- Jaksa Sita Truk dan Alat Berat Perusahaan Terkait Korupsi Distribusi Semen
- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
- Diduga Menghalangi Penyidikan Kasus Korupsi, Staf Ahli Bupati Muba dan Oknum Pengacara Jadi Tersangka
- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
Enam Terduga Teroris Sumsel Masih Buron
# Kapolda: Harus Waspada, Tidak Boleh Takut
PALEMBANG, SIMBURNEWS – Ledakan bom di tiga gereja di Surabaya (Jawa Timur) dan penembakan terduga teroris di Cianjur (Jawa Barat), Minggu (13/5) membuat jajaran Kepolisian Republik Indonesia (Polri) mengambil sikap waspada. Termasuk Polda Sumatera Selatan (Sumsel) pun terus melakukan kegiatan kepolisian yang ditingkatkan. Mengingat, enam terduga teroris asal Sumsel dinyatakan masih buron.
“Sel-selnya (di Sumsel), kami koordinasi dengan Densus 88. Karena mereka (Densus 88) memiliki teknologi untuk coverage dan memonitor (teroris). Sekitar enam teroris yang buron, tapi tidak diinformasikan kepada kami posisinya di mana. Kami harus berhati-hati,” ungkap Kapolda Sumsel, Irjen Pol Zulkarnain Adinegara kepada pers saat memantau Gereja Santo Yoshep, Jl Jenderal Sudirman, Palembang, Minggu (13/5).
Kapolda menambahkan, semua aksi teroris itu terorganisir dalam Jemaah Ansarut Daulah (JAD). Hal itu diketahui setelah jaringan teroris Sumsel ditangkap akhir tahun lalu. “Semua tersangka (teroris yang ditangkap di Sumsel pada Desember 2017) sudah dibawa ke Jakarta. Karena mereka jaringan JAD (Jemaah Ansarut Daulah). Memang pusatnya di Jawa Barat,” ungkap Kapolda Zulkarnain.
Menurut Kapolda, terduga teroris yang ditangkap di Sumsel (Muara Enim, Inderalaya, dan Banyuasin) berjumlah 13 orang. Akan tetapi, terang Kapolda, hanya 12 orang diamankan dan 8 orang ditetapkan tersangka, sedangkan 1 orang tidak tahu apa-apa. “Sekarang (terduga teroris) mungkin dalam proses persidangan. Ada juga yang sudah terdakwa,” ungkap jenderal bintang dua ini.
Masih kata Kapolda, dirinya meminta kepada semua pihak, khususnya media agar dapat meningkatkan kewaspadaan. “Saya minta tolong kepada media, masing-masing meningkatkan kewaspadaan. Jangan sampai mereka (teroris) jadi lone wolf (adz dzi’bul munfarid), srigala yang mencari mangsanya sendiri,” harapnya.
Terkait bom di tiga gereja, lanjut Kapolda, polisi bertangung jawab terhadap ancaman teror, terutama gereja. “Tentu menjadi tanggung jawab polisi mengamankan ancaman-ancaman extraordinary begini. Kami mohon juga bantuan kepada sekuriti gereja, kepada para jemaat. Paling tidak ada CCTV, ada kewaspadaan. Polisi juga saya floating,” ungkapnya.
Kapolda juga sangat menyayangkan terjadinya peledakan bom di tiga gereja di Surabaya. “Kita bersama, kita berduka. Kita harus berani dan tidak boleh takut melawan teroris. Begitu massage yang kami sampaikan, harus waspada, tidak boleh takut,” imbau Kapolda saat mengunjungi sejumlah gereja di Palembang.
Adapun langkah yang ditempuh, menurut Kapolda, dengan meningkatkan pengamanan, mal, tempat ibadah, gereja. “Tentu (yang diamankan) kantor kami, markas komando kami, asrama-asrama. Upaya kegiatan kepolisian yang ditingkatkan. Masing-masing yang punya markas komando, gereja, mal, dan kantor-kantor supaya berhati-hati,” tutupnya. (tim)



