Wacana Wangsa Warmadewa dalam Konteks Kekuasaan, Memperkuat Alam dan Budaya Bali sejak Abad Ke-9

Sri Kesari Warmadewa mendirikan istana di desa Besakih bernama Singhadwala atau Singhamandala. Dia tekun beribadat, memuja dewa-dewa yang berkahyangan di Gunung Agung. Tempat peribadatan Sri Kesari Warmadewa terdapat di danau bernama “Pemerajan Selonding”. Di sana terdapat peninggalannya sebuah “lonceng” dari perunggu yang didatangkan dari Kamboja. Lonceng itu digunakan untuk memberikan isyarat agar para biksu Buddha dapat serentak melakukan kewajibannya beribadat di biaranya masing-masing. Benda itu kini disimpan di Desa Pejeng, Gianyar pada sebuah pura yang bernama “Pura Penataran Sasih”. “Kami warga asli Bali membuat pelinggih, bagaimana kami berkomunikasi (dengan Sang Pencipta),” ujar Tjok.

Setelah Sri Kesari Warmadewa mangkat pada tahun Saka 837/915 maka digantikan putranya Sri Ugrasena Warmadewa (915-942M) sebagai Raja di Bali. Selama masa pemerintahannya, Ugrasena membuat beberapa kebijakan dengan politik pintu terbuka, di antaranya pembebasan beberapa desa dari pajak sekitar tahun 837 Saka atau 915.

Berkaitan erat dengan aspek kehidupan beragama, Raja Ugrasena yang beragama Buddha memberikan izin kepada penduduk desa Haran dan Parcanigayan untuk memperluas pasanggrahan dan bangunan suci Hyang Api di desa masing-masing. Keberadaan penduduk desa Tamblingan sebagai jumpung Waisnawa ”sekte Waisnawa”, serta kaitannya dengan bangunan suci Hyang Tahinuni, juga mendapat perhatian dari Raja Ugrasena.

Ugrasena putra Kesari Warmadewa dekat dengan keturunan Wangsa Keling atau Kalingga atau dikenal dengan nama Wangsa Sanjaya yang berasal dari India Selatan. Pada masa ini agama Buddha mulai masuk ke Bali setelah terlebih dahulu berkembang di Jawa. Akan tetapi, tahun saka 888 tidak terdengar lagi raja Singamandawa dari Wangsa Sanjaya karena banyak prasasti yang dikeluarkan semuanya dari Wangsa Warmadewa.

Setelah Sri Ugrasena Warmadewa wafat, Kerajaan Bali diteruskan Sang Ratu Sri Haji Tabanendra Warmadewa (955-974 M). Keturunan wangsa Warmadewa, Raja Tabanendra Warmadewa ini tetap menghormati Sang Ratu Ugrasena. Pindahnya tampuk kekuasaan dari Raja Ugrasena ke tangan Tabanendra Warmadewa, maka berakhir pula masa kedinastian Wangsa Sanjaya di Bali yang kembali digantikan Wangsa Warmadewa.

Dia memerintah bersama permaisurinya, yaitu Sri Subhadrika Dharmadewi, tahun 877-889 Saka (955-967). Prasasti dinasti ini ditemukan di daerah Kintamani. Raja Tabanendra Warmadewa memerintahkan sejumlah tokoh agar menangani pemugaran pesanggarahan di Air Mih.

Pengganti Tabanendra Warmadewa adalah raja Jayasingha Warmadewa (960 – 975 M). Raja ini dapat diketahui dari prasasti Manukaya (882 Saka). Dalam prasasti itu dimuat perintah raja untuk memugar Tirtha di (Air) Mpul (sekarang Tirtha Empul di Tampaksiring).

“Air penting sekali bagi siapa pun di muka bumi. Di mana ada kehidupan, di situ ada air. Di samping untuk kehidupan, air juga untuk menyucikan diri. Ada doanya dan kidungnya. Tentu air bagi kami (orang Bali) harus dimuliakan. Bagaimana menyucikan diri sendiri dalam doa-doa. Air yang berisi doa beda dengan air biasa. Pernah diteliti orang Jepang. Air yang berisi doa jauh lebih banyak kandungan oksigennya,” ujar Tjok.