBANG, SIMBUR – Duta Narkoba Sumsel, Ratu Tenny Leriva mengatakan jika penyebaran dan penyalahgunaan narkotika di Sumsel sudah dalam tahap mengkhawatirkan, bahkan cenderung darurat. Namun, itu bukan hanya terjadi di Sumsel, malah mungkin hampir di seluruh wilayah di Indonesia.
Sebagai Duta narkoba yang mewakili kaum milienial, Ratu melihat miris dengan nasib anak muda yang kini menjadi target para sindikat narkotika. Ratu berharap, pemuda ambil peran dalam upaya tersebut.
“Iya sekarang bahkan banyak terjadi generasi millenial bukan hanya terjerat sebagai pengguna namun juga sudah ada yang menjadi pengedar. Tapi harus diakui kinerja para aparat penegak hukum yang sudah berkerja dalam pemberantasan narkoba, bahkan kita hampir setiap hari mendapat update di platform berita online tentang penangkapan para pengedar tertangkap. Nah peran kita sebagai pemuda ada disini, kita bisa membantu para pihak yang berwajib untuk memberantas narkoba,” ucapnya kepada Simbur.
“Upaya yang dilakukan bukan hanya menangkap para pengedar, melainkan dari sendiri yaitu dengan tidak menggunakan narkoba dan tidak mencoba membeli dari pengedar” tersebut. Kita juga bisa membantu melaporkan jika kita terlihat ada terjadi transaksi narkoba,” ujarnya.
Sayangnya, lanjut Ratu, banyak yang belum tahu, jika seorang penyalahguna narkotika melapor secara sukarela kepada Instansi Penerima Wajib Lapor (IPWL) yang merupakan program BNN, akan dibantu rehabilitasinya secara gratis dengan hanya menyerahkan KTP dan KK.
“Pelapor tidak akan dipidana, namun jika seseorang tertangkap menggunakan narkoba misalnya, tertangkap dalam sebuah razia maka akan diproses secara hukum,” jelasnya.
Terkait belum adanya pusat rehabilitasi milik pemerintah di Sumsel, Ratu mengatakan jika tempat rehabilitasi milik pemerintah sudah ada di beberapa kabupaten/kota di Sumsel seperti milik Dinsos indralaya dan BNK Oku Timur,” ungkapnya.
Dirinya menyayangkan belum adanya pusat rehabilitasi narkotika milik pemerintah yang seperti di Bogor, Lampung, Batam, Sulsel, Sukabumi, dan Medan. “Iya sayangnya belum ada pusat rehabilitasi narkotika seperti itu, tentunya sangat dibutuhkan. Harapannya dalam waktu dekat dapat dibangun pusat rehabilitasi provinsi sehingga para penyalahguna dari seluruh wilayah Sumsel terutama para generasi milenial, segera mendapat pertolongan yang seharusnya mereka dapatkan. Dengan harapan mereka tidak akan menggunakannya kembali dan memikirkan masa depannya,” harap Ratu.
Sebelumnya, Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) H. Herman Deru, mengimbau untuk generasi muda berhati-hati dengan pola rayuan pengedar. Termasuk jika mereka berbaik hati memberikan sesuatu. Menurutnya narkoba ini akan lebih bahaya lagi ketika masuk dan menjangkiti masyarakat ekonomi lemah.
“Saya ucapkan selamat Kepala BNN Provinsi Sumsel yang telah sukses mengingatkan semua dengan dua cara yakni membebaskan dari narkoba yakni mencegah dan memberantas. Kepada generasi muda. Saya himbau untuk tidak pernah tergiur dengan cara-cara apapun dari para pengedar untuk menyebarluaskan marketnya dalam penjualan narkoba,” ungkapnya saat membacakan sambutan Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla pada Puncak Peringatan Hari Anti Narkoba Internasional (HANI) Tahun 2019 di Asrama Haji, Rabu (26/06).
Menurutnya, dalam pemberantasan narkoba tidak hanya menjadi tanggung jawab Badan Narkotika Nasional dan polisi saja, melainkan tugas seluruh masyarakat apapun profesi jabatannya. Apalagi Provinsi Sumsel termasuk pangsa pasar yang potensial dengan luas wilayah terluas, dimana pintu masuknya banyak sekali mulai dari laut, darat, dan udara.
“Kalau kita hanya menumpukan harapan pada BNN dan pihak kepolisian, kita tidak akan mampu memberantasnya. Semakin cerdas kita menghalangi masuknya narkoba maka semakin cerdik mereka (pengedar narkoba) membuat inovasi-inovasi baru, bahkan berani mempertaruhkan nyawa,” tuturnya
Untuk diketahui, lebih jauh Herman Deru menguraikan setidaknya sekitar 3 juta jiwa yang telah terdeteksi menggunakan narkoba, sedangkan yang tidak terdeteksi lebih banyak karena peredaran ini sangat kreatif.
“Belakangan BBM cair sejenis pertalite diisap sasarannya macam-macam anak-anak remaja, dewasa bahkan orang tua tapi dari penemuan-penemuan itu Saya dapat menyimpulkan bahwa pengguna yang sengaja menjadikan dirinya sebagai korban pecandu narkoba,” pungkasnya.
Wakil Gubernur Sumsel, Mawardi Yahya mengaku sangat mendukung jika semakin banyak pusat rehabilitasi narkotika di Sumsel. Bahkan Mawardi mengaku sudah ada beberapa lokasi yang disiapkan, dan mungkin akan dianggarkan di tahun depan (2019). “Tentunya kami tidak ada lain adalah jika nanti BNNP Sumsel mengajukan (pembangunan rehabilitasi). Tentunya ada beberapa tempat sudah siap lokasinya dan akan kami anggarkan tahun depan. Harapan kami, mungkin harus ada inisiatif dari BNNP Sumsel supaya kami siapkan. Saya pikir Pemprov Sumsel siap untuk memfasilitasi itu,” ujarnya di Hotel Aston beberapa waktu lalu. (dfn)



