Empat Polisi Terbakar, IPW Kecam Aksi Pelemparan Bom Molotov

CIANJUR, SIMBUR – Empat anggota Polres Cianjur terbakar akibat lemparan bom molotov. Nahas dialami empat polisi itu saat mengamankan aksi unjuk rasa mahasiswa di depan Kantor Bupati Cianjur, Kamis (15/8). Unnjuk rasa digelar gabungan aliansi mahasiswa se-Cianjur. Akhir demonstrasi, mahasiswa membakar ban bekas sebagai bentuk penolakan atas kinerja Plt Bupati Cianjur, Herman Suherman. Sejumlah anggota Polres Cianjur yang bertugas berusaha menghalangi dan memadamkan ban bekas yang mulai menyala. Ada seorang anggota polisi yang diduga kena percikan bensin kemudian langsung tersambar api.

Adapun keempat polisi itu, yakni Bripda Aris Simbolon, anggota Satsabhara Polres Cianjur tengah menjalani perawatan di RSUD Cianjur. Rencananya akan dirujuk ke RS Hasan Sadikin Bandung karena mengalami 30 pesen luka bakar. Selanjutnya, Bripda Yudhi, anggota Satsabhra Polres Cianjur kini dirawat di RSUD Cianjur karena mengalami 30 pesen luka bakar. Kemudian, Aiptu Erwin Yudha, anggota Polsek Kota Cianjur/Babinkamtibmas Bojongherang dirujuk ke RS Polri Kramat Jati karena mengalami luka bakar 80 persen. Terakhir, Bripda Anif, anggota Satsabhara Polres Cianjur mengalami luka ringan dan tidak rawat inap.

Ketua Presidium Indonesian Police Watch (IPW), Neta S Pane mengecam keras aksi pembakaran empat anggota polisi dalam demo di Cianjur, Jawa Barat. Polri didesak mengusut tuntas kasus ini agar pelakunya dihukum berat dan ditelusuri apakah ada kelompok teroris ikut bermain dalam aksi tersebut. Menurut Neta, dalam beberapa aksi demo yg berujung bentrok sering kali polisi luka akibat dilempari batu dan kayu oleh pendemo, bahkan pernah beberapa kali polisi dilempari molotov. Tapi belum pernah terjadi polisi terbakar tubuhnya akibat dilempari pendemo dengan molotov. Paling hanya terkena percikan api dari molotov yang dilemparkan pendemo tersebut dan segera bisa diatasi polisi itu bersama polisi lain.

“Jadi, apa yang terjadi di Cianjur, di mana ada empat polisi menderita luka bakar 30 sampai 50 persen saat mengendalikan aksi demo adalah sebuah peristiwa yang sangat memprihatikan dan tidak bisa ditolerir. IPW mengecam keras peristiwa ini dan mendesak polisi segera mengusut tuntas kasus ini, lalu menuntut pelaku dan otak pelakunya dihukum seberat beratnya. Selain itu kordinator aksi demonya harus segera ditangkap dan dihukum berat,” tegas Neta S Pane dalam keterangannya yang diterima redaksi, Jumat (16/8).

Melihat kronologisnya, ungkap Neta, IPW menilai aksi penyerangan dan pembakaran anggota polisi di depan umum itu sudah terencana dan terstruktur. Hal ini terlihat dari adanya demonstran yang membawa bahan bakar minyak dalam aksi tersebut. Saat sejumlah polisi berusaha memadamkan kobaran api dari ban bekas yg dibakar pendemo, saat itulah pendemo lain melemparkan bahan bakar minyak ke arah dan tubuh aparat kepolisian tsb hingga 4 polisi tubuhnya terbakar parah. “Dari sini terlihat bahwa upaya membakar polisi itu sudah terencana matang dan terstruktur. Ada yang membakar ban. Ada yang membawa minyak dan melemparkan bahan bakar minyak ke tubuh polisi hingga tubuh empat polisi terbakar parah,” sebutnya.

Selama ini, tambah dia,  yang menjadi musuh besar polisi adalah para teroris dan kelompok radikal yang nyata-nyata berani menyerang dan membunuh anggota polisi secara terbuka di depan umum. Dengan adanya kasus Cianjur ini, musuh besar polisi bertambah satu lagi, yakni kelompok demonstran radikal yang berani menyerang dan membakar polisi di depan umum. Bagi Neta, bagaimana pun kasus Cianjur ini menjadi fenomena baru dan ancaman baru bagi jajaran kepolisian dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat.

“Jajaran kepolisian harus mengusut dengan intensif kasus Cianjur ini, apakah penyerangan dengan cara membakar anggota polisi di depan umun itu murni atas inisiatif dan dilakukan massa demonstran semata atau ada penyusupan kelompok teroris atau kelompok radikal dalam aksi demo tersebut. Pertanyaan ini patut dilontarkan karena ada sejumlah orang yang membawa bahan bakar minyak dalam aksi demo itu, kemudian melemparkannya ke anggota polisi yang sedang memadamkan ban bekas yg dibakar massa,” terangnya.

Masih kata Neta, IPW menduga aksi ini sudah direncanakan dgn matang, sehingga misi mereka untuk membakar polisi di depan umum berhasil dan sukses. Kasus ini tentunya menjadi tantangan berat jajaran kepolisian ke depan, apalagi jika memang ada kelompok teroris dan radikal yang ikut bermain di balik aksi demo massa di Cianjur. “Untuk itu Polri harus mengusut tuntas kasus ini agar para pelaku dan otak penyerangan ini bisa dihukum seberat-beratnya,” tutupnya. (kbs)