Hotspot Meningkat, Karhutla di Sumsel 1.672 Kali dengan Luas Lahan Terbakar 1.926,2 Hektare

PALEMBANG,  SIMBUR – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan kembali mengganas. Terutama saat terjadi peningkatan jumlah titik api (hotspot) yang tersebar di seluruh kabupaten/kota. Hal itu diungkap Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman. “Ada peningkatan hotspot,” ujar Sudirman, dikonfirmasi Simbur, Minggu (23/8).

Dijelaskannya, dari 1 Januari – 23 Agustus 2026 terdapat 11.527 titik api di Sumsel. Selama Agustus 2026, jumlah hotspot di Sumsel mencapai 1.742 titik. “Total karhutla di Sumsel 1.672 kali dengan luas lahan terbakar 1.926,2 hektare,” terangnya.

Sudirman menambahkan, titik api terbanyak di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) sejumlah 537 titik. Kemudian, Musi Banyuasin 344 titik, Muara Enim 237 titik, Banyuasin 168 titik, dan OKI Timur 124 titik. “Selanjutnya, Pali 98 titik, Ogan Ilir 73 titik, Musi Rawas 45 titik, Lahat 39 titik, Muratara 35 titik, OKU Selatan 15 titik, dan OKU 13 titik. Lalu, Empat lawang 8 titik, Palembang 4 titik, dan Prabumulih 2 titik,” paparnya.

Kondisi udara (ISPU), lanjut Sudirman, Ogan Ilir dengan nilai 365 kategori  berbahaya. Pali 201 (sangat tidak sehat), Palembang 195 dan Musi Banyuasin 106 (tidak sehat). Selanjutnya, Lahat 84 dan Muara Enim 72 (sedang). OKUS 44, Prabumulih 44, Mura 3 (baik). “Jarak pandang 500 meter berkabut,” ungkapnya.

Diketahui, Sumsel menduduki peringkat empat karhutla terparah dari enam provinsi yang menjadi prioritas penanganan karhutla di Indonesia. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga 9 Agustus 2026, total luas lahan terbakar sekitar 48.889,69 hektare.

Terluas di Kalimantan Barat sekitar 28.680,47 hektare, Riau 15.551,76 hektare, dan Kalimantan Tengah 3.069,52 hektare. Disusul Sumatera Selatan 664,87 hektare, Jambi  540 hektare, dan Kalimantan Selatan 383,07 hektare.

Hingga akhir Juli 2026, luas lahan terbakar di Sumsel mencapai 664,87 hektare. Total 520 kejadian karhutla hingga 28 Juli 2026. Sementara, total karhutla di Sumsel  per 23 Agustus 2026 mencapai 1.672 kejadian dengan luas lahan terbakar 1.926,2 hektare. Artinya, selama satu bulan, terjadi peningkatan tiga kali lipat. Baik jumlah kejadian karhutla maupun luas lahan yang terbakar di Sumsel.

Sementara itu, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memperketat penanganan karhutla di Sumsel melalui penebalan personel, intensifikasi pemadaman darat-udara, serta penegakan hukum di lapangan. Khususnya di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Ogan Ilir, Muara Enim, dan Musi Banyuasin.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, menjelaskan bahwa strategi pemadaman mengombinasikan ketahanan darat dengan dukungan teknologi udara. “Pemadaman darat tetap menjadi benteng utama. Di kawasan gambut, padam di permukaan belum tentu selesai, sehingga tim Manggala Agni terus melakukan pendinginan ekstra (mopping up) agar bara di bawah permukaan benar-benar padam total,” ujar Ferdian.

Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho, yang turun langsung memimpin supervisi di Sumatera Selatan, menegaskan pentingnya tanggung jawab pemegang izin dalam menjaga areal kerjanya. “Pemadaman berjalan, penegakan hukum juga berjalan. Kami sedang mendalami penyebab kebakaran ini, baik unsur kelalaian, kesengajaan, maupun kepatuhan pemegang izin dalam menyiagakan sarana pencegahan. Jangan sampai kelalaian di suatu lokasi berdampak pada masyarakat luas dan memaksa petugas berjibaku berhari-hari. Jika ditemukan pelanggaran, pasti kami tindak tegas,” tegasnya.(red)