Karhutla Menggila di Pulau Kalimantan, Terdata 1.487 Hotspot

JAKARTA, SIMBUR – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis sejumlah peristiwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hebat di Pulau Kalimantan. Laporan karhutla terjadi di Kabupaten Penajam Paser Utara di Provinsi Kalimantan Timur. Lahan seluas 10,65 hektare ludes terbakar pada Rabu (19/8).

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, Ph.D mengatakan, lokasi terdampak berada di Desa Sepan, Kecamatan Penajam. “Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini,” ujarnya.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat bersama personel gabungan melakukan pemadaman api di lokasi kejadian. Pada hari yang sama, Rabu (19/8) api telah berhasil dipadamkan.

Selanjutnya, BNPB Kembali merangkum laporan karhutla pada periode pelaporan Kamis hingga Jumat, 20-21 Agustus 2026. Karhutla muncul di beberapa wilayah di Pulau Kalimantan. Di Kabupaten Paser, Provinsi Kalimantan Timur, titik karhutla kembali muncul di Kecamatan Tanah Grogot, Kecamatan Batu Sopang, dan Kecamatan Batu Engau. “Kebakaran terjadi pada Rabu (19/8) di taman konservasi dengan material lahan berupa semak belukar dan gambut. Luas lahan terbakar mencapai 25,29 hektare,” jelas Berton.

BPBD Kabupaten Paser segera menuju ke lokasi untuk melakukan pemadaman api melalui darat serta pemantauan setelah pemadaman. Api berhasil dipadamkan pada Kamis (20/8). Wilayah lain di Kalimantan Timur yang juga mengalami karhutla yang cukup masif yakni di Kabupaten Kutai Kartanegara. Pada Rabu (19/8), karhutla terjadi di beberapa wilayah yakni di Desa Loa Gagak Kecamatan Loa Kulu, Kelurahan Spontan Mangkurawang Kecamatan Tenggarong, Kelurahan Pendingin Kecamatan Sanga-Sanga, Desa Kayu Bata Kecamatan Muara Muntai, Kelurahan Muara Kembang Kecamatan Muara Jawa, serta Desa Kota Bangun Hulu Kecamatan Kota Bangun.

“Total luas lahan terbakar pada hari tersebut mencapai 49,55 hektare dengan lahan terbakar paling luas berada di Kelurahan Pendingin seluas 42 hektare,” ungkapnya.

Tim reaksi cepat BPBD Kabupaten Kutai Kartanegara bersama dengan relawan dan pemadam kebakaran segera menyebar ke berbagai titik yang masih bisa dijangkau untuk melakukan pemadaman darat. Secara visual pada Kamis (20/8) api telah berhasil dipadamkan di seluruh lokasi, kecuali di Kelurahan Pendingin. Di lokasi tersebut, dari pantauan drone masih terlihat 6-7 titik api.

Penanganan karhutla di Pulau Kalimantan masih menjadi prioritas utama pemerintah saat ini. Operasi modifikasi cuaca (OMC) pun dilakukan dengan mengerahkan 7 unit heli untuk melakukan water bombing.

Di Kalimantan Selatan BNPB mengoperasikan 1 unit heli untuk patroli, 1 unit untuk OMC< dan 3 unit untuk water bombing. Di Kalimantan Tengah, 1 unit helit difungsikan untuk patroli, 1 unit untuk OMC, dan 4 lainnya untuk operasi pemadaman udara atau water bombing, dan terakhir di Kalimantan Barat, BNPB mengoperasikan 2 unit heli untuk patroli, 1 unit untuk operasi modifikasi cuaca, dan 5 unit untuk water bombing.

Pengoperasian helikopter tersebut akan terus disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan. Sementara untuk OMC, BNPB berkolaborasi dengan BMKG untuk memantau pertumbuhan potensi awan hujan yang dapat dimanfaatkan untuk OMC.

Sebaran Hotspot Karhutla Kalimantan

Sementara itu, sebaran titik panas atau hotspot di wilayah Kalimantan masih menjadi perhatian pemerintah di tengah periode musim kemarau. Berdasarkan data pemantauan terbaru dari Satelit NOAA-20 hingga Kamis (20/8), sebaran hotspot di wilayah Kalimantan sebanyak 1.487 hotspot.

“Jumlah tersebut tersebar dengan konsentrasi tertinggi berada di Kalimantan Tengah sebanyak 767 titik. Disusul Kalimantan Barat 560 titik. Sementara itu, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur masing-masing terpantau 74 titik, sedangkan Kalimantan Utara sebanyak 3 titik,” ujarnya.

Mengantisipasi potensi meluasnya karhutla, pemerintah terus memperkuat koordinasi dan kesiapsiagaan lintas sektor. BNPB bersama pemerintah daerah melakukan pemantauan perkembangan titik panas, pemetaan wilayah rawan, serta koordinasi untuk menentukan langkah penanganan berdasarkan kondisi di lapangan.

BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi selama musim kemarau, khususnya karhutla. “Pemerintah daerah diharapkan terus memperkuat kesiapsiagaan, pemantauan, serta deteksi dini terhadap potensi karhutla dan memastikan ketersediaan sarana prasarana pemadaman,” imbaunya.

Masyarakat juga diimbau untuk tidak melakukan aktivitas pembakaran di wilayah yang rawan terbakar. “Apabila masyarakat mengetahui atau melihat kejadian kebakaran, segera melapor kepada otoritas daerah setempat agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan efektif,” serunya.(red)