- Sita 4 Ton Timah Ilegal Senilai Rp1,7 Miliar di Pangkalpinang
- Dilanda Kekeringan, Sejumlah Daerah di Indonesia Kekurangan Air Bersih
- Peringati Hari Bhayangkara Ke-80, Optimistis Kepercayaan Publik terhadap Polisi Terus Meningkat
- Dewan Pertimbangan SMSI Pusat Taufiequrachman Ruki Terima Bintang Kehormatan dari Presiden Prabowo pada Hari Bhayangkara ke-80
- Sambut Hari Bhayangkara Ke-80, Polda Sumsel Gelar Doa Bersama Lintas Agama
Mahasiswa Tewas saat Diksar Menwa, Sempat Kesurupan setelah Melihat Kuburan Belanda
PALEMBANG, SIMBUR – Diduga kelelahan mengikuti kegiatan pendidikan dasar (diksar) resimen mahasiswa (menwa), HS (17), mahasiswa Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang mengembuskan napas terakhir. Mahasiswa asal Bekasi tersebut tewas saat mengikuti diksar di Sembawa, Banyuasin, Rabu (4/9).
Diketahui, HS baru tiga minggu kuliah di UIN Raden Fatah dan ngekos di Rawa Jaya Palembang. Setelah meninggal, jenazahnya langsung diterbangkan ke daerah asalnya Bekasi melalui Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, Kamis (5/9).
Wakil Rektor III UIN Raden Fatah Palembang, Rina Antasari membenarkan peristiwa tersebut. “Kami berduka sangat dalam ketika mengikut pradiksar. Itu pilihan pribadi dia dan suadah atas izin orang tuanya mengikuti resimen mahasiswa (Menwa). Orang tuanya berasal dari Banten tinggal di Bekasi. Hebat Sangaji ikut tes masuk bersama perguruan tinggi. Dia mengkuti pelatihan pradiksar baris berbaris push up dan sit up lalu merasa tidak kuat lagi,” ungkap Rina.
Menurut Rina, korban merasa sakit saat diksar di tempat kejadian, Balai Penelitian Pertanian Sembawa, Selasa (3/9) sekitar pukul 17.00 WIB. Korban sempat bicara ngelantur dan tidak jelas. “Di situ ada kuburan Belanda. Korban diamankan pelatihnya. Saat korban kesurupan, dipanggilkan kiai, orang pintar di situ. Setelah diobati, korban sehat. Tak seberapa lama korban bicara ngelantur kembali. Dia lari ke belakang itu, ada sungai atau danau buatan. Ada batu di pinggir itu. Tak lama kemudian dia jatuh. Saat diangkat korban masih sehat dan masih ngomong sendiri, kemudian lari ke sumur,” jelasnya.
Masih kata Rina, pada malam hari, saat badan korban dipegang terasa dingin. Korban langsung dibawa ke RSMH Palembang dari Banyuasin. Panitia berangkat subuh, sekitar pukul 07.00 WIB pagi Hebat Sangaji dinyantakan meninggal dunia. “Kami selaku pimpinan UIN Raden Fatah Palembang langsung menyambangi rumah sakit. Kami kabarkan orang tuanya. Ayah, ibu, dan saudara-saudaranya datang semua,” katanya.
Masih kata Rina, jenazah almarhum awalnya mau dikuburkan di Palembang. Akan tetapi, orang tuanya berubah pikiran dan ingin menmakamkannya di Bekasi. “Pihak UIN Raden Fatah bertanggung jawab. Karena orang tua berubah pikiran kami bawa lagi ke rumah sakit Siti Khodijah untuk dikafankan dan disalatkan, terus dimasukkan ke dalam peti jenazah sesuai SOP pesawat terbang. Kami bersama pihak rumah sakit mengantar keluarga dan jenazah ke bandara,” tutup Rina.(rgs)



