- Total 520 Karhutla di Sumsel, Hanguskan Lahan 664,87 Hektare di 12 Kabupaten
- Modifikasi Cuaca Atasi Titik Panas, Waspada Karhutla dan Penurunan Kualitas Udara di Sumsel
- Curah Hujan Tinggi, Banjir Rendam Kota Padang
- Ahli Waris Almarhum Haji Alim Sepakat Kembalikan Kerugian Negara Rp127 Miliar
- Gairah Asisten Virtual dan Platformisasi, Godaan Baru Profesional Komunikasi
Modifikasi Cuaca Atasi Titik Panas, Waspada Karhutla dan Penurunan Kualitas Udara di Sumsel
PALEMBANG, SIMBUR – Titik panas meningkat drastis di Provinsi Sumatera Selatan. Data dari satelit NASA NOAA20 mencatat ada 46 titik panas atau hotspot pada 2 Agustus 2026. Meningkat menjadi 104 titik panas pada 3 Agustus 2026. Terkait itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kembali menggelar operasi modifikasi cuaca (OMC). Terutama dalam penanganan darurat bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Pesawat OMC terpantau mulai beroperasi dari Lanud Sri Mulyono Herlambang, Palembang. Pelaksanaanya mendapat dukungan dari TNI AU di Lanud setempat, BMKG dan BPBD provinsi. Pada Selasa (4/8) BNPB melaksanakan penerbangan OMC sebanyak satu sorti dengan penyemaian 1.000 kg bahan semai di wilayah Ogan Komering Ilir dan Ogan Ilir. OMC dengan pesawat fixed wings ini berhasil menjadi hujan dengan intensitas ringan di wilayah tersebut.
Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman mengatakan, modifikasi cuaca berlangsung mulai 4 Agustus 2026. Sebelumnye BNPB pernah menggelar operasi serupa pada 5- 14 Mei 2026. Operasi kali ini mendukung upaya penanganan karhutla di Sumsel yang meningkat beberapa hari terakhir. “Lima hari. Mulai 4 – 8 Agustus 2026. Melihat potensi awan yang ada untuk disemai menjadi hujan berdasarkan info Tim BMKG Pusat,” ungkap Sudirman kepada Simbur, Rabu (5/8).
Ditanya soal karhutla, Sudirman belum memberikan keterangan. Termasuk menyampaikan data perkembangan karhutla Sumsel hingga awal Agustus 2026, saat memasuki puncak musim kemarau.
Sebelumnya, Kepala BNPB, Letjen TNI Dr Suharyanto SSos MM., dalam rapat internal dengan para unsur pengarah, pejabat eselon I, dan eselon II BNPB di Jakarta belum lama ini menyatakan bahwa OMC merupakan salah satu upaya untuk mendukung penanggulangan karhutla pada enam provinsi prioritas di Indonesia. Daerah tersebut memiliki lahan gambut yang luas dan sangat sulit dipadamkan apabila terjadi kebakaran yang cukup masif. Salah satunya di Provinsi Sumatera Selatan.
“Pada 28 Juli 2026, Presiden Prabowo menggelar rapat terbatas bersama sejumlah anggota Kabinet Merah Putih di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, termasuk kami, BNPB, yang diundang dalam rapat tersebut. Dalam rapat tersebut, Kepala Negara menginstruksikan jajarannya untuk mengambil langkah-langkah strategis menghadapi potensi dampak musim kemarau yang beriringan dengan fenomena El Nino,” ujar Suharyanto.
Fokus utamanya, lanjut Suharyanto, pada upaya menjaga ketersediaan air dan mencegah kebakaran hutan serta lahan. Arahan Presiden salah satunya untuk tetap melaksanakan OMC di enam provinsi prioritas. “Menindaklanjuti arahan presiden, BNPB kembali menggelar OMC di Sumatera Selatan. Tentunya dengan pertimbangan masih ada cukup awan yang disemai sesuai dengan rekomendasi BMKG,” ujar Suharyanto.
Terkait ancaman karhutla yang dapat diperburuk dengan adanya fenomena El Nino, Gubernur Sumatera Selatan telah menetapkan status siaga darurat bencana asap akibat karhula di wilayahnya. Status ini telah berlaku mulai 22 April 2026 sampai dengan 30 November 2026. Gubernur juga sudah bersurat kepada Kepala BNPB meminta dukungan OMC di wilayah Sumatera Selatan.
Menyikapi akan masuknya musim kemarau yang berpotensi mengakibatkan buruknya bencana asap akibat karhutla, BNPB menekankan kembali instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2020 tentang Penanggulangan Karhutla. BNPB mengimbau, pemerintah daerah bersama masyarakat dan pelaku usaha kehutanan dan pertanian dapat bekerja sama dalam pencegahan dini.
El Nino Aktif pada Level Kuat
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Dr Wandayantolis, S.Si., M.Si. mengatakan, El Nino telah aktif pada level kuat dan berpotensi mencapai sangat kuat. Meski terjadi El Nino, kata dia, BMKG prediksi kemarau 2026 tidak akan sekering 1997 ataupun 2015.
“Puncak kemarau di Sumatera Selatan pada Agustus-September. Kemarau diprediksi hingga pertengahan Oktober. Akan tetapi intensitas hujan masih rendah, belum efektif menghentikan kemunculan hotspot,” ungkap Dayan, sapaan Wandayantolis kepada Simbur.
Saat ini, lanjut dia, Hari Tanpa Hujan (HTH) di Sumsel ada yang mencapai 40 hari. Sebagian besar 6-10 HTH karena terputus oleh adanya hujan karena modifikasi cuaca pada 19-30 Juli 2026. “Meski sempat terjadi hujan, secara akumulasi curah hujan Juli sebagian besar di bawah normal atau lebih rendah dari rata-rata.
Dayan menambahkan, Stasiun Klimatologi Sumatera Selatan terus melakukan pemantauan perkembangan musim kemarau. Pihaknya mengimbau masyarakat serta sektor terkait untuk tetap memperhatikan informasi iklim terbaru sebagai dasar perencanaan kegiatan dan kewaspadaan terhadap dampak musim kemarau.
Pihaknya juga mengimbau warga agar tidak melakukan pembakaran lahan, menghemat penggunaan air, serta menjaga kesehatan saat suhu dan polutan meningkat di musim kemarau. Selain itu, mengakses kanal resmi BMKG untuk informasi cuaca dan iklim terkini.
“Tetap produktif dan cepat beradaptasi ditengah kondisi cuaca iklim yang kurang bersahabat. Di samping itu, mengikuti arahan dan imbauan dari pemerintah daerah setempat terkait pencegahan Karhutla,” imbaunya.(red)



