Sumsel Didukung Grup Sinarmas Bakal Bangun Pusat Persemaian Benih Nasional

# Lokasi Direncanakan di Kebun Raya Sriwijaya

 

 

PALEMBANG, SIMBUR – Menuju Indonesia’s FoLU Net Sink 2030 (Forestry and Other Land Use), Sumatera Selatan diproyeksi masuk dalam sebelas provinsi pusat persemaian benih nasional yang tengah dikembangkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Program tersebut langsung disambut  Dinas Kehutanan didukung oleh grup Sinarmas yang ada di Sumsel untuk membangun pusat persemaian permanen di kawasan Kebun Raya Sriwijaya.

Kepala Dinas Kehutanan Sumsel Pandji Tjahjanto membenarkan kabar tersebut. Menurutnya, informasi dari BPDAS Musi, tahun 2022 di Sumsel akan dibangun persemaian permanen. “Rencana lokasinya, di Kebun Raya Sriwijaya. Tapi ini masih dikoordinasikan dengan Balitbangnov selaku pengelola Kebun Raya Sriwijaya,” ungkap Pandji, Jumat (5/8).

Kepada Simbur Pandji menyampaikan, rencananya Tim dari KLHK dan Pemprov Sumsel akan mengecek bakal lokasi tersebut. Terkait FoLU Net Sink 2030, lanjut Pandji, rencananya pada 24 Agustus 2022 akan dilakukan sosialisasi di Sumsel oleh KLHK. Dilanjutkan dengan Workshop pada 25 Agustus mendatang. “Namun sebelumnya direncanakan 22 Agustus akan dilakukan apel siaga karhutla dan penanaman bersama,” ujarnya.

Dikonfirmasi terpisah, Wakil Direktur PT OKI Pulp and Paper Mills Gadang H Hartawan yang mewakili direksi grup Sinarmas mengatakan, pihaknya akan segera melakukan koordinasi dan survei terpadu bersama Kementerian LHK, BPDAS Sumsel, dan Dinas Kehutanan Sumsel. Terutama untuk meninjau lokasi yang direncanakan di Kebun Raya Sriwijaya sembari beraudiensi kepada Gubernur Sumsel.

“Pusat persemaian (benih) ini dukungan dari Sinarmas dan seluruh pilar usaha yang ada di Sumatera Selatan,” tegas Gadang seraya menambahkan, hal lain belum bisa dibicarakan karena masih menunggu hingga MoU dan Launching oleh Menteri LHK  antara tanggal 15-19 Agustus 2022.

Sebelumnya, Menteri LHK Siti Nurbaya mengatakan, Presiden meminta dibangun 30 unit pusat persemaian serupa yang ada di Kalimantan Selatan agar dapat dibangun di seluruh Indonesia. Pembangunan persemaian terus berlangsung dan sedang disiapkan. Dilaksanakan dengan gambaran kemajuan sampai tahun 2022.

Ia melanjutkan jika Presiden telah menegaskan bahwa sejak November 2021 tahun lalu, kerja public private partnership sangat positif, dimana dunia usaha dapat mendukung pembangunan persemaian skala besar di berbagai provinsi di Indonesia. “Perintah ini sudah ditegaskan sejak 2019 dan secara bertahap terus dilaksanakan,” imbuh Menteri Siti Nurbaya usai menghadiri penandatanganan nota kesepahaman dengan PT Adaro Energy Tbk (Adaro) untuk membangun Pusat Persemaian di Kecamatan Liang Anggang, Kota Banjarbaru Provinsi Kalimantan Selatan, di Jakarta, Kamis (4/8).

Menurut Menteri LHK, pembangunan persemaian dengan skala besar pada setiap provinsi diarahkan untuk mendukung pemulihan ekosistem melalui rehabilitasi hutan dan lahan termasuk reklamasi areal/lahan bekas tambang. Selain itu juga berkaitan sangat erat dengan langkah-langkah Indonesia dalam merespon kondisi global (dengan isu pokok dan paling popular, yaitu berkaitan dengan sustainability, biodiversity dan sirkuler ekonomi juga dalam orientasi carbon offset.

Lanjut Menteri, Indonesia telah menegaskan agenda Indonesia’s FoLU Net Sink 2030 sebagai aksi mitigasi yang menunjukkan ambisi aksi iklim dalam pelaksanaan target kinerja melalui pendekatan yang lebih terstruktur dan sistematis. “Dengan ini Indonesia dapat memberikan contoh kejujuran bahwa komitmen bukan hanya sekadar janji pledge. Akan tetapi, betul-betul bekerja dalam delivered commitment,” tegas Menteri Siti.

Diketahui, sebelas provinsi yang sedang memulai program tersebut, yakni Rumpin, Jawa Barat (sudah diresmikan dan operasional), Danau Toba, Sumut (konstruksi selesai); Likupang, Sulut (konstruksi selesai); dan Labuan Bajo, NTT (konstruksi). Kemudian, Mentawir-IKN, Kaltim (pematangan tanah dan konstruksi simultan), serta Mandalika (persiapan pagar keliling dan penyiapan lahan).

Selanjutnya, Bali (khusus mangrove (konstruksi sedang berlangsung, hampir selesai); Kalsel ( menyusul proses untuk 2022); Sumsel (menyusul proses untuk 2022); Sultra (menyusul untuk proses 2022), dan Sulteng (menyusul untuk proses 2022). Sementara, bibit yang akan diproduksi meliputi jenis tanaman endemik (Kasturi, Kapul, Ramania, Meranti, Ulin, Gaharu, dll), tanaman estetika (Ketapang Kencana, Pucuk Merah, Tabebuya, Tanjung dll), dan tanaman penghasil Hasil Hutan Bukan Kayu/HHBK (Durian, Petai, Jengkol, Alpukat, Sawo, Kemiri, Sirsak dll). (red)