Wacana Wangsa Warmadewa dalam Konteks Kekuasaan, Memperkuat Alam dan Budaya Bali sejak Abad Ke-9

Setelah masa Jayasingha Warmadewa, kerajaan Bali dipimpin Sang Ratu Sri Janasadhu Warmadewa (975 – 983 M). Diketahui dari prasasti Sembiran AII (897 Saka). Prasasti tersebut kembali mengenai penduduk desa Julah kuno yang kembali dari pengungsiannya diizinkan memperbaharui isi prasastinya.

Selanjutnya, ketentuan dalam prasasti itu harus dipatuhi dan jangan diubah-ubah lagi. Dalam prasasti itu antara lain ditetapkan bahwa jika ada kuil, pekuburan, pancuran, permandian, prasada, dan jalan raya di wilayah itu mengalami kerusakan, supaya diperbaiki serta dibiayai secara bergilir oleh penduduk desa Julah, Indrapura, Buwundalm, dan Hiliran.

Tjok menerangkan, konsep budaya di Bali hampir sama, bagaimana masyarakat mengembalikan pancamahabhuta (menghidupkan lima unsur yang ada dalam diri manusia). Terdiri dari Teja (api), Bayu (udara), Pertiwi (tanah), Apah (air), dan Ahasa (ruang hampa). “Jika ada yang meninggal, tinggal memilih mengembalikan pancamahabuta kepada asalnya, ada yang dilakukan dengan cara mengubur, membakar, atau larung,” jelas Tjok.

Setelah masa Sri Janasadhu Warmadewa, Bali dipimpin Sri Maharaja Sri Wijaya Mahadewi (983 – 989 M). Dia menerapkan sistem pemerintahan Bali sesuai dengan sistem pemerintahan di Jawa. Beberapa ahli memperkirakan ratu ini adalah putri dari Mpu Sindok dari kerajaan Medang. Sejumlah ahli bahkan menyebut Sri Wijaya Mahadewi itu adalah putri Mpu Sindok yang aslinya bernama Sri Isyana Tunggawijaya.

Satu-satunya prasasti sebagai sumber sejarah ratu ini adalah prasasti Gobleg, Pura Desa II (905 Saka). Ratu ini memberi izin kepada penduduk desa Air Tabar, yang merupakan pamong kuil Indrapura di Bukittunggal di wilayah desa Air Tabar, untuk memperbaharui prasastinya (mabharin pandaksayan na). Ratu ini tidak menggunakan identitas dinasti Warmadewa.

Kerajaan Bali selanjutnya dipimpin pasangan Sri Gunapriyadharmapatni dan suaminya Sri Dharmodayana Warmadewa atau Dharma Udayana Warmadewa (989 – 1011 M). Pasangan tersebut memiliki putra, yakni Airlangga dan Anak Wungsu.

Sejumlah pakar mengungkap Dharma Udayana Warmadewa adalah anak seorang putri Campa atau Kamboja. Saat Bali mengalami kekacauan sekitar tahun 970, menyebabkan putri yang dalam keadaan hamil itu melarikan diri ke Jawa dan melahirkan adalah Udayana. Udayana kemudian menikah dengan Mahendradatta.

Pada masa pemerintahan Raja Udayana,
Pulau Bali aman dan sejahtera tidak ada perselisihan semua umat menekuni nyanyian keagamaan, demikian pula para Pendeta Siwa, Budha, Resi dan para Ahli (Mpu), selalu melaksanakan Api Kurban (homa), mengucapkan Weda mantra, suara genta mengalun memuja kebesaran Sang Hyang Widhi serta para dewata.