Jangan Kalah dengan Start-up

PALEMBANG, SIMBUR – Sebagai perusahaan pertama yang bermain di bisnis layanan pos, PT Pos Indonesia seyogianya menjadi role model bagi perusahaan startup baru yang mencoba menjajal bisnis layanan pos. Apalagi, dalam menghadapi era digital saat ini, sudah seharusnya Pos Indonesia menjadi market leader layanan pos yang kian hari semakin ramai.

Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel), Herman Deru menilai jika eksistensi dan pengalaman Pos Indonesia yang sudah berdiri sejak zaman penjajahan Belanda seharusnya tidak kalah dengan perusahaan swasta layanan pos yang baru lahir.

“Meskipun beberapa layanannya hilang (berpisah) seperti telegram, tetapi akhirnya Pos Indonesia berdiri sendiri. Jadi, meskipun Pos Indonesia sudah tua tetapi tidak kalah dengan startup-startup yang main di bisnis layanan pos,” ujarnya kepada Simbur di Jakabaring Sport City (JSC), Senin (12/8).

Gubernur tetap memberi apresiasi untuk kemampuan Pos Indonesia yang tetap bertahan dengan core business-nya walau di tengah-tengah masifnya teknologi di era digital saat ini. “Pos Indonesia salah satu perusahaan (BUMN) yang bisa survive (bertahan hidup) di tengah guncangan teknologi yang semakin maju. Dimulai dengan pengiriman-pengiriman konvensional, namun mereka bisa membuat inovasi-inovasi baru sehingga masih bisa bertahan dalam bisnis layanan pos,” ungkapnya sambil menyaksikan latihan para drifter Palembang.

Apalagi, Deru mendengar jika sampai saat ini Pos Indonesia masih tetap untung dalam menjalankan bisnisnya. Oleh sebab itu, dirinya berharap Pos Indonesia menjadi contoh bagi perusahaan layanan pos lainnya. “Harapan saya karena sampai saat ini saya mendengar Pos Indonesia masih mendapat keuntungan, agar bisa menjadi contoh bagi usaha-usaha lain yang harus berani menghadapi era digital saat ini,” pungkasnya sembari memastikan jika Pos Indonesia pasti masih dibutuhkan masyarakat Indonesia dalam bentuk layanan-layanan khusus (layanan pos).

Terbitnya Undang-Undang (UU) Nomor 38/2009 dimana penyelenggaraan Pos dapat dilakukan oleh badan usaha yang berbadan hukum termasuk BUMD, swasta, dan koperasi, secara tidak langsung menjadi pintu gerbang kompetitor untuk mengganggu eksistensi bisnis layanan pos yang sebelumnya dimonopoli oleh Pos Indonesia. Belum lagi, cepatnya perkembangan teknologi informasi yang mau tidak mau harus dimanfaatkan untuk memaksimalkan layanan berbasis digital.

Pos Indonesia dikatakan masih memiliki banyak pekerjaan rumah yang harus segera dibenahi untuk tetap bertahan di tengah serbuan bisnis logistik dan layanan pos dari para kompetitornya. Salah satu pengamat sekaligus akademisi, Hengky Honggo mengatakan untuk menghadapi era disrupsi termasuk di dalamnya revolusi industri 4.0, Pos Indonesia harus segera memutar otak dengan membuat inovasi-inovasi baru atau produk-produk baru yang bisa diterima masyarakat.

“Mereka harus membuat inovasi-inovasi baru di era digital ini. Membuat produk-produk baru yang berhubungan dengan Pos Indonesia, pelayanan yang menjadi lebih baik, fitur-fitur baru untuk memudahkan pengguna layanan pos. Sosialisai digitalisasi dari Pos Indonesia (harus) ditingkatkan,” ujar Hengky, Kamis (8/8).

Selain itu, sistem jemput bola sebaiknya dilakukan untuk masuk ke daerah-daerah yang sulit dijangkau oleh layanan pos. Hal tersebut tentu akan memanjakan masyarakat. “Pos Indonesia juga bisa masuk ke daerah-daerah yang jauh dari layanan pos. Mungkin bisa memakai sistem “jemput bola” untuk pelanggan yang sibuk, tapi ingin mengirim barang. Itu bisa dijemput,” ujar dosen di salah satu perguruan tinggi di Palembang itu.

Hengky masih meyakini jika Pos Indonesia masih bisa bertahan sebagai sebuah badan usaha, bahkan bisa saja melebihi para kompetitornya. Namun harus dengan meningkatkan inovasi, dan perubahan harus dilakukan secara menyeluruh seiring perkembangan zaman. “Menurut saya posisi Pos Indonesia  itu sangat strategis. Karena dengan aset, SDM dan implementasi digitalnya, Pos Indonesia  akan menjadi sangat besar di negeri ini. Salah satu penunjang adalah peningkatan SDM dengan pengetahuan teknologi informasi saat ini,” ujarnya.

Dilanjutkan, salah satu yang tidak boleh dilupakan Pos Indonesia dalam menjalankan bisnis layanan posnya, adalah nilai sejarah yang dinilai bisa membangkitkan nostalgia masal lalu setiap orang.

“Menurut saya sangat bisa menjual nilai sejarah dengan kemasan yang baru. Pos Indonesia (bisa)  menjadi salah satu heritage di Indonesia . Itu bisa menjadi destinasi wisata bagi turis lokal maupun mancanegara. Jangan sampai dittinggalkan, karena Pos Indonesia mempunyai nilai sejarah yang sangat dalam bagi perkembangan bangsa indonesia,” harapnya.

Ditambahkan, dalam bisnis layanan pos saat ini, Hengky merasa jika tidak perlu ada regulasi baru dari pemerintah untuk menunjang eksistensi Pos Indonesia dalam menghadapi serbuan kompetitor. Namun, yang diperlukan adalah bentuk kerjasama antara Pos Indonesia dengan pihak swasta.

“Tidak perlu regulasi baru, tapi Pos Indonesia mengajak swasta untuk bekerjasama dan kolaborasi. Saling menunjang kinerja satu sama lain sehingga bisa bersinergi. Misalnya servis di daerah-daerah yang belum terjangkau oleh swasta bisa dibantu oleh Pos Indonesia, atau pengiriman dari swasta, pengantarannya bisa lewat Pos Indonesia atau sebaliknya,” jelasnya.

Selain itu, Pos Indonesia juga harus menempatkan anak muda atau generasi milenial sebagai salah satu segmentasi yang membutuhkan inovasi dan kreativitas. “Buat event untuk anak muda (milenial). Misalnya desain kartu pos, perangko, dan lain-lain, walaupun tidak digunakan secara resmi. Selain itu, programkan kunjungan ke kantor Pos Indonesia  bagi anak-anak sekolah,” tutupnya. (dfn)