Bimbing Mahasiswa Cerdas Hukum

# Diskusi Film KPK End Game

 

 

PALEMBANG, SIMBUR – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Politeknik Sriwijaya (Polsri) dan BEM Fisip Universitas Sriwijaya bersama sekitar 70-an mahasiswa gabungan dari berbagai kampus di Palembang menggelar nonton bareng (nobar) film KPK Endgame. Nobar dilanjutkan diskusi itu berlangsung di Cafe Pance Hub, Jalan Rambutan, Kamis (10/6) pukul 20.00 WIB.

Film KPK Endgame berdurasi sekitar dua jam itu, berisi pengakuan belasan para penyidik dan pegawai senior atau yang baru di KPK. Secara jelas, gamblang dan kuat, tentang permasalahan TWK, pelanggaran kode etik, disiplin kode etik, penanganan kasus-kasus kelas kakap, hingga adanya kriminalisasi. Pelemahan dan segala kepentingan terjadi di dalam internal atau di luar badan anti-rasuah tersebut.

Advokat Suwito Winoto SH MH didampingi M Hafiz Al Hakim dari DPD Federasi Advokat Republik Indonesia (Ferari Sumsel), hadir sebagai narasumber tentang polemik tengah hangat dan jadi sorotan publik tersebut.

“Anak muda harus cerdas, hidup mahasiswa, hidup rakyat. Melihat film ini, jelas tidak setuju kondisi KPK sekarang. Siapa yang memilih mereka, ya wakil rakyat. Semua partai ada di sana. Kalau sudah terpilih, negara  melalui DPR artinya dipilih rakyat,” serunya.

Sekilas, sekelompok orang ini tengah terzalimi, namun pihaknya tidak memihak, maka mencoba melihat dari segi hukumnya. Untuk sebuah kebaikan pasti ada pro dan kontra.  “Sebagai mahasiswa harus jeli menanggapi setiap kasus. KPK juga jangan dikriminalisasi, sebab telah menangkap koruptor-koruptor kelas kakap. Badan lain, no way, cuma KPK yang berani,” tegas Suwito.

Suwito  mengajak mahasiswa berpikir positif. Menurut dia, Setiap kebijakan, ada baik-buruknya. “Kalau bukan mahasiswa, siapa lagi yang membangun negara ini. Yakinlah tidak semua pengambil kebijakan munafik, pasti ada orang baik,” timbangnya.

Terkait pemberhentian penyidik dan pegawai senior KPK, hanya karena tidak lulus TWK. Salah satu langkahnya bila ada SK pemberhentian, maka bisa digugat lewat PTUN.

“Kalau ada SK pegawai diberhentikan bisa di PTUN, kalau ada bukti dikriminalisasi bisa praperadilan, salah satunya menghadap Komnas HAM, Ombudsman dan pengacara. Sehingga mereka yang terzolimi ini masih bisa bekerja. Saya lihat dari sisi hukum mereka terzalimi dan harus dibantu. Kalian selaku mahasiswa buat petisi, tanda tangan surati Presiden, DPR, karena tidak mau KPK hancur. Mereka butuh bantuan. Kita punya hati nurani, jadi ambil langkah hukum ini, BEM berkumpul ambil langkah,” beber Suwito.

Setelah semua disurati, baik gubernur, DPR, DPRD hingga Presiden, artinya ada tindakan dan semoga mengetuk hati mereka dalam menentukan kebijakan.  “Kami tidak mau KPK hancur. Kami lihat mereka bagus dan jujur. Bisa jadi ada kepentingan, tapi kita harus ada bukti. Kalau tidak, bisa kena pencemaran nama baik.  Anak anak muda harus cerdas, dengan dasarnya pemecatan SK, baru bisa mengajukan ke PTUN, atau ada kebijakan dari Ombudsman atau Komnas HAM. Kalau seperti ini, belum ada arah,” harapnya.

Bahkan salah satu mahasiswa yang hadir dalam nobar ini menegaskan, menurutnya KPK bukan saja tengah dilemahkan tapi dimatikan. “Saat aksi kami seperti mengalami intervensi, kepala negara seperti kehilangan kendali politiknya. Salah satunya revisi UU ITE,” ucapnya.

Suwito kembali bersuara, mafia hukum belum terbongkar sepenuhnya, itu baru permukaan saja. “Kalau tidak kuat jangan lawan lingkaran itu. Ikuti saja alurnya. Namun kalau tidak ada keadilan ya akan saya hajar,” tukasnya.

Di tempat yang sama, M Hafiz Al Hakim juga tampil sebagai pembicara. Hakim mengatakan, setelah melihat film KPK End Game, tentu menuai pro dan kontra. Di satu sisi KPK sangat bagus dan baik, masyarakat menjadi sangat terbantu bagaimana kejamnya perbuatan para mafia di sana.  “Sebelum lebih jauh, melihat yang lebih besar. Ada baiknya koreksi ke dalam diri sendiri. Apakah sudah menghindari perilaku korup, menamankan kejujuran dan keberanian. Kalau sudah terbiasa menanamkan yang baik akan pasti akan berpengaruh pada perilaku,” timbang Hakim.

Denis, Ketua BEM Polsri Bukit Besar Palembang didampingi M Rangga ketua pelaksana kegiatan mengatakan, film KPK End The Game sangat menarik dan antusias diputar anak muda dan mahasiswa.

“Film ini sangat menarik dan sudah banyak diputar BEM di kota-kota lain, lalu kenapa tidak, hampir semuanya. Nah malam ini kita juga nobar film ini. Posternnya sudah ada di Medan, di Palembang, banyak kota-kota lain,” ungkapnya.

Jadi bagi mahasiswa yang kritis, tidak hanya bisa stori saja, tapi mereka hadir dan mengerti isi pemerintah kita dalam salah satu sudut pandang ini. “Untuk yang hadir malam ini dari BEM Fisip Unsri, ada mahasiswa lain dari kampus lain. Kami tahu basis terbesar aksi ya mahasiswa, tujuan kita mencerdaskan mahasiswa, mengerti ketika mereka bicara tentang KPK. Mereka paham tentang masalah KPK,” harapnya.

Mahasiswa Managemen Informatika Polsri ini melanjutkan, salah satu kesimpulan dari nobar malam ini, yakni mencerdaskan mahasiswa dan mereka juga mengerti permasalah sedang terjadi di KPK.

“Kami juga terus belajar untuk tidak korupsi, dimulai dari hal kecil, dari diri sendiri. Menurut saya kondisi buruk KPK saat ini sudah dilemahkan bahkan dimatikan. Harusnya KPK dikuatkan dan transparan,” tukas Denis. (nrd)