Kontainer 32 Ton Berisi Kelapa Milik Pengusaha Cina Melintang di Depan Istana Gubernur

# Tak Ada Korban Jiwa, Satu Innova Hancur

# Petani Kelapa Minta Segera Ditindak

 

 

PALEMBANG, SIMBUR – Kemacetan mengular di Jalan Demang Lebar Daun, Palembang, tepatnya di depan Griya Agung, Istana Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel), Sabtu (25/5). Kemacetan akibat mobil fuso yang mengangkut kontainer berisi kelapa terbalik dan melintang menutup lajur kanan dan kiri jalan. Fuso dengan nopol L 9007 UT yang mengangkut kontainer beratnya berkisar 32 ton itu, rencananya akan dibawa ke pelabuhan Boom Baru.

Tidak hanya terbalik dan melintang di tengah jalan, kontainer juga menghantam satu mobil Toyota Innova. Padahal, Innova hitam dengan nopol BG 1261 IW yang rusak parah itu sejatinya adalah milik orang yang mencoba menolong dengan mengganjal ban mobil Fuso, agar tidak mundur lurus ke arah kendaraan-kendaraan lainnya.

Menurut sopir, Febri menjelaskan jika penyebab laju mundur mobil fuso yang dikendarainya bukan karena rem yang blong atau kelebihan muatan. “Ini kan jalanan menanjak dan tidak lancar. Saat di situ saya berusaha untuk oper gigi tetapi tuasnya patah. Saya sudah mengerem, tapi sulit karena posisi sudah di atas,” ungkapnya.

Dipastikan Febri, jika kontainer yang terguling itu berisi kelapa yang akan dibawa ke pelabuhan Boom Baru. “Isinya kelapa dari Musi II. Total beratnya 32 ton,” jelasnya.

Terkait Innova yang rusak berat karena tertimpa kontainer, Febri tidak tahu jika mobilnya akan mengarah ke Innova yang terparkir. Bahkan, dia mengatakan jika justru pemilik Innova itulah yang membantunya untuk mengganjal ban fuso agar tidak melaju ke bawah. “Pemilik mobil Innova itu malah yang membantu mengganjal mobil fuso ini,” katanya.

Pemilik Innova nahas, Febrianda menjelaskan jika dia dan temannya memarkir mobil bukan untuk menonton sopir fuso berjuang sendiri menghentikan laju mobilnya. “Kami yang mencoba menolong dengan membantu mengganjal kontainer yang tidak terkendali lagi. Kami tidak pernah terpikir mobil yang kami parkir bakal dihantam dengan Fuso itu. Cuma kami berpikir kalau fuso itu mundur ke bawah, bakal banyak korban yang mati,” ujarnya.

Terlepas mobilnya hancur, Febrianda justru kecewa dengan sikap masyarakat sekitar yang cenderung hanya menonton saja. “Sebenarnya, pada saat kejadian banyak warga di sekitar sini, tapi hanya nonton saja. Saya tidak bisa bayangkan kalau mobil fuso itu turun ke bawah, mungkin bakal banyak korban,” keluhnya kecewa.

Sementara itu, truk bertonase besar dan mobil tronton yang melanggar peraturan Wali Kota (Perwali) tentu saja berpengaruh terhadap  aktivitas masyarakat dan lalu lintas. Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Sumsel, Nelson Firdaus pernah memastikan jika Dishub Sumsel beserta pihak kepolisian akan ikut mengawasi aksi ilegal truk bertonase besar.

“Kami (Dishub) juga tetap memerhatikan termasuk juga pihak kepolisian atau Dirlantas,” ungkap Nelson beberapa waktu lalu.

Dijelaskan, peraturan tentang mobil truk bertonase besar sudah diatur dalam Perwali Kota Palembang. “Untuk kendaraan-kendaraan yang sudah ditentukan itu diatur dengan Perwali. Lewat di Jalan Soekarno-Hatta,” pungkasnya.

Dikonfirmasi terpisah, Wakil Ketua Umum Perhimpunan Petani Kelapa Indonesia, Muhammad Asri memastikan jika petani kelapa sebagai pemasok tidak mengetahui apa-apa soal dokumen perizinan ekspedisi truk kontainer yang terbalik di depan Istana Gubernur.  “Terkait perizinan melintas di jalan kota pada siang hari, saya kurang tahu. Itu yang pasti dari pihak kontainer. Karena yang mengurus dokumen segala macam itukan pihak kontainer (bukan petani),” jelasnya.

Dirinya juga berharap, praktik-praktik seperti itu bisa ditindak sesuai dengan peraturan yang berlaku di Sumatera Selatan (Sumsel). “Ini memang harus dijelaskan. Sebenarnya tidak boleh masuk (melintas) siang hari di kota, itu kan (bisanya) jam malam. Itu harus ditindak, karena tidak mungkin itu keluar (melintas) tanpa izin kan. Tidak mungkin berani dia jika tidak ada dealnya. Jadi, dipastikan pemasok (petani kelapa) tidak terlibat, karena sifatnya beli putus,” jelasnya memastikan.

Dijelaskan, kontainer itu bukan dari petani kelapa. Karena itu adalah korporasi yang biasanya dimiliki oleh orang Cina untuk kepentingan ekspor. “Itu grup-grup Cina. Kontainer panjang biasanya itu (pengusaha) Cina. Kan ada penghubung (trading) perusahaan dengan petani kelapa di sana. Nah biasanya mereka yang mengurus dokumen. Cuma tidak tahu kalau soal tanggung jawabnya, apakah mengurus dokumen itu tanggung jawab trader atau pihak kontainernya,” ungkap Asri.

“Kami sebagai petani kelapa, berharap soal itu bisa di-clear-kan, karena kelapa kami butuh diserap pasar juga. Jangan sampai terganggu (pemasarannya),” harap Asri yang juga merupakan salah seorang petani kelapa itu. (dfn)