Sempat Dikabarkan Tewas, Jumadi Selamat dari Petir

Jarang orang bisa selamat jika disambar petir. Tidak demikian dengan Jumadi, warga Desa Sri Nanti Kecamatan Pedamaran. Ia sudah bisa menggerakkan tubuhnya setelah disambar petir, Sabtu (3/3) siang.

 

RIYAN FAHRIZAL – Pedamaran

 

PALEMBANG, SIMBURNEWS – Jumadi terbaring ketika ditemui di Ruang Beda nomor 12 Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kayuagung, Senin (6/3). Didampingi sang istri, Siti Fatimah dan adiknya, Suherman, Jumadi menceritakan kemalangan yang menimpanya saat mengerjakan pembangunan bedeng di desa Sri Nanti. Menurutnya, petir yang menyambar tersebut begitu cepat.

“Waktu itu kerja sama teman, Riswan, bangun bedeng milik keluarga teman saya itu, kerjanya juga baru sekitar seminggu. Waktu kerja tiba-tiba hujan, jadi berteduh di rumah dekat tempat kami kerja, teman langsung berteduh tapi saya beresin alat dulu biar tidak basah, jadi baju bagian belakang agak sedikit basah,” ungkap pria bertubuh jangkung ini.

Setelah membereskan alat, lanjutnya, saya langsung berteduh dekat Riswan. “Tapi yang berteduh bukan cuma kami, ada tiga orang lainnya, tapi mereka berteduh di kandang kambing depan tempat kami berteduh. Kami panggil, tapi mereka tetap memilih berteduh di sana,” lanjutnya.

Selain mengajak tiga orang tersebut untuk berteduh, dirinya juga menegur seorang anak yang ada di tempat mereka agar berteduh ke tempat lain. “Kami suruh pindah karena hujannya deras dan ada petir, karena sebelum kami terkena kalau tidak salah ada tiga kali petir besar. Tak lama kemudian, tidak jauh dari tempat anak tersebut berdiri petir seperti keluar dari dalam tanah dan sempat seperti mantul ke dinding dan lantai lalu kena ke kami,” tuturnya.

“Setelah itu, saya sudah terkapar dan rasanya badan ini mati sebelah (kiri), tidak bisa digerakkan. Sedangkan kawan saya satunya masih sempat berdiri dan melihat saya yang saat itu terkapar. Saya juga tidak sepenuhnya sadar setelah terkena (petir) itu, yang saya rasakan badan ini panas, telinga berdenging dan apa ABG dibicarakan orang disekitar itu bisa saya dengar tapi tidak bisa saya jawab,” sambungnya.

Dirinya mengakui, pasca musibah tersebut, ayah dari satu anak ini hanya pasrah sambil terus berusaha untuk mengingat yang kuasa (Allah). “Selain ngigat Allah, yang ada dipikiran itu hanya keluarga, karena anak masih SD. Dan sempat dikabarkan bahwa saya ini meninggal, tapi saya tidak marah karena memang sepertinya memang itu sangat dahsyat,” jelasnya seraya mengakui saat ini hanya tinggal merasa panas dibagian dada serta sedikit luka bakar di bagian bawah punggung kiri. “Alhamdulillah masih bisa selamat.”

Masih kata Jumadi, dinding tempat dirinya dan temannya berteduh tersebut bolong akibat dihantam petir yang begitu dahsyat. “Jadi dinding itu sebelah bagian kami bolong seperti lobang bor, sedangkan di baliknya itu besar, seperti pecah,” ungkapnya.

Sementara itu, sang adik, Suherman menceritakan, pasca kejadian dirinya langsung datang ke lokasi dan mendapati sang kakak terkapar. “Datang, lihat kakak terkapar dan badannya ini berasap dan seperti ada api berwarna biru, seperti api gas itu. Jadi wajar ada yang mengatakan meninggal, tapi alhamdulillah kakak selamat,” ucapnya.

Karena saat itu masih hujan, lanjut Suherman, nunggu mobilnya cukup lama untuk bawa kakak ke rumah sakit. “Mungkin, ada sekitar satu jam baru dibawa ke IGD. Ada motor, tapi tidak memungkinkan dibawa pake motor,” katanya.

 

Ditambahkan istrinya, Siti bahwa saat itu dirinya sedang bekerja di salah satu rumah di dekat bedengnya, di kawasan Komplek DPRD OKI. “Dapat kabar langsung datang, hanya pasrah dan tidak bisa menyalahkan siapa-siapa. Hanya berdoa agar bisa selamat, cuma nangis dan berdoa, sebelumnya juga tidak ada firasat akan seperti ini,” terangnya.

Alhamdulillah bisa selamat dan mungkin dalam beberapa hari ke depan bisa segera pulang ke rumah,” pungkasnya seraya menambahkan rekan kerja Januari sudah pulang dari Rumah Sakit dan hanya menderita luka bakar di bagian punggung. (*)