- Jaksa Sita Truk dan Alat Berat Perusahaan Terkait Korupsi Distribusi Semen
- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
- Diduga Menghalangi Penyidikan Kasus Korupsi, Staf Ahli Bupati Muba dan Oknum Pengacara Jadi Tersangka
- Sinergi Hadapi Musim Kemarau, Apel Karhutla Sumsel Bakal Digelar di Kampung Nelayan Sungsang pada 6 Mei 2026
- Resmi Dilantik, 325 Bintara Remaja TNI AD Siap Mengabdi untuk Negeri
Konferensi Damai, Kompetisi Selesai
PALEMBANG, SIMBUR – Persatuan Wartawan Indonesia Sumatera Selatan (PWI Sumsel) menggelar Konferensi Provinsi (Konferprov) guna membahas laporan pertanggungjawaban pengurus lama dan pemilihan calon ketua baru. Konferensi rasa kompetisi para calon ketua PWI Sumsel periode 2019-2024 itu berlangsung di Asrama Haji Palembang, Sabtu (26/1). Meski demikian, konferensi berakhir damai dan kompetisi pun selesai.
Suasana pesta demokrasi di kalangan wartawan Sumsel itu sempat memanas sehingga kerap dihujani mosi dan interupsi. Meski harus menahan haus, lapar, dan ngantuk saat sidang malam hingga fajar, peserta dan panitia Konferprov akhirnya dapat menyelesaikan agenda pleno hingga Minggu (27/1) pagi sekitar pukul 05.30 WIB.
Konferprov dibuka langsung Ketua Umum PWI Atal S Depari. Dikatakan Atal, terlaksananya Konfrensi Provinsi Sumsel menjadi tantangan bagi ketua terpilih ke depan, untuk membawa PWI Sumsel lebih baik. “Ini luar biasa. Banyak sekali calon yang muncul untuk membenahi PWI Sumsel ke depan,” ungkapnya.
Atal berharap PWI Sumsel dapat sejalan dengan visi misi PWI Pusat, sesuai motonya PWI zaman now. Artinya PWI harus mengikuti kondisi zaman digital. “Harus bisa beradaptasi dengan digital sekarang. Sudah menjadi tugas ketua PWI Sumsel untuk memberikan pendidikan yang mumpuni bagi seluruh anggotanya,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Gubernur Sumsel, Mawardi Yahya yang hadir memberikan sambutan terpukau dengan gelaran Konferprov PWI Sumsel. Seperti dijelaskan panitia, kata Wagub, konferprov kali spektakuler karena banyaknya peserta yang hadir. “Seperti yang saya sampaikan pada sambutan tadi, semoga terpilih ketua yang terbaik. Tidak ada anak emas, tidak ada anak angkat,” ungkapnya.
Mawardi menyampaikan permohonan maaf dari Gubernur Sumsel Herman Deru yang berhalangan hadir karena ada acara yang tidak bisa ditinggalkannya di Bandar Lampung. “Media cetak adalah ujung tombak pembangunan, terutama di Sumsel. Sekarang tangan-tangan media se-Sumsel hadir di sini, menghadiri Konferprov dan pemilihan ketua PWI Sumsel,” seru Mawardi.
Bukan saja Provinsi Sumsel, lanjut dia, pimpinan Pemprov dan masyarakat Sumsel, termasuk tangan-tangan media berharap menghasilkan kepengurusan yang akan datang lebih baik lagi. “Saya bersama Herman Deru dipercaya sebagai gubernur dan wakil gubernur di usia 3 bulan 20 hari. Kami sadar tangan-tangan media mungkin merasakan perubahan belum mendapat fasilitas. Insya Allah ke depan, harapan kami, terutama kepedulian terhadap insan pers, alangkah baiknya disampaikan kepada kami,” ungkapnya
Masih kata Mawardi, jika wartawan tidak dilayani, Pemprov Sumsel siap untuk dikritik. Itu karena, menurut dia, perubahan di Sumsel sangat berbeda dari rezim sebelumnya. “Pimpinan sebelumnya (Gubernur dijabat Alex Noerdin) yang ingin Sumsel di internasional. Herman Deru dan Mawardi perlu memyampaikan informasi ke desa-desa,” tegasnya seraya menambahkan, Gubernur dan Wagub tidak mengharap pujian setinggi langit. “Melalui media kami sampaikan di tengah masyarakat itulah kerja kami. Dalam kurun berapa tahun Sumsel peringkat 21 sekarang peringkat 23,” terangnya.
Diwartakan sebelumnya, Anwar Rasuan selaku ketua pelaksana Konferprov PWI Sumsel mengatakan, kegiatan tersebut dapat terlaksana atas bantuan pemerintah provinsi, unsur muspida dan stakeholder lainnya. “Segala sesuatunya terkoneksi berkat kerja sama dengan pemerintah daerah, provinsi dan kabupaten kota serta seluruh jajaran muspida yang ada di Sumsel,” ungkapnya.
Dia juga menyampaikan terima kasih atas kerja sama semua pihak, terutama kepada senior-senior PWI di Sumsel. “Tugasnya memang sangat berat tapi dibantu semua pihak dan panitia lainnya,” tutup Anwar.
Intrik dan konflik kepentingan terjadi selama proses persidangan konferensi bernilai ratusan juta rupiah itu. Mulai dari penetapan tata tertib, penentuan pimpinan sidang hingga pemilihan calon ketua dan Dewan Kehormatan PWI Sumsel. Laporan pertanggungjawaban Ketua PWI Sumsel di bawah komando H Ocktap Riady SH akhirnya dapat diterima anggota dan ketua PWI kabupaten/kota. Dengan demikian, pengurus lama PWI Sumsel resmi dinyatakan demisioner.
Memasuki pleno pemilihan calon ketua baru, suasana formal berubah jadi tegang. Meski demikian, nuansa sidang terkesan monoton, seakan mampu meninabobokkan peserta dari sekelumit permasalahan selama konferensi. Sidang pemilihan ketua dipimpin Marshal (anggota tertua), Nurul Falah (perwakilan daerah), dan Mala (wakil perempuan).
Dari total mata pilih 463 dengan 446 anggota hadir mencapai kuorum. Suara Jon Heri dan Hadi Prayogo bersaing ketat dengan selisih tidak begitu besar. Berbeda dengan suara Firdaus Komar yang melambung tinggi, sedangkan suara Aan Sartana terjun bebas bila dibandingkan perolehan suara kandidat lainnya.
Pada putaran pertama, Firdaus Komar unggul dengan 155 (sempat salah hitung dan tertulis 156) suara, Jon Heri 111 (sempat salah hitung dan tertulis 121) suara, Hadi Prayogo 106 (sempat salah hitung dan tertulis 116) suara, serta Aan Sartana 62 suara (tetap dan tidak berubah). Terdapat 2 suara rusak sehingga total berjumlah 436 suara. Selisih 37 suara dari 446 pemilih yang hadir dan mandataris (446 suara).
Lobi dan negosiasi dilakukan tim Jon Heri dan Firdaus Komar untuk mendulang suara Hadi Prayogo dan Aan Sartana. Saat masuk pada putaran kedua, terjadi kegaduhan terkait sinkronisasi data pemilih untuk mencapai opsi kuorum dan keabsahan kartu keanggotaan.
Hasil penghitungan suara pada putaran kedua Firdaus Komar pun kembali unggul dengan 199 suara dari Jon Heri yang mengantongi 109 suara. Terdapat 8 suara rusak sehingga totalnya berjumlah 316 suara. Terjadi perubahan jumlah pada putaran kedua dan putaran pertama karena banyak peserta yang meninggalkan ruang konferensi. Alhasil, suara Firdaus Komar bertambah 44 sedangkan Jon Heri berkurang 2 suara.
Firdaus Komar yang unggul pada penghitungan suara mengatakan bahwa Konferprov ini merupakan salah satu wujud demokrasi. Dikatakannya, proses demokrasi di PWI Sumsel untuk suksesi pergantian ketua telah dilakukan sesuai aturan.
“Kami sudah komit[men] siapa pun yang terpilih jadi ketua harus kami dukung. Untuk amanah ini bisa saya lakukan sesuai dengan komitmen dan janji saya memajukan atau membenahi PWI yang selama ini belum sesuai dengan ekspektasi anggotanya,” tegas Firdaus usai penghitungan suara.
Sesuai misi membuat PWI maju, dirinya menambahkan, ke depan dirinya ingin membenahi organisasi. “Menjadikan PWI berbasis digital sesuai dengan turunan PWI Pusat. Gambaran PWI sebagai organisasi yang besar harus terlihat dari pengorganisasian, mulai dari sekretariat sampai SDM-nya,” ungkapnya.
Firdaus mengaku telah menyiapkan rencana program, baik jangka pendek maupun jangka panjang. “Di depan kantor PWI akan kami jadikan zone tempat nongkrong anak-anak wartawan milenial. Kemudian di tengah sebagai klinik wartawan. Jadi anak-anak wartawan yang ingin ikut UKW dapat diberikan pembekalan sesuai item yang diujikan,” paparnya.
Terkait kerja sama, lanjut Firdaus, PWI siap bersinergi dengan pemerintah provinsi. “Apa pun kebijakan pemerintah provinsi sebagai pemimpin di Sumatera Selatan, PWI sebagai wadah organisasi wartawan di Sumsel dapat bersinergi dengan pemprov,” terangnya.
Ditanya kompetisi dengan tiga kandidat lainnya, Firdaus menanggapinya secara prakmatis. “Menurut saya, teman-teman bagus semua. Siapa pun yang sudah berkomitmen mengambil alih kepemimpinan PWI saya pikir semua punya kemampuan, punya skill dan dorongan untuk memajukan PWI lebih baik,” jelasnya.(maz)



