Tiga Provinsi Diguncang Gempa, Indonesia Tangguh Tanggulangi Bencana

# Selain di NTT, Gempa Juga Guncang Sumut dan Sulteng

JAKARTA, SIMBUR – Selain di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), gempa bumi juga mengguncang Sumatera Utara (Sumut) dan Sulawesi Tengah (Sulteng). Tiga gempa terjadi dalam satu hari sebelum Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81 tahun.

Gempa bumi dengan kekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8) pukul 04.58.24 WIB. Gempa utama berpusat di laut pada koordinat 8,41 Lintang Selatan dan 121,39 Bujur Timur dengan kedalaman 15 kilometer, sekitar 38 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo.

Guncangan kuat dirasakan selama kurang lebih satu menit di Kabupaten Nagekeo, Sikka, Manggarai Barat dan Kota Bima. Dirasakan di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan, termasuk Jeneponto, Kepulauan Selayar dan Maros. Pasca gempa utama, tercatat sedikitnya empat gempa susulan dengan magnitudo antara M5,5 hingga M6,2.

Bukan hanya di NTT, gempa bumi dengan kekuatan Magnitudo 6.1 terjadi di laut, pada Selasa (18/8) pukul 13.02 WIB. Titik pusat gempa berada pada kedalaman 29 Km, 147 km Tenggara Kabupaten Nias Selatan, Provinsi Sumatera Utara.

“Berdasarkan informasi yang dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), gempa ini tidak berpotensi tsunami,” ujar Berton SP Panjaitan, Ph.D, Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB.

Guncangan gempa dirasakan lemah selama 3-5 detik oleh warga Kabupaten Nias Selatan. Dampak guncangan juga diraskan hingga wilayah Provinsi Sumatera Barat, tepatnya di wilayah Kabupaten Pasaman Barat, Kabupaten Agam, dan Kota Padang.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) masing-masing wilayah terdampak langsung melakukan monitoring dampak pascagempa untuk memastikan adanya dampak yang ditimbulkan akibat gempa tersebut.

Pihaknya mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah percaya informasi yang tidak jelas sumbernya. Pastikan bangunan tempat tinggal aman dari retakan. “Tetap pantau informasi resmi dari BMKG dan BPBD setempat. Jika terjadi gempa susulan yang kuat, segera menuju ke tempat lapang dan jauhi pantai,” ujarnya.

Masih di Sumatera Utara, sebelumnya terjadi gempa bumi magnitudo (M) 6.4 di Kabupaten Simalungun, Provinsi Sumatera Utara pada Sabtu (15/8) pukul 17.54 WIB.

Berton mengatakan, keterangan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), episentrum gempa berada pada Lintang 2.97 LU dan Bujur 98.95 BT dengan kedalaman 163 kilometer. Pusat gempa berada di darat dan tidak berpotensi tsunami.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Utara melaporkan gempa dirasakan di beberapa wilayah antara lain Kabupaten Simalungun, Kota Medan, Kabupaten Pakpak Bharat, dan Kabupaten Tapanuli Tengah.

Di Kabupaten Simalungun, Kota Medan, dan Kabupaten Pakpak gempa dirasakan kuat selama 30 detik. Sementara di Kabupaten Tapanuli Tengah, gempa dirasakan kuat selama 10 detik.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama BPBD, Basarnas, TNI, Polri dan unsur terkait terus memantau perkembangan situasi di wilayah terdampak. “Personel diturunkan untuk melakukan asesmen terhadap dampak dan korban jiwa yang mungkin ditimbulkan akibat peristiwa ini,” ujar Berton.

Pihaknya mengimbau agar masyarakat tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan yang masih dapat terjadi. Masyarakat hendaknya melakukan evakuasi ke lokasi yang lebih aman sesuai instruksi petugas di lapangan dan menghindari bangunan dan benda yang rawan roboh seperti tiang listrik dan papan reklame. “Senantiasa memantau pembaruan informasi dari sumber resmi dan terpercaya seperti BNPB, BPBD, dan BMKG,” imbaunya.

Sementara itu, gempa bumi berkekuatan magnitudo (M)6,2 yang mengguncang wilayah Sulawesi Tengah (Sulteng) pada Sabtu (15/8) pukul 23.25.19 WIB. Berdasarkan pemutakhiran data hingga Minggu (16/8) pukul 09.30 WIB, petugas masih melakukan pendataan kerusakan dan dampak gempa di sejumlah wilayah terdampak.

Gempa berpusat pada koordinat 0,25° Lintang Utara dan 120,22° Bujur Timur dengan kedalaman 44 kilometer. Pusat gempa berada 74 kilometer barat daya Parigi Moutong, 86 kilometer timur laut Donggala, 91 kilometer barat daya Tolitoli, dan 133 kilometer timur laut Palu. Gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.

Di Kabupaten Parigi Moutong, guncangan dirasakan cukup kuat selama kurang lebih 10 detik. Sementara di Kota Palu, gempa dirasakan selama sekitar 10 hingga 20 detik. “Sebagian masyarakat yang merasakan guncangan berhamburan keluar rumah,” ulas Berton.

Berdasarkan laporan sementara, terdapat satu korban meninggal dunia, yang diduga meninggal akibat serangan jantung. “Selain itu, dua kantor pemerintahan dilaporkan terdampak dan kondisi kerusakannya masih dalam proses pendataan,” ungkapnya.

BPBD Kabupaten Parigi Moutong telah melakukan koordinasi dengan unsur terkait dan asesmen di lapangan. BPBD Provinsi Sulawesi Tengah bersama BPBD Kabupaten Parigi Moutong terus melakukan monitoring untuk mengidentifikasi dampak yang ditimbulkan pascagempa.

Perkembangan informasi akan dimutakhirkan berdasarkan hasil asesmen dan laporan dari petugas di lapangan. Pihaknya mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana sesuai dengan karakteristik ancaman di wilayah masing-masing.

Sementara dalam menghadapi potensi gempa bumi, masyarakat diimbau tetap tenang dan tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi. Masyarakat perlu mengetahui langkah evakuasi dan memastikan lingkungan tempat tinggal maupun bangunan yang digunakan dalam kondisi aman. “Apabila terjadi guncangan, segera berlindung di tempat yang aman, melindungi kepala dan tubuh dari benda yang berpotensi jatuh, serta menuju ruang terbuka setelah guncangan berakhir dengan tetap memperhatikan kondisi sekitar,” imbaunya.

BNPB bersama BPBD dan unsur terkait terus melakukan pemantauan serta penanganan terhadap kejadian bencana di daerah. Masyarakat diimbau mengikuti informasi dan arahan resmi dari BNPB, BPBD, BMKG, Basarnas serta pemerintah daerah dan segera melaporkan kondisi darurat maupun dampak bencana yang membutuhkan penanganan.(red)