- Dilanda Kekeringan, Sejumlah Daerah di Indonesia Kekurangan Air Bersih
- Peringati Hari Bhayangkara Ke-80, Optimistis Kepercayaan Publik terhadap Polisi Terus Meningkat
- Dewan Pertimbangan SMSI Pusat Taufiequrachman Ruki Terima Bintang Kehormatan dari Presiden Prabowo pada Hari Bhayangkara ke-80
- Sambut Hari Bhayangkara Ke-80, Polda Sumsel Gelar Doa Bersama Lintas Agama
- Benteng Kuto Besak Identitas Asli Indonesia, Dibangun Anak Bangsa dan Bukan Warisan Penjajah
Dilanda Kekeringan, Sejumlah Daerah di Indonesia Kekurangan Air Bersih
JAKARTA, SIMBUR – Bencana kekeringan dan krisis air bersih melanda sejumlah daerah di Indonesia. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kekeringan terjadi di Provinsi Nusa Tenggara Barat, Jawa Tengah dan Jawa Barat.
Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Ph.D mengatakan, kekeringan dipicu fenomena hari tanpa hujan selama satu bulan terakhir melanda Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. “Kondisi ini menyebabkan masyarakat di lima kecamatan mengalami kesulitan memperoleh air bersih,” ungkapnya.
BPBD Kabupaten Lombok Barat melaporkan per Selasa (23/6), sebanyak 4.245 kepala keluarga (KK) terdampak kejadian ini, antara lain 1.357 KK di Desa Sekotong Barat, Kecamatan Sekotong; 306 KK di Desa Jembatan Gantung, Kecamatan Lembar; 500 KK di Desa Banyu Urip dan 718 KK di Desa Giri Tembesi, Kecamatan Gerung; 630 KK di Desa Kuripan Selatan, Kecamatan Kuripan; serta 734 KK di Desa Persiapan Penanggak, Kecamatan Batulayar.
BPBD Kabupaten Lombok Barat mengerahkan empat unit mobil tangki air masing-masing berkapasitas 5.000 liter untuk mendistribusikan air bersih ke Kecamatan Kuripan. Selain itu, BPBD berkoordinasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Lombok Barat, PDAM Giri Menang Mataram. Termasuk sektor dunia usaha lainnya untuk memaksimalkan pendistribusian air bersih melalui penambahan armada mobil tangki air maupun pasokan air bersih.
“Masyarakat diharapkan menggunakan air bersih secara bijak serta segera melaporkan kepada pemerintah daerah atau BPBD setempat apabila mengalami gangguan pasokan air bersih,” ujarnya.
Hingga Selasa (23/6), berdampak pada 4.245 kepala keluarga atau 12.008 jiwa, dengan distribusi air bersih hingga 24 Juni 2026 yang telah menjangkau empat desa dan sembilan dusun dengan total volume 450.000 liter.
Kekeringan masih mendominasi di sejumlah daerah seiring meningkatnya wilayah yang memasuki musim kemarau. Sejumlah kejadian baru tercatat dalam periode ini. Kekeringan melanda Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah, pada Selasa (23/06), berdampak pada 42 kepala keluarga atau 125 jiwa di Desa Ketoyan, Kecamatan Wonosegoro. BPBD Kabupaten Boyolali telah menyalurkan bantuan air bersih yang dilaporkan tersalurkan secara merata, aman, dan tertib kepada seluruh warga yang membutuhkan.
BNPB juga terus memantau perkembangan sejumlah kejadian bencana yang masih dalam penanganan. Di Provinsi Jawa Barat, kekeringan yang mulai terjadi sejak Selasa, (9/6), melanda Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Bogor.
Di Kabupaten Bekasi, bencana ini berdampak pada 2.172 kepala keluarga atau 5.425 jiwa, dengan status siaga darurat yang telah ditetapkan sejak 10 Juni hingga 30 September 2026. BPBD Kabupaten Bekasi telah mendistribusikan 5.000 liter air bersih kepada 30 kepala keluarga atau 85 jiwa di Desa Ridogalih, Kecamatan Cibarusah, dengan total akumulasi distribusi mencapai 130.000 liter.
Selanjutnya, bencana kekeringan di Kabupaten Bogor berdampak pada 1.141 kepala keluarga atau 4.092 jiwa, dengan status siaga darurat yang juga berlaku sejak 10 Juni hingga 30 September 2026. BPBD Kabupaten Bogor terus menyalurkan bantuan air bersih, termasuk 5.000 liter yang telah didistribusikan ke wilayah Kecamatan Nanggung.
Kekeringan di Kabupaten Banjarnegara yang terjadi pada periode Juni 2026 berdampak pada 339 kepala keluarga atau 2.069 jiwa, dengan status siaga darurat yang telah ditetapkan sejak 22 Juni hingga 19 September 2026, dan BPBD setempat telah mendistribusikan 6.000 liter air bersih.
Kekeringan juga melanda Kabupaten Klaten pada periode Juni 2026 dengan dampak mencapai 2.161 kepala keluarga atau 6.859 jiwa, di mana distribusi air bersih hingga 24 Juni 2026 telah mencapai 121 tangki atau setara dengan 605.000 liter air.
Selain itu, kekeringan di Kabupaten Cilacap yang terjadi sejak (9/6) berdampak pada 667 kepala keluarga atau 2.386 jiwa, dengan BPBD setempat yang telah menyalurkan 25.000 liter air bersih kepada 523 kepala keluarga atau 1.932 jiwa di Kecamatan Adipala, Patimuan, Kampung Laut, dan Gandrungmangu.
BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kekeringan yang diperkirakan masih berlangsung di sejumlah wilayah Indonesia. Pemerintah daerah diharapkan terus memastikan ketersediaan air bersih bagi masyarakat terdampak serta memperkuat langkah mitigasi untuk mengurangi risiko bencana.
“Masyarakat juga diimbau untuk menggunakan air secara bijak, serta segera melaporkan kepada pihak berwenang apabila menemukan potensi kebakaran hutan dan lahan maupun kondisi yang dapat memicu terjadinya bencana,” imbaunya.
Kekeringan melanda Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat, pada Sabtu (27/6). Peristiwa ini dipicu oleh kondisi musim kemarau yang mengakibatkan berkurangnya debit sumber air bersih yang digunakan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Peristiwa ini melanda Desa Ridogalih, Kecamatan Cibarusah, dan menyebabkan 160 kepala keluarga (KK) terdampak. Menindaklanjuti kejadian tersebut, BPBD Kabupaten Bekasi segera melakukan asesmen dan berkoordinasi dengan aparat desa setempat guna melaksanakan pendistribusian air bersih kepada warga terdampak.
Selanjutnya, krisis air bersih terjadi di Kota Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat, akibat intensitas hujan yang sangat rendah dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut mengakibatkan berkurangnya ketersediaan debit sumber air bersih yang selama ini digunakan masyarakat. Kejadian ini dilaporkan pada Jumat (26/6).
Peristiwa ini melanda Kelurahan Tanjung, Paruga, dan Pane di Kecamatan Rasanae Barat; Kelurahan Sambinae, Panggi, Manggemaci, dan Monggonao di Kecamatan Mpunda; Kelurahan Rontu di Kecamatan Raba; serta Kelurahan Melayu di Kecamatan Asakota.
Kejadian ini berdampak pada sekitar 1.129 kepala keluarga (KK). Hingga saat ini tidak dilaporkan adanya korban jiwa maupun kerugian materiil akibat kejadian tersebut. Sebagai upaya penanganan, BPBD Kota Bima segera melakukan asesmen dan koordinasi lintas instansi serta telah melaksanakan pendistribusian bantuan air bersih kepada masyarakat terdampak sebanyak 70.000 liter.
Masyarakat diharapkan senantiasa memantau informasi cuaca dan peringatan dini dari instansi berwenang, menggunakan air secara bijak di wilayah yang mengalami keterbatasan pasokan air bersih, serta segera melaporkan kepada aparat setempat apabila menemukan potensi bahaya atau kondisi darurat. “Kesiapsiagaan dan partisipasi seluruh pihak menjadi kunci dalam mengurangi risiko bencana serta meminimalkan dampak yang ditimbulkan,” katanya.
Laporan selanjutnya, kekeringan terjadi di Kota Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, pada Selasa (30/6). Sebanyak 150 kepala keluarga (KK) terdampak di Desa Cikundul, Kecamatan Lembur Situ. BPBD Kota Sukabumi mendistribusikan 12.000 liter air bersih dengan mengerahkan tiga truk tangki berkapasitas 4.000 liter. Kebutuhan air bersih telah didistribusikan ke penampungan air (toren) bagi masyarakat di wilayah terdampak.
Menyikapi potensi bahaya hidrometeorologi kering, khususnya kekeringan, BNPB mengimbau masyarakat agar menggunakan air secara bijak dan menghemat pemakaiannya sesuai kebutuhan. Penyaluran air bersih menggunakan mobil tangki merupakan upaya penanganan sementara untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak. “Apabila masih terdapat peluang hujan, masyarakat dapat menampung air hujan sebagai cadangan untuk digunakan saat pasokan air bersih terbatas,” ungkapnya.(red)



