- Jelang HUT Ke-81 TNI, Pangdam II/Sriwijaya Pimpin Ziarah Palagan Utama di Monpera Palembang
- Satu Korban Tewas dan Satu Warga dalam Pencarian akibat Banjir Bandang di Solok
- Tinjau Penanganan Karhutla di Habitat Gajah
- SMSI Sumsel Lantik Pengurus Delapan Kabupaten/Kota Masa Bakti 2026-2029
- Diguyur Banpres, OKI dan Muba Respons Penanganan Karhutla
Karhutla Hanguskan Lebih dari 30 Hektare Lahan di Kawasan Gunung Rinjani
JAKARTA, SIMBUR – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat, pada Jumat, (7/8), sekitar pukul 20.00 WITA. Penyebab kebakaran hingga saat ini belum diketahui dan masih dalam proses penelusuran oleh pihak terkait.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Ph.D mengatakan, laporan yang diterima Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kebakaran terjadi di kawasan Resor Sembalun, SPTN Wilayah II Balai Taman Nasional Gunung Rinjani. “Luas lahan yang terdampak diperkirakan mencapai lebih 30 hektare, namun angka tersebut masih dalam proses pendataan. Tidak terdapat laporan korban jiwa akibat kejadian tersebut,” terang Muhari, Minggu (9/8).
Dikatakannya, 22 personel dikerahkan untuk melakukan penanganan dan pemadaman pada Jumat malam. Tim gabungan yang terdiri atas unsur TN Gunung Rinjani, Masyarakat Mitra Polhut (MMP), masyarakat, siswa PKL SKMA, Polsek Sembalun, Koramil Sembalun, serta Pemadam Kebakaran Kabupaten Lombok Timur bersama-sama melakukan pemantauan, penanganan titik api, serta koordinasi perkembangan penanganan karhutla.
“Pada Sabtu, (8/8) pukul 01.30 WITA, api berhasil dikendalikan. Sebelum meninggalkan lokasi, tim melakukan pemeriksaan pada area yang telah ditangani untuk memastikan tidak terdapat titik api aktif yang masih terpantau,” jelasnya.
Sebagai langkah lanjutan, tim akan melakukan mopping up atau penyisiran dan pemadaman terhadap sisa material yang masih berpotensi menyala kembali. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi benar-benar aman sekaligus mencegah terjadinya penyalaan ulang. “Tim gabungan juga terus melakukan koordinasi, pemantauan, dan pelaporan perkembangan penanganan di lokasi,” tandasnya.(red)



