- Jon Heri Kembali Pimpin SMSI Sumsel
- Sebelas Detik Mengubah Makna: Ketika Algoritma Mengalahkan Fakta
- Jaksa Sita Truk dan Alat Berat Perusahaan Terkait Korupsi Distribusi Semen
- Pejabat Bank Tersangka Korupsi KUR di OKUT Tidak Ditahan karena Akan Menjalankan Ibadah Haji
- Diduga Menghalangi Penyidikan Kasus Korupsi, Staf Ahli Bupati Muba dan Oknum Pengacara Jadi Tersangka
Gubernur Butuh Wartawan, Profesi yang Tidak Bisa Diperjualbelikan
PALEMBANG, SIMBUR – Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru mengaku tak dapat dipisahkan dari wartawan dan media massa. Dirinya butuh media, karena menurutnya profesi wartawan tak dapat diperjualbelikan.
Hal itu diungkap Herman Deru saat merayakan ulang tahunnya yang ke-51 bersama pemimpin redaksi dan insan media di Griya Agung, Sabtu (17/11) malam. “Profesi (wartawan) ini tidak bisa diperjualbelikan. Makanya saya sangat hormat (dengan wartawan),” ungkap Gubernur Herman Deru dalam sambutannya di hadapan ratusan insan pers yang hadir.
Herman Deru menambahkan, dirinya berteman dengan wartawan tanpa batasan sejak masa belia, sebelum menjadi pengusaha, pegawai hingga menjabat kepala daerah. “Pertemanan saya dengan wartawan tak ada batasan. Hanya terkendala ruang dan waktu. Kadang agak jauh, kadang dekat,” imbuhnya.
Mantan Bupati OKU Timur itu membuktikan, tidak mudah untuk menjadi wartawan. Dirinya bahkan mengaku sempat memberikan modal kepada wartawan untuk membuat media massa namun akhirnya kandas tak berbekas. “Wartawan itu bakat, tidak hanya modal sekolah. Tidak ada wartawan jadi besar, penulis besar jika tidak dimulai dari awal,” serunya.
Masih kata Herman Deru, untuk menjadikan dirinya populer seperti sekarang, peran wartawan dan media sangat penting. Meski telah menjadi gubernur, dia tetap butuh dan tak mau dipisahkan dengan wartawan.
“Saya terima kasih kemarin (wartawan mendemo walpri yang arogan). Saya tidak bisa dipisahkan dari wartawan. Saya butuh. Siapalah Herman Deru, orang yang lahir di desa. Tak mungkin bisa populer tanpa media,” ungkapnya.
Dia menceritakan, untuk menjadi populer dan terkenal juga tidak mudah. Dikisahkannya, kalau dahulu tahun1982-1983, dirinya mau populer harus melepas knalpot motor agar suaranya terdengar besar dan menjadi pusat perhatian banyak orang. “Sekarang sudah ada media tidak perlu. Tanpa harus memotong knalpot dan memecahkan kaca, media dapat digunakan untuk populer dan mem-branding diri,” ungkap Herman Deru.
Sebelumnya, Ketua PWI Sumsel, H Ocktap Riady mengatakan, wartawan dan media siap bersinergi dengan Pemerintah Provinsi dalam melaksanakan pembangunan di Sumatera Selatan. “Kami dari media siap bersinergi dengan Pemprov Sumsel. Pers itu ikut mendorong pembangunan,” ungkap Ocktap yang kini menjabat Ketua Bidang Advokasi dan Pembelaan Wartawan PWI Pusat.
H Ocktap mengatakan, pertemuan sebelumnya saat mengkritisi arogansi oknum walpri gubernur tak sesuai protap terhadap wartawan saat melakukan peliputan tak lain membuktikan bahwa wartawan ingin bersinergi membangun Sumsel. “Kami kemarin menghadap gubernur. Kehadiran kawan-kawan ingin sinergi terus terjaga. Kami ingin Sumsel lebih berkibar. Kalau (gubernur) kemarin sudah luar biasa, (sekarang) gubernur masih muda harus bisa menbawa sumsel menjadi lebih baik,” harapnya.
Dijelaskan Ocktap, sekarang media online sudah banyak meski yang terdata resmi di Sumsel baru 75 perusahaan media siber. “Perkembangan media online sangat cepat. Kami dari media juga berbenah agar dapat membuat kami lebih profesional. Pemakaian atribut pers di lapangan, mengenalkan identitas itu penting,” tutupnya.(maz)



