- Percepatan Penanganan Karhutla Bromo Terkendala Tiga Hal
- Empat Lawang Krisis Air Bersih, Polisi Bantu Warga Terdampak Kekeringan
- Sumsel Peringkat Empat Karhutla Terluas, Pemerintah Pusat Perkuat Operasi Darat
- Bank Pelat Merah dalam Lingkar "Pelangi", Potensi Biaskan Dana Nasabah dan Uang Negara
- Mulyadi Ditemukan Tewas Mengapung di Danau Sanawal
Percepatan Penanganan Karhutla Bromo Terkendala Tiga Hal
PROBOLINGGO, SIMBUR – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Dr. Suharyanto, S.Sos., M.M., menginstruksikan percepatan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur. BNPB menargetkan seluruh titik api di kawasan lereng Gunung Bromo dapat dipadamkan secara menyeluruh dalam waktu tiga hari.
Instruksi tersebut disampaikan Kepala BNPB saat membuka Rapat Koordinasi Penanganan Karhutla TNBTS di Probolinggo, Jawa Timur, Selasa (11/8). Dalam arahannya, Suharyanto menekankan pentingnya dukungan peralatan yang memadai untuk memperkuat efektivitas dan keselamatan personel gabungan yang melakukan pemadaman di medan yang sulit dijangkau.
BNPB meminta seluruh sarana dan prasarana penanganan bencana yang tersedia di gudang BPBD segera dimobilisasi, termasuk alat pelindung diri (APD), pompa portabel, serta peralatan pendukung lainnya. Penggunaan peralatan sederhana seperti gepyok dinilai tidak lagi memadai untuk menghadapi kondisi kebakaran di kawasan dengan medan terjal.
“Penggunaan cara-cara tradisional seperti gepyok harus kita tinggalkan. Kita dukung penuh pasukan darat dari TNI dan tim gabungan dengan perlengkapan modern, APD, serta pompa portabel agar proses pemadaman berjalan efisien dan aman,” tegas Suharyanto.
Keterbatasan sumber air di lokasi kebakaran menjadi salah satu tantangan dalam operasi pemadaman. Untuk mengatasinya, BNPB menyiapkan skenario penempatan kantong air elastis atau flexible tank berkapasitas masing-masing enam ton di sejumlah titik sepanjang jalur darat utama.
Kantong air tersebut akan diisi secara berkala menggunakan helikopter water bombing sehingga dapat menjadi sumber pasokan air bagi personel pemadam di darat. Skema ini diharapkan dapat mempercepat proses pemadaman sekaligus mendukung pembasahan area yang telah terbakar guna mencegah munculnya kembali titik api.
Optimalisasi Pemadaman dari Udara
BNPB telah memobilisasi tiga unit helikopter untuk mendukung operasi pemadaman melalui udara di kawasan TNBTS. Penggunaan armada water bombing menjadi salah satu strategi utama mengingat kondisi medan yang curam dengan kemiringan lereng yang mencapai sekitar 80 derajat sehingga menyulitkan akses personel dan peralatan pemadaman melalui jalur darat.
Sementara itu, upaya pemadaman melalui hujan buatan atau Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) belum dapat dilakukan karena belum terdapat pertumbuhan awan hujan yang memadai di sekitar kawasan TNBTS. “Kita manfaatkan cuaca cerah dan optimalkan pemadaman udara (water bombing) sampai sore hari. Kita patok target, paling lambat Jumat seluruh titik api sudah padam sehingga armada pemadaman udara dapat dialokasikan untuk membackup penanganan bencana di titik rawan lainnya,” ujar Suharyanto.
Pada Selasa (11/8), operasi water bombing difokuskan pada satu titik kebakaran di Pusung Duwur, wilayah Dingklik. Selain menjatuhkan air untuk memadamkan api, operasi juga diarahkan untuk membasahi area yang sebelumnya terbakar guna mengurangi potensi munculnya kembali titik api.
Perkuat Kesiapsiagaan di Kawasan Gunung dan TPA
Kepala BNPB juga mengingatkan Pemerintah Daerah dan unsur satuan tugas penanganan karhutla di Jawa Timur untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi meluasnya kebakaran ke kawasan gunung di sekitar TNBTS, termasuk Gunung Arjuno.
Kesiapsiagaan juga perlu diperkuat terhadap potensi kebakaran di tempat pemrosesan akhir (TPA) sampah, khususnya di kawasan perkotaan. Kebakaran di lokasi tersebut dapat menghasilkan asap pekat yang berpotensi berdampak langsung terhadap masyarakat di wilayah permukiman dan perkotaan.
Untuk mengantisipasi perkembangan situasi, pemerintah daerah diminta memastikan ketersediaan sumber air dan sarana pendukung pemadaman. Langkah tersebut antara lain melalui pemetaan lokasi sumur bor baru, pengisian kolam penampungan air masyarakat, serta kesiapsiagaan armada tangki air milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Berdasarkan hasil kaji cepat per Selasa (11/8), luas area yang terbakar di kawasan TNBTS mencapai sekitar 889 hektare. Vegetasi yang terdampak antara lain cemara gunung, mentigi, akasia, dan semak belukar.
BNPB bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, TNBTS, dan unsur terkait lainnya akan terus mengoptimalkan penanganan di lapangan hingga seluruh titik api dapat dikendalikan. Masyarakat juga diimbau untuk tetap waspada dan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama di kawasan dengan kondisi vegetasi kering dan rawan terbakar.
Sementara itu, Suharyanto S.Sos., M.M., menguraikan tiga faktor utama yang memicu sulitnya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) hingga memasuki hari ke-10. Meski dihadapkan pada medan ekstrem, BNPB optimistis penanganan di dua titik utama dapat dituntaskan pada Jumat mendatang.
Usai melihat kondisi lapangan pasca-kebakaran di Probolinggo, Jawa Timur, Kepala BNPB menjelaskan kendala pertama terletak pada topografi medan yang sangat berat. Titik api berada di ketinggian dengan sudut kemiringan curam hingga 80 derajat, sehingga tidak memungkinkan bagi tim darat untuk menjangkau lokasi demi keselamatan jiwa para personel.
Kendala kedua adalah keterbatasan sumber air di sekitar lokasi kebakaran. Saat ini, pengisian air untuk armada pemadaman hanya mengandalkan pasokan dari Ranu Pani.
Adapun kendala ketiga berhubungan dengan kondisi cuaca yang belum memungkinkan untuk segera memicu hujan buatan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Kendati demikian, berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), potensi pertumbuhan awan hujan diproyeksikan terjadi pada pertengahan Agustus.
“Berdasarkan penjelasan BMKG, terdapat potensi awan hujan pada 14–16 Agustus. Jika potensi tersebut dikonfirmasi, BNPB akan segera menggelar Operasi Modifikasi Cuaca agar hujan dapat diturunkan secara optimal di area terdampak,” ujar Letjen TNI Suharyanto.
Penetapan Target dan Evaluasi Dampak Luas Lahan
Hingga saat ini, total luas lahan yang terdampak kebakaran di kawasan TNBTS mencakup 889 hektar, yang tersebar di empat wilayah administratif, yaitu Kabupaten Probolinggo, Lumajang, Malang, dan Pasuruan.
Guna memastikan percepatan pemadaman, BNPB bersama Kalaksa BPBD tingkat provinsi serta kabupaten/kota berkomitmen menyelesaikan pemadaman di Bromo sesuai target hari Jumat. Keberhasilan penanganan di Bromo akan memungkinkan redistribusi armada helikopter water bombing ke wilayah rawan bencana lainnya di Indonesia.
“Saat ini ada tiga unit helikopter water bombing yang disiagakan. Begitu dua titik di Bromo ini berhasil dipadamkan dengan target hari Jumat, dua unit armada akan segera kita geser untuk mendukung operasi pemadaman di daerah lain yang juga membutuhkan dukungan udara,” pungkasnya.(red)



