Wartawan “Raja Mancing”, Seperempat Abad Melikas Ikan

# Melihat dari Dekat Kehidupan Manusia Laut di Perairan Muara Sungsang dan Selat Bangka (2/Habis)

Hampir setiap orang di dermaga hingga bagan perairan muara Sungsang dan Selat Bangka mengenal sosok H Ocktap Riady. Selain berprofesi sebagai wartawan, peraih Press Card Number One tahun 2019 ini dikenal pula dengan julukan sebagai “raja mancing” oleh manusia laut yang hidup di bagan. Ji, sapaan H Ocktap Riady, mantan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Provinsi Sumatera Selatan (PWI Sumsel) dua periode ini sudah tak asing lagi di telinga para anglers (sebutan para pemancing). Berikut laporan selengkapnya.

MUHAMMAD AZHARI – PALEMBANG

Minibus hitam melaju kencang menuju dermaga Sungsang. Perjalanan darat ditempuhnya hanya dalam waktu 1,5 jam. Kali ini H Ocktap Riady bersama tiga rekannya melakukan mancing dasaran di perairan muara Sungsang dan Selat Bangka, Sabtu-Minggu (24-25/7).

Sebelum tiba di dermaga, tepatnya di Parit 5, dia menghentikan laju kemudi mobil yang dikendarai. Membeli ransum sembako seperti beras, mi instan, bumbu dapur, air mineral dan logistik lainnya untuk bekal selama tinggal di bagan nelayan. Tidak lupa pula membeli janjan yang akan digunakan sebagai umpan memancing ikan.

Sampai di dermaga, mobil diparkir sembari menunggu kapal pompong yang akan membawanya berlayar menuju bagan. Selang beberapa jenak, kapal pun datang. Semua peralatan dan perlengkapan memancing diunggah ke geladak kapal. Pompong pun berlayar. Di sungai sempat berhenti membeli balok es untuk mengawetkan ikan di dalam boks. Tidak lupa pula membeli 1/2 kg udang sebagai umpan di pasar terapung. Kapal pompong pun melaju menuju bagan.

Selama di kapal, H Ocktap mempersiapkan alat pancing seperti joran, merangkai kail dan melikas senar dengan timah pemberat dan kili-kili. Berbekal udang yang sudah dibeli, dia mulai memancing di atas kapal yang sedang berlayar. Dia pun tertidur pulas di atas kapal, di bawah terik matahari dan ayunan gelombang sungai setinggi 0,5-1 meter. Tak terasa hampir 1,5 jam perjalanan menyusuri muara sungai hingga batas laut. Tak satu pun kapal melintas selain pompong yang mereka tumpangi. Tibalah di sebuah bagan pinggir, lokasi pemancingan. Bagan tersebut diketahui milik Yanto yang dikelola iparnya, Edi (50 tahun).

“Pak Haji (Ocktap Riady) itu memang wartawan raja mancing. Saya mengenalnya sudah puluhan tahun,” ujar Edi, pengelola Bagan yang turut mendampingi selama di kapal pompong dan menemani selama satu hari tinggal di bagan.

Tiba di bagan sore, pak Haji langsung memasang umpan dan melempar kail. Baru malam hari ia mulai mendapat ikan seperti kerapu, blambangan, dan ikan sebelah. Sempat istirahat dan tidur sebentar saat fajar tiba. Setelah terjaga dan bangun pagi, dia kembali turun mancing di atas bagan. Puluhan ikan besar berhasil dikailnya dengan berapa kali strike. Di antaranya ikan gerot, babon sembilang, kerapu dan banyak lagi jenisnya.

Menurut Edi, kalau sudah mancing di Bagan, H Ocktap sering lupa daratan. Meski demikian, hasilnya strike dan diakui sangat luar biasa. Banyak ikan yang berhasil dipancingnya. “Kalau sudah mancing di bagan, kadang pak Haji lupa memakai baju. Padahal kalau siang hari, udara di laut sangat panas dan suhu teramat dingin pada malam hari,” ujarnya.

H Ocktap sendiri membenarkan bahwa dirinya menggeluti hobi memancing sudah 25 tahun. “Umur saya 50 tahun lebih. Mulai memancing saat anak pertama saya masih kecil. Boks ikan biru putih itu pertama kali saya memancing. Sudah lebih 25 tahun,” ujar Ocktap.

Ketua Bidang Advokasi dan Pembelaan Wartawan PWI Pusat itu sendiri mengakui, awalnya mancing ke perairan muara Sungsang dan Selat Bangka melalui jalur sungai lewat Dermaga 35 Ilir. Medan dan jarak tempuh diakuinya lebih berat dibandingkan jalan darat akses ke pelabuhan penyeberangan Tanjung Api-Api. Proses memancing dasaran pun dilakoninya dengan tidak mudah hingga mahir dan dijuluki raja mancing oleh manusia laut yang tinggal dan bekerja di bagan.

Pengalaman jatuh di laut pun tak membuat hobi memancingnya surut lalu hanyut terbawa arus dan perkembangan zaman. Hobi dan petualangan yang mempertaruhkan nyawa itu dengan sendirinya mampu dia tekuni sebagai angler profesional. “Saya pernah kecebur di bagian tangkul bagan. Beruntung arus laut tidak deras. Kebetulan juga tidak ada ular laut dengan bisa mematikan yang tersangkut di jala,” tandas Ocktap mengisahkan tantangan memancing dasaran di tengah laut.(*)

Share This: