- Jaksa Sita Truk dan Alat Berat Perusahaan Terkait Korupsi Distribusi Semen
- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
- Diduga Menghalangi Penyidikan Kasus Korupsi, Staf Ahli Bupati Muba dan Oknum Pengacara Jadi Tersangka
- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
Kado Pahit Akhir Tahun, Palembang Zona Merah
# Resolusi 2021 Para Juru Bicara Satgas Covid-19 di Sumsel
PALEMBANG, SIMBUR – Akhir tahun 2020, Kota Palembang kembali berstatus zona merah atau risiko tinggi penyebaran Covid-19. Data tersebut berdasarkan hasil analisis tim pakar dan Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Pusat per 27 Desember 2020. “Palembang kembali ke zona merah per 27 Desember 2020,” ungkap Yudhi Setiawan SKM Mepid, Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (PP2M) Dinkes Kota Palembang, dikonfirmasi Simbur, Kamis (31/12).
Yudhi berharap agar kasus Covid-19 di Kota Palembang dapat dikendalikan pada tahun 2021. “Mudah-mudahan Covid-19 bisa dikendalikan. Walaupun kasusnya ada tapi tetap terkendali. Memang 2021 kita ada vaksin. Pesan WHO orang yang divaksin juga harus tetap menjaga protokol kesehatan,” ujarnya.D
Dia menambahkan, Pemerintah Kota melalui Dinas Kesehatan Palembang juga fokus meningkatkan kepatuhan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan. “Harapan kami kepatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan meningkat. Karena strategi yang paling efektif itu adalah kepatuhan masyarakat,” tegas Yudhi.
Dirincikannya, konfirmasi positif Covid-19 di Palembang per 31 Desember 2020 bertambah 45 kasus sehingga totalnya menjadi 5.480 kasus. Lebih kurang 77,4 persen atau 4.241 kasus Covid di Palembang sudah sembuh. Pasien meninggal ada 269 kasus (4,9 persen). Sementara, pasien masih dirawat, isolasi mandiri ada 970 kasus aktif (17,7 persen) yang tersebar di 18 kecamatan.
Sementara, Kota Prabumulih yang sebelumnya berstatus zona merah kini turun menjadi zona orange atau risiko sedang penyebaran Covid-19. “Prabumulih sudah dari kemarin orange,” ungkap dr Happy Tedjo, Juru Bicara Satgas Covid-19 sekaligus Kepala Dinas Kesehatan Kota Prabumulih.
Tedjo mengatakan, masyarakat harus waspada selama masa libur panjang dan musim penghujan. Hal itu dapat berpotensi menimbulkan penyakit menular selain Covid-19. “Namanya musim libur agar jaga diri, jaga jarak, cuci angan. Di samping itu ini musim dingin virus makin berkembang. Makanya banyak minum air hangat. Bukan hanya Covid-19 yang diwaspadai tapi juga penyakit lainnya seperti DBD, flu dan lainnya,” ungkap Tedjo.
Terkait rapid test, Tedjo menilai masih mahal. Pihaknya mengimbau tidak mahal paling mahasl Rp275 ribu supaya tidak memberatkan. Tujuannya kan agar mengurangi orang bepergian. “Kalau mungkin sudah menjadi standar pada 2021, akan menjadi pemikiran ulang Pemkot Prabumulih untuk mengadakan laboratorium PCR sendiri,” ujarnya.
Dikonfirmasi, Kasi Surveilans dan Imunisasi Dinas Kesehatan Sumsel Yusri berharap agar masyarakat dapat tetap mematuhi protokol kesehatan saat pergantian tahun 2020 ke 2021. “Tahun berganti. Kita masih dalam pandemi Covid-19. Belum bisa berharap banyak kapan akan berakhir,” ungkapnya kepada Simbur.
Penambahan kasus baru, lanjut Yusri, masih terus bertambah dan bersifat naik turun. “Itu menandakan pengendalian yang belum konsisten menuju ke arah perbaikan ke penambahan yang semakin rendah,” ujarnya.
Dia juga berharap agar masyarakat dapat memutus mata rantai penyebaran Covid-19 dan Sumsel terbebas dari pandemi. Dapat disimpulkan, kata Yusri, belum bisa dipastikan kapan pandemi berakhir. “Kami meminta peran serta semua untuk memutus rantai penularan dengan mematuhi protokol kesehatan (pakai masker, jaga jarak dan selalu cuci tangan),” sarannya.
Dengan demikian, ujar dia, kasus baru tidak bertambah lagi agar bisa terbebas dari pandemi, kembali beraktivitas normal lagi. “Sebaliknya, jika tidak disiplin menerapkan protokol kesehatan, kita masih dalam pandemi yang berkepanjangan tanpa kepastian kapan berakhir,” ulangnya.
Dijelaskan Yusri, terdapat penambahan 92 kasus konfirmasi positif baru di Sumsel per 31 Desember 2020. Dengan demikian, jumlah kumulatif positif Covid-19 di Sumsel sebanyak 11.826 orang. Penambahan positif itu, lanjut Yusri, berasal dari Palembang 45 orang, Prabumulih 11 orang, OKUS 3 orang, Musi Banyuasin 6 orang, Muara Enim 9 orang, Lubuklinggau 3 orang, Banyuasin 2 orang, dan OKUT 13 orang. “Total kasus positif 11.826 orang,” sebutnya.
Sementara, penambahan sembuh sebanyak 50 orang. Berasal dari Palembang 23 orang, Prabumulih 6 orang, Banyuasin 1 orang, dan Lahat 20 orang. “Jumlah total sembuh 9.567 orang atau 80,89 persen,” jelasnya sembari menambahkan, kasus meninggal bertambah 1 orang dari Musi Banyuasin. “Jumlah total meninggal 611 orang atau 5,16 persen,” ungkapnya.
Adapun kasus selesai, kata Yusri, berjumlah 10.178 orang (sembuh 9.567 orang dan meninggal 611 orang. “Kasus aktif 1.648 orang,” terangnya seraya merincikan, total suspect 30.187 orang yang terdiri dari probable 382 orang, konfirmasi 7.013 orang, discarded 19.802 orang, dalam proses 2.990 orang, dan kasus suspect baru 180 orang.
Sebelumnya, Prof Wiku Adisasmito, Koordinator Tim Pakar dan Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 untuk Pemerintah mengatakan, perkembangan peta zonasi risiko tingkat kabupaten/kota pekan ini masih menjadi catatan. “Pada minggu ini terjadi peningkatan yang cukup tinggi pada zona risiko tinggi. Jika pada minggu sebelumnnya (zona merah) terdapat 60 kabupaten/kota, pada minggu ini angkanya bertambah menjadi 76 kabupaten/kota,” jelas Wiku belum lama ini.
Meskipun daerah zona oranye atau risiko sedang menurun, dari 378 pekan lalu menjadi 377 pekan ini, yang masih disayangkan ialah pada zona kuning atau risiko rendah jumlahnya berkurang. Dari minggu sebelumnya 64, pekan ini menjadi 48 kabupaten/kota. Lalu pada daerah zona hijau tidak ada kasus baru dan tidak terdampak jumlahnya tetap yaitu masing-masing 8 daerah.
Meskipun daerah zona hijau tidak ada perubahan jumlahnya, namun Wiku meminta meningkatnya zona merah perlu menjadi bahan evaluasi untuk masing-masing daerah. Karena jika dilihat sejak Minggu pertama November, angka cenderung meningkat. Hal ini selaras dengan peningkatan kasus aktif, kasus positif dan kasus meninggal.
Melihat lebih rinci pada awal November, jumlah zona merah hanya berjumlah 19 dari 314 kabupaten/kota. Pekan ini angkanya meningkat drastis menjadi 76 kabupaten/kota. “Ini menandakan risiko penularan di tingkat kabupaten/kota mengalami perkembangan ke arah yang tidak baik. Mohon perbaiki zona daerahnya dengan cara meningkatkan disiplin protokol kesehatan,” tegas Wiku. (maz)



