- Gairah Asisten Virtual dan Platformisasi, Godaan Baru Profesional Komunikasi
- Plt Ketua PWI OKU Selatan Diminta Siapkan Konferkab Lebih Demokratis
- Perkuat Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah melalui Operasi Modifikasi Cuaca
- Optimalkan Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah
- Kejari Musi Rawas Tetapkan Dua Tersangka Korupsi Dana Peremajaan Sawit
Gairah Asisten Virtual dan Platformisasi, Godaan Baru Profesional Komunikasi

Efisiensi Biaya Penggunaan AI
Sementara itu, perusahaan riset pasar global, Gartner memprediksi anggaran humas/public relations meningkat dua kali lipat pada Tahun fiskal 2027 (FY27). Terdapat pergeseran kebutuhan dari mesin pencari Search Engine Optimisation (SEO) menjadi mesin penjawab Answer Engine Optimisation (AEO) berbasis AI. Perubahan lanskap tersebut terjadi akibat Large Language Models (LLM).
LLM sendiri merupakan jenis kecerdasan buatan. Dirancang untuk memahami, memproses, dan menghasilkan bahasa manusia. Dilatih menggunakan data teks dalam jumlah sangat besar untuk mengenali pola bahasa. Penggunaan LLM misalnya menjawab pertanyaan umum, menulis esai, artikel, serta menerjemahkan bahasa dan merangkum dokumen panjang. Contohnya, ChatGPT produk OpenAI, Gemini (Google), dan Claude (Anthropic).
Data per Juli 2026, ChatGPT memimpin pasar chatbot AI, dengan 53,9 persen kunjungan web di seluruh dunia di antara tujuh chatbot AI generatif terbesar. Mengungguli Gemini pabrikan Google (27,9 persen) dan Claude dari Anthropic (9,2 persen).
Dua Pendekatan Prioritas
Sebelum berselancar di jagat maya, ada dua pendekatan yang dapat dilakukan jurnalis dan humas untuk melakukan efisiensi biaya penggunaan AI. Narrative intelligence dan Language Skills. Narrative intelligence dengan menggunakan kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan menggunakan cerita guna melacak bagaimana sebuah informasi atau isu menyebar dan membentuk opini publik.
Selanjutnya, Language Skills untuk mengintegrasikan empat aspek keterampilan berbahasa, yakni mendengar (listening), berbicara (speaking), membaca (reading), dan menulis (writting) sebagai satu kesatuan yang utuh dan saling terhubung untuk membangun kompetensi komunikasi yang bermakna.
Tujuh Langkah strategis
Terdapat tujuh langkah strategis yang dapat dilakukan jurnalis dan humas untuk melakukan efisiensi biaya penggunaan AI. Pertama, utamakan publikasi kredibel seperti artikel editorial, kutipan pakar, dan validasi pihak ketiga. Karena mesin pencari berbasis AI lebih menyukai sumber organik dan earned media. Kedua, batasi penggunaan alat AI. Memeriksa secara berkala alat AI apa saja yang aktif dan menghapus fitur yang tidak penting untuk menekan biaya.
Ketiga, pilih model AI yang tepat. Gunakan ukuran model AI yang paling efektif dan pas dengan kebutuhan spesifik tugas kehumasan, bukan memakai model terbesar yang mahal. Keempat, perjelas perintah (prompting). Membua instruksi kerja yang ringkas dan batasi panjang keluaran (output) agar tidak membuang kapasitas komputasi. Kelima, kembalikan pada sentuhan manusia. Fokuskan AI hanya untuk draf awal atau analisis data rutin, sementara empati dan strategi utama dipegang langsung oleh jurnalis dan humas.
Keenam, tinjau ulang hasil AI. Lakukan penyuntingan manual secara kritis pada setiap produk komunikasi buatan AI agar hasilnya akurat dan sesuai citra merek. Terakhir, hindari risiko pelanggaran etika. Langkah penting untuk mencegah kesalahan informasi dan pelanggaran kode etik.
Adapun yang perlu dicatat, profesional komunikasi harus lebih cepat beradaptasi dengan asisten virtual (Chatbot) dan platformisasi. Meski demikian, efisiensi biaya penggunaan AI dan pengamanan data pribadi dari ancaman siber sangat diutamakan. Dapat disimpulkan bahwa keterbukaan, kejelian menganalisis, dan kehati-hatian menggunakan kecerdasan buatan harus diimbangi dengan kebutuhan biaya penggunaannya. Dengan kata lain, menggunakan asisten virtual (chatbot AI) dan platformisasi sama seperti memandang cashflow sebagai jendela perusahaan. (*/berbagai sumber)



