- Karhutla Menggila di Pulau Kalimantan, Terdata 1.487 Hotspot
- Dukung Hilirisasi Sawit, Potensi Lahan di Sumsel 66 Ribu Hektare
- Tiga Provinsi Diguncang Gempa, Indonesia Tangguh Tanggulangi Bencana
- Modal Ventura Harus Diperkuat, Dorong UMKM dan Ekonomi Berkelanjutan
- Kodam II/Sriwijaya Komitmen Perangi Narkoba
Hujan Es Terjadi di Palembang, Bukan Hasil Modifikasi Cuaca
Bukan Hujan Buatan
Ditanya apakah hujan es terkait teknologi modifikasi cuaca (TMC), Siswanto menegaskan, tidak ada kaitannya dengan hujan buatan. “Hujan es adalah fenomena alam biasa. Tidak ada hubungannya dengan TMC atau kegiatan hujan buatan,” ujarnya.
Teknologi modifikasi cuaca (TMC), jelas Siswanto, lebih familiar dikenal masyarakat adalah hujan buatan merupakan suatu kegiatan yang melibatkan lintas sektoral seperti BRIN selaku scientist. Termasuk BMKG yang akan memberi rekomendasi kapan kegiatan TMC akan efektif dilakukan.
“TMC secara kegiatan adalah menaburkan garam (NaCl) dengan menggunakan pesawat yan diarahkan/disemai di atas awan yang secara spesifik memiliki potensi kandungan uap air yang cukup utk berkembang menjadi awan hujan,” paparnya.
Artinya, lanjut Siswanto, tanpa ada awan yang memiliki kandungan uap air yang cukup, sekalipun ditabur garam, awan tidak akan menghasilkan hujan yang sampai ke permukaan bumi. “Kalaupun berkembang menjadi awan hujan namun titik airnya tidak sampai jatuh ke permukaan bumi atau disebut dengan hujan virga,” terang Siswanto.
Ditambahkannya, kegiatan TMC memicu atau mempercepat menjadi turun hujan bahkan memiliki intensitas lebat. “Dalam hal ini benar tetapi dalam kaitannya fenomena hujan es. Bukan berarti TMC adalah menabur bongkahan es di atas awan,” tutupnya.(maz)



