- Ratusan Kades Hadiri Pelantikan SMSI Lahat
- Tekankan Objektivitas dalam Sidang Pankar Pamen dan Pama Triwulan I Tahun 2026
- Satu Warga Tewas, Puluhan Pasien Rumah Sakit di Manado Dievakuasi akibat Gempa dan Tsunami
- Pastikan Aset Negara di Bawah TNI AD Tertib Administrasi dan Punya Kepastian Hukum
- Jembatan SP 4 Plakat Tinggi Ambrol, Kondisi Jalan Mendesak Diperbaiki
Ketidakharmonisan Suami-Istri, Kesamaan Motif Bunuh Diri di Sumsel dan Sumut
# Kebetulan Terjadi pada Hari yang Sama
PALEMBANG, SIMBUR – Aksi bunuh diri terjadi pada hari yang sama, Rabu (24/10) di Palembang (Sumatera Selatan) dan Samosir (Sumatera Utara). Dua peristiwa tersebut menggemparkan publik di tanah air. Peristiwa bunuh diri disertai pembunuhan itu bukan sekadar tindak pidana tapi juga menjadi masalah sosial yang cukup kompleks bagi masyarakat.
Aksi bunuh diri yang menewaskan satu keluarga dengan luka tembak dilakukan Fransiskus Xaverius Ong (45), setelah membunuh istrinya Margaret Yentin Liana (43), serta dua anaknya Rafael Fransiskus (18) dan Kathlyn Fransiskus (11). Peristiwa terjadi di rumahnya yang juga kantor CV Frantincom, Villa Kebun Sirih Blok A18 RT 05 RW 01, Jl Said Ayib, Kelurahan Bukit Sangkal Kecamatan Kalidoni, Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel). Sementara, aksi bunuh diri lainnya dilakukan James Samosir (32) setelah membunuh istrinya Lina Gultom (29) dan dua anaknya Riona Samosir (4) dan Fransiskus Isodorus Samosir (2) yang ditemukan tewas dengan kondisi luka bekas sayatan pisau. Locus delicti (tempat kejadian perkara) terjadi di Dusun Janji Mauli, Desa Tambun Sukkean, Kecamatan Onan Runggu, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara (Sumut).
Terkait dua kasus bunuh diri di Palembang dan Samosir, pakar ilmu sosial sekaligus sosiolog Sumsel Dr Saudi Berlian mengatakan, peristiwa tersebut kebetulan terjadi pada waktu bersamaan. “Kalau dibilang kompleks, bisa dikaji dengan teori (bunuh diri) suicide Emile Durkheim. Mungkin hanya kebetulan terjadi pada waktu yang bersamaan,” ungkap Saudi dikonfirmasi Simbur, Jumat (26/10).
Saudi menjelaskan, dua tindakan bunuh diri tersebut dapat dikaji secara ilmiah dengan teori bunuh diri (suicide) Emile Durkheim. “Lihat latar belakang (dua kasus bunuh diri itu) dulu. Kalau teori Durkheim memang ada, suicide. Akan tetapi, Durkheim lebih banyak mengkaji dari aspek (tekanan) struktur (regulasi). Kadang-kadang bisa juga dari aspek proses. Kalau dari struktur dilihat dari latar atau motifnya, sedangkan proses integrasi dilihat dari interaksi (relasi jarak dekat),” terangnya.
Diketahui, suicide menurut kacamata Durkheim, dapat dilihat dengan jelas apabila mencermati hubungan antara jenis-jenis bunuh diri dengan dua fakta sosial utamanya, yakni integrasi (proses) dan regulasi (struktur). Jika integrasi yang cenderung, berarti kuat tidaknya keterikatan dengan masyarakat. Sementara, jika regulasi yang lebih cenderung, berarti tingkat paksaan eksternal yang dialami oleh individu tersebut.
Penyebab bunuh diri dikaji dalam teori Durkheim, dibagi menjadi empat tipe, yaitu tipe Egoistik, Altruistik, Anomik, dan Fatalistik. Jika integrasi menurun maka termasuk tipe bunuh diri egoistik. Bunuh diri egoistik, yaitu bunuh diri yang dilakukan oleh orang-orang yang merasa kepentingan individu lebih tinggi daripada kepentingan kesatuan sosialnya.
Jika integrasi meningkat, maka termasuk tipe bunuh diri altruis.
Bunuh diri altruistis, yaitu bunuh diri karena adanya perasaan integrasi antar sesama individu yang satu dengan lainnya. Dengan demikian dapat menciptakan masyarakat yang memiliki integritas kuat.
Selanjutnya, bunuh diri anomik terjadi jika rendahnya regulasi. Bunuh diri anomik, yaitu tipe bunuh diri yang lebih terfokus pada keadaan moral individu yang bersangkutan kehilangan cita-cita, tujuan dan norma dalam hidupnya. Terakhir, bunuh diri fatalistis berkaitan dengan regulasi yang tinggi. Bunuh diri fatalistik terjadi ketika nilai dan norma yang berlaku di masyarakat meningkat dan berlebihan.
Kembali pada kiblat perkara bunuh diri di Sumsel dan Sumut terdapat perbedaan status sosial ekonomi namun memiliki kesamaan motif. Keluarga Fransiskus Xaverius Ong di Palembang berlatar belakang pengusaha dengan perekonomian tergolong mapan. Sementara, keluarga James di Samosir berlatar belakang petani dengan taraf ekonomi rendah.
Adapun kesamaan motif terdapat ketidakharmonisan antara suami-istri dalam berumah tangga dapat dialami masyarakat dari lapisan sosial ekonomi kelas bawah hingga papan atas. Fransiskus Xaverius Ong tak rela dicerai setelah dirinya diduga punya wanita idaman lain (WIL) oleh istrinya. Sedangkan, James Samosir diduga tak terima sering ditinggal istri dan anaknya yang masih balita karena diduga tak pernah memberi nafkah dan suka mabuk tuak. “Lihat kesamaan atau kemiripan motifnya. Bisa dilihat dari dua aspek tadi, struktur (regulasi) atau interaksi (proses integrasi) jarak dekat,” tutupnya. (red)



