- Bertambah Jadi 53 Korban Tewas, 137 Orang Terluka, dan 5.488 Warga Dievakuasi akibat Gempa NTT
- Renungan Suci, Kenang Jasa Pahlawan
- Panjat Pinang hingga Jalan Santai Warnai Hari Kemerdekaan
- Instruksi Keluarkan Darurat Gempa NTT agar Anggaran dan Bantuan Dapat Disalurkan
- Terdata 47 Warga Tewas akibat Gempa NTT
Bertambah Jadi 53 Korban Tewas, 137 Orang Terluka, dan 5.488 Warga Dievakuasi akibat Gempa NTT
JAKARTA, SIMBUR – Pendataan korban maupun kerusakan pasca gempa M7,7 di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) masih terus dilakukan petugas gabungan. Lebih dari 50 warga meninggal dunia dan ratusan rumah mengalami kerusakan.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, Ph.D mengatakan, data sementara pada Minggu (15/8), pukul 16.00 WIB, total jumlah korban meninggal dunia mencapai 53 orang. Sebaran korban tersebut teridentifikasi di Kabupaten Manggarai 25 orang, Manggarai Timur 20 orang, Sikka 4 orang, Manggarai Barat 1 orang, Nagekeo 1 orang dan Ende 2 orang. Selain korban meninggal, petugas gabungan juga mengevakuasi dan melakukan perawatan medis terhadap para korban luka-luka. “Total korban luka-luka mencapai 137 jiwa. Saat ini, korban luka sedang menjalani perawatan di fasilitas kesehatan terdekat maupun faskes darurat,” ungkapnya.
Data sementara sore tadi, total rumah rusak berat sebanyak 154 unit, rusak sedang 49 unit, dan rusak ringan 38 unit. Kerusakan juga terjadi pada fasilitas umum, seperti fasilitas Pendidikan, tempat ibadah, kantor pemerintahan dan sejumlah fasilitas umum lain.
“Pendataan warga yang mengungsi masih terus dilakukan oleh tim gabungan. Hingga Minggu (16/8) sebanyak 5.488 jiwa mengungsi secara terpusat dan 171 jiwa lainnya mengungsi secara mandiri,” paparnya.
Gempa susulan tercata berjumlah 995 kali dengan gemla yang dalat dirasakan masyarakat sebanyak 46 kali. Merespons gempa di NTT, Kepala BNPB bersama jajarannya menteri lainnya telah tiba di lokasi terdampak untuk mendukung percepatan penanganan darurat. Meski fokus utama saat ini adalah pencarian dan pertolongan korban, kebutuhan masyarakat mengungsi juga diupayakan pemerintah.
Sejumlah bantuan telah disalurkan baik melalui jalur darat maupun udara. Bantuan yang telah tiba di antaranya bantuan logistik dari pemerintah pusat yang telah tiba di Maumere dan Labuan Bajo pada Minggu (16/8). Total bantuan yang disalurkan mencapai 4.925 paket.
Gerakkan Bantuan Logistik
Sementara itu, bantuan logistik dan peralatan penanganan darurat dimobilisasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak, termasuk di Kabupaten Sikka. Bantuan segera didistribusikan kepada warga terdampak dengan menggunakan moda transportasi darat, laut dan udara.
Bantuan tersebut menjadi bagian dari respons pemerintah pusat dalam mendukung pemerintah daerah menangani kebutuhan dasar masyarakat serta memperkuat pelayanan kepada warga terdampak bencana. BNPB telah menggerakkan bantuan darurat dari gudang logistik di Flores Timur untuk mendukung penanganan di wilayah terdampak.
Berdasarkan laporan per hari ini (16/8), bantuan yang diberikan BNPB dan telah diserahterimakan kepada Pemerintah Kabupaten Sikka meliputi 5 unit tenda pengungsi, 146 unit tenda keluarga ukuran 4 x 4 meter, 200 kasur lipat, 400 buah tikar, 100 selimut, 300 selimut, 300 paket sembako, 100 paket kids ware, 10 unit genset, 100 paket hygiene kit, 5 unit water tank, 3 unit baterai light tower, serta 2 unit charger light tower.
“Seluruh bantuan tersebut tercatat bersumber dari BNPB dalam kondisi utuh, baik dan lengkap berdasarkan berita acara serah terima,” ujar Berton.
Pengiriman logistik dan peralatan tersebut diharapkan dapat mempercepat pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, khususnya warga yang rumahnya mengalami kerusakan maupun masyarakat yang harus mengungsi akibat gempa.
Distribusi Logistik ke Pulau Palue
Dukungan logistik tersebut selanjutnya didistribusikan secara bertahap ke wilayah-wilayah terdampak. Untuk menjangkau masyarakat terdampak di Pulau Palue, Kabupaten Sikka, distribusi bantuan dilakukan melalui jalur laut dengan menggunakan kapal/perahu. “Moda transportasi laut dipilih untuk menjangkau wilayah kepulauan yang memiliki keterbatasan akses transportasi darat,” ungkapnya.
Distribusi melalui jalur laut menjadi salah satu upaya percepatan agar bantuan dapat menjangkau masyarakat terdampak bencana. Kondisi geografis Pulau Palue serta gangguan akses pascagempa menjadi tantangan tersendiri dalam mobilisasi bantuan. Pemerintah terus mengupayakan berbagai moda transportasi, termasuk jalur laut dan udara, untuk menjangkau wilayah yang sulit diakses.
Kepala BNPB Letjen TNI Dr. Suharyanto, S.Sos., M.M., menegaskan pentingnya percepatan penanganan melalui pengaktifan posko di daerah terdampak sehingga pendataan, pencarian dan pertolongan, serta penanganan pengungsi dapat dilakukan secara terkoordinasi, terpadu dan efektif.
Selain BNPB, sejumlah kementerian dan lembaga juga mengerahkan sumber daya untuk mendukung penanganan gempa. “Pemerintah pusat terus berkoordinasi dengan pemerintah provinsi dan kabupaten/kota terdampak untuk memastikan bantuan disalurkan sesuai kebutuhan di lapangan,” ujar Suharyanto.
BNPB bersama seluruh unsur penanganan bencana akan terus memantau perkembangan situasi dan kebutuhan masyarakat. “Memastikan dukungan logistik dan peralatan dapat dimobilisasi secara cepat untuk mendukung proses tanggap darurat di wilayah terdampak,” tandasnya.(red)



