Membudayakan Menulis

Katarina Retno Triwidayati MPd

(Dosen PGSD Universitas Katholik Musi Charitas Palembang)

 

 

MENULIS menjadi salah satu keterampilan bahasa yang bersifat produktif. Keterampilan berbahasa lain yang bersifat produktif adalah berbicara. Dalam kegiatan pembelajaran (bahasa), keterampilan menulis menjadi keterampilan yang sering diujikan. Lihat saja, hampir semua tes kompetensi bahasa terdapat butir soal yang meminta peserta tes untuk menuliskan gagasannya.

Menulis sebagai bentuk keterampilan

Dalam kegiatan pembelajaran, keterampilan menulis masih sebatas tugas dan keperluan ujian. Artinya, peserta didik juga baru sebatas menyelesaikan soal dengan baik dan belum (tentu) sepenuhnya terampil. Sebagai bentuk keterampilan, menulis tentunya membutuhkan proses dan latihan yang terus menerus. Peserta didik diajak untuk selalu menuangkan gagasannya baik secara tertulis.

Persoalannya, tidak semua pendidik cukup serius dengan hal ini. Hal itu bisa dipahami karena ada begitu banyak hal yang perlu mereka paparkan di kelas. Dengan demikian, kegiatan menulis kemudian berlangsung sekedarnya.

Dengan pelaksanaan sekadarnya, kemampuan menulis peserta didik pun akan jadi sekadarnya. Lebih miris lagi jika pelaksanaan kegiatan menulis itu tidak diapresiasi oleh pendidik. Peserta didik kadang merasa bingung karena hasil menulisnya bisa menadapatkan nilai tertentu tanpa tahu dari mana nilai itu berasal. Hal itu sangat biasa terjadi karena tulisan itu tidak dibaca, dinilai dengan kriteria yang jelas, apalagi dikoreksi (diperbaiki atau diberi saran perbaikan).

Literasi dan menulis

Sejalan dengan persoalan keterampilan menulis, Indonesia menghadapi persolan rendahnya tingkat literasi. Literasi yang semula hanya diartikan sebagai kemampuan membaca dan menulis permulaan, telah memiliki pergeseran makna. Dengan demikian, kegiatan literasi mengarah pada kegiatan mendapatkan informasi dan mengkajinya, serta menuliskan hasil kajian tersebut sebagai bentuk proses berpikir yang lebih kompleks.

Salah satu bentuk konkret rendahnya literasi di Indonesia adalah tingginya plagiasi. Tindakan ini tidak hanya menandakan ketidakjujuran dalam menulis. Akan tetapi, hal itu juga sekaligus menandakan rendahnya kemampuan membahasakan hasil bacaan seseorang.

Sebagaimana telah disinggung di atas, menulis merupakan proses latihan terus menerus. Kesulitannya terletak pada seberapa seseorang tahan dalam proses tersebut. Semakin sering seseorang berlatih menulis, semakin ia mengasah kemampuan menulisnya.

Hal yang juga penting dalam kegiatan ini adalah membaca. Sebagaimana dipaparkan oleh St. Kartono (guru dan penulis), kegiatan menulis akan berjalan baik jika seseorang memulainya dengan membaca. Semakin banyak yang dibacanya, semakin banyak ide yang dapat dikembangkannya menjadi tulisan.

Selain itu, seseorang perlu menempa dirinya untuk mempunyai mental berani ditolak. Sebuah tulisan tidak serta-merta menjadi bagus dan dapat diterima/ dipublikasikan secara luas. Seseorang yang punya mental yang baik, akan memperbaiki tulisannya dan akan terus melatih dirinya hingga benar-benar terampil menulis.

Subjek dan predikat

Selain kemalasan dan patah semangat, alasan lain seseorang enggan menulis adalah merasa tidak mampu merangkai kata-kata. Semakin banyak kata yang dirangkai dalam kalimat, semakin tinggi peluang kalimat tersebut menjadi kalimat tidak efektif.

Memulai rangkaian kata dengan huruf kapital dan mengakhirinya dengan tanda baca tidak serta merta menasbihkan deret kata itu sebagai kalimat. Penulis perlu mengecek ulang kalimat yang dibuatnya: apakah ada subjek dan predikat dalam kalimat itu atau tidak?

Jika deret kata tersebut belum memiliki subjek atau predikat, maka kalimat tersebut perlu diperbaiki. Inilah yang disebut dengan swasunting. Jika penulis merasa sudah sangat puas dengan tulisannya, ia bisa meminta orang lain untuk membaca tulisannya itu. Dengan mencermati masukan dari orang lain, penulis dapat melaksanakan kegiatan menyunting selanjutnya.

Role model

Selain bentuk latihan yang terus menerus, peserta didik akan semakin semangat menulis jika ia mendapatkan contoh. Figur yang bisa menginspirasi peserta didik untuk semakin rajin menulis bisa orangtuanya, bisa juga pendidiknya.

Salah satu temuan menarik diperoleh dari penelitian Prof Anita Lie dan tim (penelitian ini didanai Kemenristekdikti dengan skema PDUPT pada tahun 2018). Penelitian yang dilaksanakan di enam wilayah yang berbeda ini menggunakan tes menulis sebagai salah satu instrumen penelitiannya. Penelitian ini melibatkan 121 guru Bahasa Indonesia.

Terdapat 19 persen subjek penelitian memproduksi kalimat yang belum tepat. Hal tersebut dikarenakan tidak adanya subjek dan atau predikat dalam kalimat yang ditulis guru. Selain itu, sebanyak 28,9 persen subjek penelitian menulis satu kalimat untuk satu paragraf. Hal ini berarti subjek penelitian belum menuliskan kalimat penjelas bagi kalimat utama yang ditulisnya. Hasil penelitian tersebut menjadi gambaran bahwa masih ada guru Bahasa Indonesia yang belum sepenuhnya mampu menjadi role model kegiatan menulis. Jangankan untuk aktif menulis dan mempublikasikan tulisannya, guru tersebut masih memproduksi tulisan yang belum tepat.

Terlepas adanya kenyataan terdapat guru Bahasa Indonesia yang belum tepat dalam menulis, upaya pemerintah dalam mewujudkan Indonesia bebas iliterasi perlu kita dukung bersama. Jika para pendidik belum seluruhnya terampil menulis, kita percaya masih ada role model lain yang bisa dijadikan panutan peserta didik kita. Kalau perlu, kitalah role model tersebut walau kita bukan pendidik di suatu institusi pendidikan.

Caranya sederhana saja, biasakan untuk berbahasa Indonesia yang baik dan benar di lingkungan sekitar kita. Dengan demikian, kita berpartisipasi aktif menyelesaikan persoalan iliterasi di Indonesia tanpa sibuk mencari kesalahan pihak lain. Pertanyaannya, sudahkah kita menjadi role model itu?(*)