Kerusakan Alam Ancam Kepunahan Manusia, Peringatan Keras untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa

PENGRUSAKAN keanekaragaman hayati di dunia harus dihentikan. Jika dibiarkan, manusia sendiri yang akan mengalami kerugian atau bisa menghadapi kematian. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) perlu diingatkan kembali. Selama dua tahun ini pengrusakan alam terjadi di berbagai negara di dunia yang akan menjadi “pembunuh senyap” dan sangat berbahaya serta dapat mematikan saat terjadi perubahan iklim.

Upaya pelestarian harus diselesaikan dalam dua tahun ke depan atau memungkinkan manusia menjadi yang pertama untuk mendokumentasikan kepunahan spesiesnya sendiri. Hal itu menjadi tamparan keras untuk Amerika Serikat dan PBB.

Jelang penyelenggaraan konferensi internasional untuk membahas runtuhnya ekosistem alam, Cristiana Pasca Palmer  mengatakan, di setiap negara harus menekan pemerintah masing-masing untuk menyusun  target global pada 2020 untuk melindungi serangga , burung , tanaman dan mamalia. Terpenting untuk produksi pangan global , air bersih dan penyerapan karbon. Kekalahan yang dialami dalam keragaman hayati adalah pembunuh senyap, di mana orang akan merasakan hal yang berdampak pada kehidupan sehari-hari .

Sebanyak 196 negara akan menghadiri pertemuan The 2018 World Youth Forum (WYF) di Sharm El-Sheikh, Mesir pada 2-6 November untuk memulai diskusi mengenai kerangka kerja yang baru untuk mengelola ekosistem alam dan satwa liar. Hal ini akan memicu ingar bingar negosiasi yang menurut Pasca Palmer akan berujung perumusan kesepakatan global secara ambisius  untuk dibawa pada konferensi berikutnya di Beijing 2020.

Para pelestari alam akan terjebak dalam sebuah kesepakatan keanekaragaman hayati. Pertemuan tersebut akan mengupas masalah yang sama terkait perubahan iklim. Sejauh ini, total masalah yang menjadi perhatian para ilmuwan setidaknya menjadi satu ancaman yang sama kepada seluruh umat manusia. Didera rasa malu berkepanjangan dan kesepakatan jika bangsa-bangsa tidak menjaga keanekaragaman hayati pada 2002 dan 2010 karena dianggap telah gagal untuk membendung langkah terburuk hilangnya kehidupan di bumi sejak kepunahan dinosaurus.

Delapan tahun lalu, di bawah kesepakatan Aichi Protokol, semua bangsa berjanji setidaknya melacak hilangnya habitat alami, menjamin program memancing berkelanjutan di semua perairan, serta memperluas cadangan sumber daya alam dari 10 persen menjadi 17 persen dari luas lahan dunia pada 2020. Akan tetapi, banyak bangsa telah berpaling, orang-orang menciptakan lebih banyak kerusakan alam, sementara polisi hutan di setiap negara tak dapat berbuat banyak. Kondisi demikian dapat ditemukan dari Brasil hingga Cina.

Masalah tersebut juga dipandang rendah dari kacamata politik. Beberapa kepala negara menghadiri pembicaraan keanekaragaman hayati. Bahkan sebelum Donald Trump, Amerika Serikat menolak untuk meratifikasi perjanjian namun hanya mengutus seorang pengamat. Bersama Vatikan, Amerika menjadi satu-satunya negara PBB yang tidak berpartisipasi dalam perjanjian tersebut.

Pasca Palmer mengatakan, masih ada seberkas harapan. Beberapa kepunahan spesies di hutan Afrika dan Asia berkurang. Wilayah laut yang dilindungi melebar. Akan tetapi, secara keseluruhan, tambah dia, kondisi ini mengkhawatirkan. Kerugian atas kerusakan alam dan keanekaragaman hayati,  kerusakan habitat, polusi kimia dan akan mempercepat spesies invasif pada tahun 30 ke depan terjadi sebagai akibat dari perubahan iklim dan tumbuh populasi manusia.

Pada 2050, Afrika memprediksi bahwa negara tersebut akan kehilangan 50 persen burung dan mamalia.  Perikanan Asia sepenuhnya runtuh. Hilangnya tanaman dan laut tak akan mengurangi kemampuan bumi untuk menyerap karbon, menciptakan lingkaran setan. “Saya berharap kepada para mantan menteri lingkungan hidup agar dapat melestarikan spesies dengan tujuan untuk mendokumentasikan serta mencegah manusia dari kepunahan,” ungkap Pasca.

Menurut Pasca, satu harapan adalah pemusatan perhatian dan makin tumbuhnya minat ilmiah dari komunitas bisnis. Bulan lalu badan PBB yang menangani masalah iklim dan keanekaragaman hayati mengadakan rapat  gabungan dengan lembaga dan para ilmuwan. Mereka menemukan bahwa solusi pelestarian alam seperti perlindungan hutan, menanam pohon di kawasan tandus, restorasi dan pengelolaan tanah diharapkan bisa memberikan sepertiga dari penyerapan karbon yang diperlukan untuk menjaga pemanasan global sesuai dalam perjanjian Paris.

Masa mendatang dua keadaan iklim dan keanekaragaman hayati harus dikaji bersama. Dia juga mengatakan politik di beberapa negara bergerak ke arah yang salah. Selain itu, ada juga pemikiran positif seperti Presiden Prancis , Emmanuel.   Dia menjadi pemimpin pertama dunia yang mencatat masalah iklim tidak bisa dipecahkan tanpa henti di tengah hilangnya keanekaragaman hayati. Hal ini akan menjadi agenda G7 Summit di Prancis. (theguardian)