- Benteng Kuto Besak Identitas Asli Indonesia, Dibangun Anak Bangsa dan Bukan Warisan Penjajah
- Kejaksaan Dukung Astacita Presiden, Cegah dan Berantas Korupsi dari Desa
- Cegah Atlet "Siluman", Perkuat Sistem Verifikasi Jelang Porwanas XV
- Kasdam II/Sriwijaya Ikuti Rapat Evaluasi Pembentukan Satuan Brigif, Brigif TP, Yonif, dan Yonif TP Jajaran TNI AD Tahun 2026
- Hadirkan Lima Inovasi Unggulan Pelayanan Hukum
Benteng Kuto Besak Identitas Asli Indonesia, Dibangun Anak Bangsa dan Bukan Warisan Penjajah
PALEMBANG, SIMBUR – Benteng Kuto Besak bukan sekadar bangunan fisik, melainkan ikon sejarah Kota Palembang yang kaya akan nilai budaya dan arsitektur tinggi. Hal itu diungkap Pangdam II/Sriwijaya Mayjen TNI Ujang Darwis, M.D.A saat “Topping Off Benteng Kuto Besak (BKB) Palembang” sebagai bagian dari penguatan BKB menjadi Destinasi Wisata warisan Budaya Bangsa.
Menurut Pangdam, Benteng Kuto Besak merupakan salah satu benteng di Indonesia yang dibangun sepenuhnya oleh putra-putra daerah pada masa Kesultanan Palembang Darussalam di akhir abad ke-18. “Semangat kemandirian inilah yang harus kita warisi dan jaga bersama sebagai bagian dari identitas bangsa Indonesia,” ungkap Mayjen TNI Ujang Darwis di Markas Kesdam II/Swj, Palembang, Minggu (28/6).
Pangdam menambahkan, sejumlah penataan telah dilakukan di kawasan tersebut. Mulai dari pembersihan kawasan, penataan ruang perkantoran dan ruang publik, hingga perbaikan fasilitas umum demi menciptakan lingkungan yang bersih, tertata, nyaman ASRI, modern, dan terintegrasi tanpa menghilangkan nilai-nilai sejarah para pendahulu.
“Kami dari Kodam II/Sriwijaya mendukung penuh agar Benteng Kuto Besak menjadi destinasi wisata unggulan yang membanggakan bagi masyarakat lokal maupun wisatawan,” katanya.
Langkah awal pengembangan BKB ditandai dengan pembangunan Tourist Information Center sebagai pusat informasi terpadu yang ramah bagi pengunjung. “Kami berharap Benteng Kuto Besak menjadi simbol keterpaduan antara warisan budaya masa lalu, teknologi layanan, serta kawasan perkantoran yang asri dan terintegrasi tanpa menghilangkan nilai-nilai sejarahnya,” tutupnya.
Fasilitas ini diharapkan mempermudah akses informasi masyarakat Sumatera Selatan. Meningkatkan daya tarik wisata, menjadi pusat layanan data dan pengajuan, serta membangun citra positif melalui pelayanan yang profesional.
“Kami mengajak seluruh lapisan masyarakat menumbuhkan rasa memiliki yang tinggi terhadap kawasan ini. Dengan tetap mengedepankan nilai sejarah dan kearifan lokal, hidup rukun dan tentram membangun Indonesia dari Sumatera Selatan,” imbau Pangdam.
Sementara itu, Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Dr. H. Herman Deru mengapresiasi langkah Kodam II/Sriwijaya yang melakukan penataan dan revitalisasi Benteng Kuto Besak (BKB) sebagai destinasi wisata sejarah baru di Kota Palembang. Menurut Herman Deru, upaya tersebut merupakan langkah penting dalam mengangkat kembali salah satu ikon bersejarah yang menjadi kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan.
“Ini merupakan langkah yang sangat penting, yaitu mengangkat satu titik yang sangat legendaris di Kota Palembang, yakni Benteng Kuto Besak,” ujar Herman Deru.
Ia mengatakan hampir seluruh masyarakat, mulai dari anak-anak hingga lanjut usia, mengenal nama Benteng Kuto Besak. Namun, tidak banyak yang mengetahui sejarah berdirinya benteng yang mulai dibangun pada tahun 1780 tersebut.
“Yang lebih membanggakan, Benteng Kuto Besak merupakan salah satu benteng besar yang dibangun oleh putra daerah, bukan oleh penjajah. Benteng ini dibangun untuk mempertahankan masyarakat Sumsel pada masa itu. Ini adalah warisan sejarah yang sangat berharga,” katanya.
Herman Deru menilai dibukanya kawasan Benteng Kuto Besak untuk masyarakat merupakan sebuah warisan (legacy) yang akan dikenang karena memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk lebih memahami sejarah daerahnya.
“Ini langkah yang istimewa. Saya berharap pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, Pemerintah Kota Palembang, para budayawan, hingga masyarakat dapat bersama-sama mendukung dan melengkapi berbagai fasilitas yang dibutuhkan sehingga kawasan ini benar-benar menjadi destinasi wisata sejarah yang membanggakan,” ungkapnya.
Menurut Herman Deru, menghormati sejarah tidak cukup hanya dengan mengetahuinya, tetapi juga harus diwujudkan melalui upaya menjaga dan melestarikannya. “Tidak mungkin ada masa kini tanpa masa lalu. Benteng Kuto Besak memiliki nilai sejarah, bukan hanya bagi masyarakat Palembang, tetapi juga Sumatera Selatan, bahkan Indonesia,” ujarnya.
Atas nama masyarakat Sumatera Selatan, Herman Deru menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada Pangdam II/Sriwijaya beserta jajaran yang telah berinisiatif membuka dan menata kawasan Benteng Kuto Besak agar semakin dikenal masyarakat.
Ia juga menilai revitalisasi Benteng Kuto Besak akan memperkuat sektor jasa dan pariwisata Kota Palembang. “Palembang harus menjadi kota destinasi wisata. Bukan hanya dikenal karena wisata sungainya, tetapi juga wisata sejarah dan perjuangannya. Saya meminta Pemerintah Kota Palembang turut mendukung pengembangan destinasi wisata baru ini,” tegasnya.(kbs/red)



