Gairah Asisten Virtual dan Platformisasi, Godaan Baru Profesional Komunikasi

Asisten Virtual (Chatbot AI)

Semua lapisan masyarakat, mulai dari asisten rumah tangga hingga asisten pemerintah daerah (pemda) tak mau kalah. Semua bisa memiliki dan menggunakan asisten virtual (Chatbot AI) selama memiliki akses internet dan/atau kuota setelah semua kebutuhan lahir batin terpenuhi.

Asisten virtual (Chatbot AI) dimaksud adalah program komputer yang menggunakan teknologi kecerdasan buatan, seperti pemrosesan bahasa alami (NLP) dan pembelajaran mesin (machine learning) melalui model bahasa besar (language large model/LLM) untuk meniru bahasa manusia. Asisten virtual lebih dari aplikasi yang memenuhi memori ponsel pengguna.

Meskipun penggunaan chatbot AI berbasis LLM untuk mengakses berita terus meningkat dari 7 persen menjadi 10 persen antara tahun 2025 dan 2026, tingkat penggunaannya di Eropa dan Amerika Serikat justru masih tergolong rendah dibandingkan rata-rata global. Hal ini disebabkan oleh rendahnya tingkat kepercayaan masyarakat Eropa terhadap AI.

Orang Eropa tidak percaya pada berita AI karena sangat alergi dengan hoaks atau deepfake (informasi palsu). Mereka menganggap berita AI kurang transparan, dan berisiko dimanipulasi. Mereka sangat berhati-hati terhadap teknologi luar dan melindungi warganya dengan aturan ketat penggunaan AI melalui EU AI Act. Bukan hanya itu, Eropa dikenal sebagai produsen AI terbesar di dunia. Di antaranya, Le Chat produksi Mistral AI asal Prancis, Lumo (Apertus, Swiss), dan SOOFI (Jerman).

Tren Platformisasi

Platformisasi adalah proses perubahan sistem di mana berbagai kegiatan, produk, atau layanan beralih menggunakan model berbasis platform digital. Salah satu platformisasi yang paling banyak digunakan yakni media sosial (medsos).

Media sosial terus menjadi pusat kebiasaan konsumsi global. Sekitar 54 persen masyarakat dunia menggunakan media sosial dan jaringan video untuk mengakses berita. Feed, konten video berdurasi pendek, serta platform seperti WhatsApp, TikTok, dan YouTube semakin menggeser saluran media tradisional hingga konvensional menjadi ruang utama bagi berita dan ulasan (review).

Laporan tersebut menegaskan bahwa format-format baru tidak menggantikan jurnalisme tradisional, melainkan mengubah pola konsumsi. Kendati harus lebih mengutamakan efisiensi dan kemudahan untuk konten yang dibagikan (shareability). Hal ini membuat para pengguna semakin suntuk dan tanpa sadar meninggalkan jejak digital.

Ancaman atau Peluang

Jurnalis dan humas di Indonesia kini dihadapkan dengan pengaruh platform digital dan konten daring yang kian marak. Terjadi pergeseran saat ini ketika jurnalis dan humas memainkan peran pembuat konten. Kebalikannya, content creator dan influencer lagaknya justru mengalahkan jurnalis dan humas saat bertanya dengan narasumbernya.

Lantas, bagaimana dunia mengubah cara audiens mengakses dan berinteraksi dengan berita atau konten. Hal itu dikemukakan Janet Steele, profesor bidang media serta urusan publik dan internasional di Universitas George Washington, Amerika Serikat.

Menurut Steele, platform media sosial seperti WhatsApp, YouTube, Facebook, dan TikTok sangat populer di Indonesia. Sekitar 64 persen masyarakat Indonesia mengaku mendapatkan berita dari berbagai platform. Meskipun penggunaan sebagian besar platform media sosial meningkat, WhatsApp tetap mendominasi baik untuk keperluan berita maupun tujuan lainnya.

Peningkatannya WhatsApp sebesar 13 poin persentase menjadi 56 persen untuk konsumsi dan distribusi berita. Di antara rata-rata global, hanya 17 persen dari 286 juta jiwa penduduk Indonesia yang rela membayar agar dapat mengakses berita daring.

Diketahui, survei Reuters dan Oxford 2026 menyasar populasi penduduk Indonesia 286 juta jiwa dengan sampel 2.053 orang. Adapun penetrasi internet mencapai 73 persen. Tingkat kepercayaan terhadap berita 32 persen dari rata-rata global 37 persen. Sementara, indeks kemerdekaan pers di Indonesia memiliki skor 43.02, peringkat 129 dari 180 negara. Opini publik tertinggi 61 persen, CNN dan Kompas. Sedangkan, penggunaan media konvensional TVOne New skor 40 dan media siber Detik[dot]com skor 52.