- Kukuhkan Pokja News Room Jaga Desa saat Demo 27 Agustus 2026, SMSI: Tidak Ada Motif Politik
- Jalankan Proses Hukum 15 Kasus Karhutla dengan 17 Tersangka di Sumsel
- Imam Salat Istisqa Ajak Masyarakat dan Para Pemimpin Sumsel Bertaubat
- Presiden Prabowo Berikan Atensi Percepat Penanganan Karhutla Sumsel
- Hotspot Meningkat, Karhutla di Sumsel 1.672 Kali dengan Luas Lahan Terbakar 1.926,2 Hektare
“Ditendang” dari Manajemen Sriwijaya FC dan Lepas Saham
PALEMBANG, SIMBUR – “Sebagai pribadi, sebagai Gubernur Sumsel, bantulah agar masyarakat tetap bangga tanpa melibatkan kepentingan pribadi dan politik bagi personal kita masing-masing. Saya minta dengan kerendahan hati Pak Muddai mundur dari manajemen ini,” tegasnya.
Begitu pernyataan H Herman Deru selaku Gubernur Sumsel dan atas nama pribadi meminta Direktur Utama PT Sriwijaya Optimis Mandiri (SOM), Muddai Madang mundur dan melepas sahamnya. Pernyataan Herman Deru memecah suasana urun rembuk di Hotel Horison Ultima Palembang, Senin (14/1).
Ya, begitulah puncak konflik dalam tubuh Sriwijaya FC (SFC) yang semakin memanas. Hal itu terlihat dari otoritas Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru, baik dalam pidatonya maupun saat akan meninggalkan urun rembuk. Selain kebijakan diskresi, Gubernur sempat mengeluarkan pernyataan keras untuk mengamputasi manajemen SFC saat ini. “Kami tidak ingin mencari orang yang sakit hati, dan juga tidak ingin menyakiti hati orang. Jika direkomendasikan untuk kebaikan, (manajemen) harus amputasi,” ujarnya.
Dilanjutkan, Deru bahkan sudah mengambil sikap terkait saham mayoritas yang dimiliki Mudai. “Saya sudah mengambil kesimpulan tadi. Secara pribadi saya minta kepada Mudai (untuk) lepaskan saja (saham) kalau memang dikehendaki oleh forum ini. Dan yang bersangkutan sudah siap tadi untuk melepaskan,” ujarnya.
Deru yakin bahwa rembuk tersebut akan membuahkan hasil yang baik. Jika direkomendasikan oleh forum Mudai harus Mundur, maka dia akan meminta secara pribadi. Tapi ini tujuannya untuk kebaikan, bukan untuk emosi-emosian. “Karena SFC milik masyarakat Sumsel,” tuturnya.
Dia menegaskan kepada Sekda provinsi agar tidak ragu-ragu mengambil keputusan. “Pokoknya sebelum 15 Januari semua sudah selesai termasuk ganti manajemen. Sekda tidak usah ragu-ragu. Tidak ada drama-dramaan di sini. Saya tidak ingin moril masyarakat Sumsel dijadikan sandiwara. Saya ingin SFC menjadi klub yang nyata meskipun harus turun tingkat,” ungkapnya.
Gubernur menegaskan kembali bahwa dirinya sama sekali tidak setuju jika keberadaan klub sepak bola Sriwijaya FC yang selama ini telah menjadi kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan dibubarkan, ganti nama, atau dijual. “Saya tegaskan bahwa kita harus mencari solusi, sebab SFC tidak boleh bubar. SFC tidak boleh ganti nama, SFC harus tetap di Palembang karena SFC terlahir memang untuk masyarakat Sumatera Selatan,” tegas Herman Deru.
Mudai Madang terlihat langsung meninggalkan ruangan usai Sekda Sumsel menegaskan jika dirinya sudah sepakat untuk menyerahkan seluruh saham PT SOM kepada HD. “Silakan tanya kepada Sekda. No comment (tidak ada komentar). Tanya Sekda ajalah. Kan semuanya (saham) sudah diserahkan kepada Gubernur,” pungkasnya dengan raut muka kusut dan masam.
Sementara, Sekda Sumsel, Nasrun Umar menjelaskan jika dirinya hanya mau berbicara perihal aspek legal saja. “Saya tidak mau bicara saham. Saya cuma mau bicara soal aspek legal. Malam ini terjadi penyerahan kunci dari manajemen SFC yang selama ini dipegang oleh Mudai Madang kepada Herman Deru,” ucapnya.
Mengenai apakah akan ada peralihan perseroan terbatas (PT) dari PT SOM ke lembaga lain, Nasrun belum bisa memastikan. “Karena porsinya sebagai Gubernur akan menyerahkan kepada siapa manajemennya yang akan memimpin dengan tepat. Itu yang ditunggu. Bisa saja PT baru atau BUMD. Karena BUMD bisa, koperasi pun bisa, nanti dilihat. Tentu dengan arahan Gubernur Sumsel,” jelasnya.
Demikian diungkap mantan manajer SFC, Baryadi mengapresiasi sikap Mudai Madang yang mau memberikan saham PT SOM kepada HD tanpa syarat. “Pak Mudai Madang hebat, mau menyerahkan (saham) tanpa syarat. Masalah etis tidak etis, ya itu sudah terjadi. Hebat Mudai menyerahkan itu tanpa harus membeli, menjual,” katanya sembari mengatakan jika siap masuk ke dalam management baru SFC.
Terkait dirinya yang tidak mau membeli saham SFC, Baryadi enggan untuk mengalami kerugian. “Sekarang kan kalau mengelola sepakbola (klub) pasti rugi. Bagaimana saya sebagai pengusaha mengelola (klub) pasti rugi. Kalau masih ada kesempatan untung, masih ada harapan. Ini kan tidak ada, udah pasti rugi. Walaupun profesional (pasti) rugi,” ujarnya.
Sementara, salah satu legenda SFC, Ferry Rotinsulu mengatakan jika dirinya berharap agar SFC tetap ada meski turun kasta ke Liga 2. “Saya sebagai mantan pemain berharap SFC harus terus ada. Walaupun turun ke liga 2, bukan berarti segalanya. Saya yakin di tahun 2020 SFC bisa naik kasta ke Liga 1 lagi,” harapnya sembari mengatakan jika dirinya percaya SFC akan bangkit jika management kembali bersatu. (dfn)



