Imunisasi Maut, Petugas Kerja Sesuai Protap

PALEMBANG, SIMBURNEWS – Meninggalnya Jumiarti (9) tak lama setelah mendapat imunisasi massal di sekolahnya beberapa waktu lalu, masih dalam penyidikan oleh komisi daerah tentang penanggulangan kejadian ikutan pasca imunisasi. Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Palembang, dr Hj Letizia Mkes di halaman Mapolresta Palembang, Kamis (16/11).

Dirinya menegaskan jika petugas yang melakukan imunisasi di sekolah sudah sesuai dengan prosedur tetap (protap) yang berlaku. “Itu (giat imunisasi) sudah sesuai protap karena pihak sekolah sudah memilih dan puskesmas juga sudah melakukan pemeriksaan kesehatan terhadap siswa sebelum imunisasi,” tegasnya.

Namun, saat ini pihaknya belum bisa mengambil kesimpulan penyebab kematian anak sulung Junianto dan Meisyah itu. “Itu sudah kami serahkan dan mengenai penyebabnya masih dalam penyidikan. Apakah benar karena imunisasi atau bukan itu kan belum ada buktinya,” pungkasnya.

Selain itu, pihaknya sudah bergerak cepat dengan melakukan koordinasi bersama Pemerintah kota Palembang terkait musibah tersebut. “Kemarin sudah kami bahas bersama Pemda dan masih memberikan tahap lanjutan. Karena feces nya (kotoran korban) sudah dikirim ke Jakarta untuk diperiksa,” ungkapnya.

Masih kata Letizia, pihaknya akan terus berupaya agar hal serupa tidak terulang di masa mendatang. “Kalau itu (imunisasi), hanya kepada murid yang sehat. Karena ini adalah program pemerintah dan ada Undang-Undangnya bahwa anak wajib untuk diberi imunisasi, karena imunisasi itu adalah untuk mencegah penyakit menular,” ujarnya.

“Untuk pengawasan, pihaknya akan tetap sesuai dengan protap bahwa dari dinkes membuat surat ke Puskesmas dan akan menghubungi sekolah dan pihak sekolah akan melakukan pemilihan terhadap anak-anak yang akan diberi imunisasi. Jadi, anak yang sakit tidak akan diimunisasi,” tambahnya.

Diwartakan, sebelum Jumiarti mendapatkan imunisasi di sekolahnya Madrasah Ibtidaiyah Yayasan Al Hikmah Gang Duren 7 Ulu Palembang, Jumat (10/11) masih dalam keadaan sehat. Nahas, menjelang malam, tiba-tiba kaki kiri Jumiati tidak bisa digerakkan dan mengalami kelumpuhan. Akhirnya, bocah malang tersebut dilarikan ke rumah sakit Muhammadiyah Palembang (RSMP).

Sempat dirawat selama tiga hari, tepatnya, Selasa pagi (14/11) kondisi Jumiarti semakin parah dan mengalami sesak napas, sehingga harus dibantu dengan tabung oksigen. Sekitar pukul 09.00, nyawa Jumiarti tak tertolong lagi dan meninggal dunia. (mrf)