- Gairah Asisten Virtual dan Platformisasi, Godaan Baru Profesional Komunikasi
- Plt Ketua PWI OKU Selatan Diminta Siapkan Konferkab Lebih Demokratis
- Perkuat Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah melalui Operasi Modifikasi Cuaca
- Optimalkan Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah
- Kejari Musi Rawas Tetapkan Dua Tersangka Korupsi Dana Peremajaan Sawit
Gairah Asisten Virtual dan Platformisasi, Godaan Baru Profesional Komunikasi
Catatan Muhammad Azhari
(Pemimpin Redaksi Simbur)

PROFESIONAL komunikasi seperti jurnalis, humas, dan kreator konten mulai membuka jendela baru. Dengan dua daun jendela berbentuk asisten virtual (chatbot) dan platformisasi. Melihat wawasan dan pasar baru di dunia digital yang begitu ramai. Melakukan inovasi seakan menghirup udara segar. Meski demikian, tetap harus melakukan efisiensi agar cahaya yang masuk tetap menjadi penerang. Di samping itu, perlu menjaga kemananan data dari debu siber yang berseliweran.
Transformasi digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menjadi kebutuhan baru selain menyeruput kopi atau secawan teh di pagi bening, siang teduh hingga malam benderang. Masalahnya sekarang, biaya penggunaan AI diprediksi semakin meningkat pada tahun fiskal 2027 (FY27). Sungguh berdampak pada penghasilan hingga cicilan setiap bulan berjalan.
Sehubungan dengan itu, hasil survei Reuters Institute bersama Universitas Oxford tahun 2026 telah dirilis medio Juni lalu. Menyoroti revolusi asisten virtual dan platformisasi. Terjadi interaksi otomatis yang diintegrasikan berbagai platform untuk mengunci pengguna (user) agar tetap berada di dalam kamar digital dan tidak keluar, melompati jendela virtual.
Alih-alih sebagai alat untuk memproduksi berita atau konten di era digital. Maraknya penggunaan chatbot AI kerap menimbulkan kegelisahan. Hal itu terjadi akibat kondisi geopolitik global yang penuh gejolak. Mengenai kepercayaan dunia terhadap berita media massa atau konten media sosial.
Digital News Report 2026 mengungkap tabir dan lanskap yang dinamis. Khususnya dalam ekosistem media yang berkembang pesat selama setahun terakhir. Konsumsi berita kini semakin ditandai “platformisasi”. Media sosial dan jaringan video justru menjadi sarana utama untuk menelusuri berita secara global. Dengan demikian, masyarakat selaku konsumen media senantiasa dininabobokan hingga betah berlama-lama di ruang digital.
Pembuat Konten Menjamur
Bagai jamur di musim hujan. Popularitas media sosial sebagai sarana mendapatkan berita mencapai klimaks. Dibarengi dengan kemunculan barisan pembuat konten dan influencer melalui berbagai platform. Sorak-sorai terdengar di ruang digital, mengalahkan teriakan yel-yel para calon manajer koperasi desa.
Tercatat dalam survei yang dirilis, sekitar 27 persen konsumen memperoleh berita secara khusus dari influencer di media sosial. Angka tersebut kini semakin melonjak, menjadi 45 persen. Fenomena tersebut bisa terjadi karena pembuat konten tidak secara khusus menayangkan berita atau opini. Akan tetapi, mereka juga turut mengulas kronologis peristiwanya. Melebihi peran jurnalis dan humas.
Media Layanan Publik
Meski berangsur tumbang dan mulai berguguran, media layanan publik tetap menjadi institusi yang dipandang positif oleh masyarakat umum. Rata-rata 37 persen responden menyatakan bahwa berita layanan publik memberikan dampak positif bagi kehidupan di segala penjuru mata angin yang berembus di luar ruang digital. Sementara 35 persen memiliki pandangan beragam, dan 22 persen menganggapnya berdampak negatif.
Kepercayaan ini menegaskan pentingnya menjaga jurnalisme sebagai barang publik (public good). Termasuk relasi yang dibangun humas dengan media diharap membawa kesejukan di jagat maya. Terutama saat masifnya gerakan populis yang berupaya mencukur hingga memangkas habis anggaran publikasi serta menyudutkan lembaga penyiaran pada dinding kekuasaan.



