Tumbuhkan Nasionalisme Anak di Tapal Batas

MAHAKAM ULU, SIMBURNEWS – Tentara anak telah hadir di wilayah perbatasan RI-Malaysia di Kampung Ujoh Bilang Kecamatan Long Bagun Kabupaten Mahakam Ulu Kalimantan Timur. Mereka ikut hadir dalam memperingati hari jadi Kabupaten Mahakam Ulu yang ke-5. Dengan menggunakan kostum khas tentara, anak-anak tampil dengan percaya diri dan semangat di depan tamu undangan. Mereka menampilkan atraksi kolone senapan dengan menggunakan senjata mainan dari kayu.

Tentara cilik ini merupakan binaan langsung anggota Satgas Pamtas RI-Malaysia Yonif 141/AYJP Kodam II/Sriwijaya berkerjasama dengan guru SDN 005 Batumajang. Setiap harinya setelah pulang sekolah mereka dilatih oleh anggota Satgas dan guru di sekolah tentang kedisiplinan, etika saling menghormati dan nasionalisme. Kehadiran tentara cilik ini merupakan salah satu upaya Satgas pengamanan perbatasan RI-Malaysia Yonif 141/AYJP dalam mengajarkan semangat nasionalisme sejak mereka kecil. Agar kedepannya nanti ketika mereka semua tumbuh dewasa tidak mudah terkontaminasi oleh pengaruh-pengaruh negatif yang bisa menurunkan semangat nasionalisme.

Menumbuhkan semangat nasionalisme sejak dini dan mengajarkannya kepada anak-anak kita merupakan salah satu cara kita selaku orang tua untuk melanjutkan perjuangan parah pahlawan kita yang telah berhasil merebut kemerdekaan Negara Indonesia. “Saya sangat senang dengan pakaian yang diberikan tentara ini. Sama seperti pakaian tentara yang lain. Saya ingin sekali membawa senjata betulan,” ungkap Riva,  siswa kelas 5 SD yang ikut dalam atraksi Tentara cilik tersebut.

Mereka mengaku sangat senang diberikan kesempatan memakai seragam tentara. Karena belum pernah ada yang memberikan baju seperti itu. Walaupun mereka harus berlatih di tengah panas terik matahari mereka tetap semangat dan tidak putus asa.

Komandan Satgas Pamtas RI-Malaysia Yonif 141/AYJP Letkol Inf Muhamad Aan Setiawan SSos mengatakan, walaupun di perbatasan harus bisa membuat perubahan walaupun itu sedikit karena dengan kita berpikir thinking outside the box pasti ada solusi. “Karena keterbatasan bukan merupakan suatu halangan bagi saya dan anggota untuk memajukan anak-anak  yang hidup di perbatasan. Banyak sekali yang bisa kami perbuat di sini,” terang Dansatgas.

Dirinya juga berharap, ke depan pemerintah daerah setempat dan guru-guru di perbatasan bisa saling kerjasama untuk membangun SDM di wilayah perbatasan. “Walaupun hidup di perbatasan apapun yang ada bisa dikembangkan dengan cara pemikiran bersama dan musyawarah,” tegas lulusan Akademi Militer tahun 1999 ini.(red/rel)