Jejak Melayu Jambi di Nganjuk, Hidup Damai Seribu Tahun

Lanjut Amin, pihaknya terus melakukan pengembangan destinasi untuk menarik wisatawan dari rumpun Melayu di Nusantara dan Asia Tenggara ke Nganjuk. “Pengembangan destinasi diarahkan pada wisata minat khusus yaitu penelusuran sejarah,” tutupnya.

Sementara itu, Sima Swatantra Anjuk Ladang dapat dikaji berdasarkan pendekatan Analisis Wacana Kritis (AWK) yang dikemukakan Norman Fairclough. Dalam teorinya, Fairclough mengungkap bahwa kekuasaan adalah inti yang bekerja melalui bahasa untuk menaturalisasi hubungan dominasi sosial, menyamarkan ideologi, serta menciptakan dan mempertahankan kekuasaan.

Terkait itu, Fairclough menganggap wacana tidak netral, melainkan medan pertarungan ideologis untuk membentuk persepsi dan realitas. Mengingat, kelompok dominan kerap menggunakan bahasa untuk melegitimasi kekuasaan. Sementara, wacana kritis bertujuan membongkar pesan yang tersembunyi untuk sebuah perubahan sosial.

Fairclough menawarkan konsep tiga dimensi dalam analisis wacana kritis, yakni teks, praktik diskursif, dan praktik sosial-kultural. Teks berupa analisis linguistik (kosakata, tata bahasa, struktur) untuk menemukan jejak ideologi dan representasi kekuasaan. Dalam hal ini, teks Sima Swatantra Anjuk Ladang berasal dari bahasa Sansekerta. Sima Swatantra berasal dari kata sima yang berarti “daerah yang diberi status bebas pajak” dan kata swatantra yang berarti “memiliki hak otonomi untuk mengatur daerahnya sendiri”. Sementara, Anjuk Ladang berasal dari kata anjuk yang berarti “kemenangan” dan ladang yang berarti “tanah.”

Praktik diskursif meliputi proses produksi, distribusi, dan konsumsi teks; bagaimana teks dipahami dan diinterpretasikan dalam konteks sosial. Dalam hal ini, teks Anjuk Ladang mencatat kemenangan Raja Empu Sindok selaku Raja Mataram Kuno atas serangan pasukan Melayu (Jambi) pada 929-937 Masehi. Saat itu penduduk lokal Anjukladang bisa mempertahankan wilayahnya dan berhasil mengusir pasukan Melayu Jambi. Menghargai jasa masyarakat setempat, Raja Empu Sindok lantas mendirikan sebuah monumen Jayastamba untuk memperingati kemenangan dan menetapkan Anjuk Ladang dengan prosesi upacara Manusuk Sima.

Praktik sosial-kultural menganalisis konteks sosial, historis, dan budaya yang lebih luas yang membentuk wacana, termasuk relasi kekuasaan yang ada. Berdasarkan peristiwa Anjuk Ladang, kemenangan tersebut tidak menghabisi semua pihak musuh. Akan tetapi, berujung pada rekonsiliasi budaya sebagai representasi kekuasaan yang ditunjukkan Empu Sindok saat menjadi Raja Mataram Kuno. Rekonsiliasi budaya yang dilakukan atas kekuasaan tersebut telah mengembalikan kondisi pada keadaan semula dengan menyatukan semua perbedaan untuk sebuah perdamaian yang masih dinikmati dan dilestarikan masyarakat hingga saat ini. (red/berbagai sumber)